Dituduh Ortu Pelaku Pelecehan Mahasiswa FH UI, Ibu Ini Diteror, Anak Malu, Ternyata Salah Sasaran
ninda iswara April 16, 2026 07:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) memicu gelombang kemarahan publik di media sosial.

Di tengah situasi tersebut, nama Ika Dwi Susanti justru ikut terseret dan menjadi sasaran serangan netizen.

Ia dituding sebagai salah satu orangtua dari pelaku, meski tuduhan itu tidak berdasar.

Akibatnya, Ika mengaku menerima berbagai bentuk serangan yang datang tanpa henti.

Tidak hanya itu, data pribadinya seperti alamat rumah dan kantor bahkan ikut disebarluaskan oleh oknum di internet.

Menurutnya, tindakan tersebut sudah melampaui batas dan masuk dalam kategori teror.

Baca juga: Sebar Chat hingga Kalimat Tak Pantas, Peran 16 Pelaku Pelecehan FH UI, Danu Lecehkan Kakak Sendiri

Ika pun akhirnya angkat bicara untuk meluruskan kesalahpahaman yang beredar.

Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan para pelaku dalam kasus tersebut.

“Saya mau klarifikasi. Mereka itu salah menyerang orang. Saya ini bukan orang tua pelaku, saya ini orang tua mahasiswa. Anak saya perempuan, sedangkan pelaku semuanya laki-laki, jadi tidak mungkin anak saya pelaku,” ujarnya saat dihubungi TribunJakarta.com, Rabu (15/4/2026).

Melalui klarifikasi ini, Ika berharap publik lebih berhati-hati dan tidak mudah menyebarkan tuduhan tanpa fakta yang jelas.

Bukan Grup Orangtua Pelaku

Ika menjelaskan percakapan yang beredar di media sosial bukan berasal dari grup orangtua pelaku, melainkan dari grup WhatsApp orangtua mahasiswa FH UI.

Di grup itu, Ika memang turut mengomentari kasus tersebut sebagaimana tangkapan layar yang beredar di media sosial.

Ika mengaku tidak mengenal pihak yang pertama kali menyebarkan tangkapan layar percakapannya hingga akhirnya viral.

“Yang screenshot itu tidak menyensor nomor WhatsApp saya, jadi tersebar luas berikut nomor saya. Dari situ akhirnya viral dan banyak yang menyerang saya,” jelasnya.

Diteror dan Alami Tekanan Psikologis

Sejak viral, Ika mengaku mengalami tekanan mental yang cukup berat.

Ia bahkan enggan membaca komentar di media sosial karena dinilai sangat menyerang secara personal.

“Saya shock. Saya tidak kuat melihat komentar-komentarnya. Kalimatnya menyerang sekali,” katanya.

Tak hanya di media sosial, Ika juga menerima banyak pesan langsung berisi tuduhan hingga ancaman.

“Ada yang bilang dalam waktu dua jam saya harus klarifikasi. Bahkan ada yang menyebarkan foto rumah saya di media sosial,” ungkapnya.

Menurut Ika, situasi ini semakin membesar seperti “bola salju” karena konten yang terus diunggah ulang oleh berbagai pihak, termasuk di platform seperti TikTok dan X.

"Makin ke sini, makin banyak WhatsApp yang masuk, ternyata mereka sana mereka bikin video, nanti di-repost lagi, di-repost lagi sama orang-orang dan di komen-komen itu mereka cantumin nomor WA saya lagi," papar Ika.

Baca juga: Pelaku Pelecehan FH UI Klaim Punya Bekingan, Ini Profesi Ortu, Wakil Ketua BEM: Seolah Kebal Hukum

KASUS FH UI - Viral curhatan orangtua mahasiswa FH UI tak terima chat pelecehan seksual tersebar hingga disorot se-Indonesia, malah salahkan penyebarnya. (X /)

Pilih Diam

Meski mendapat tekanan, Ika memilih untuk tidak membalas atau melakukan klarifikasi langsung di media sosial.

“Saya takut kalau saya klarifikasi malah jadi bulan-bulanan lagi. Saya sempat jelaskan ke beberapa yang japri ke nomor saya. Tapi mereka tetap saja tidak mau mengerti, tetap menganggap saya orang tua pelaku dan pokoknya saya itu salah,” ujarnya.

Ia juga belum mengambil langkah hukum dan memilih menyelesaikan masalah ini secara tenang.

“Saya tidak mau memperpanjang. Saya juga bekerja sebagai notaris, ada kode etik. Saya tidak ingin dianggap mencari perhatian atau memanfaatkan situasi,” katanya.

Dampak ke Keluarga dan Pekerjaan

Kasus ini turut berdampak pada keluarganya dan pekerjaannya sebagai notaris.

Ika bercerita anaknya sempat ingin tidak masuk kuliah karena kasus ini.

“Anak saya sampai bilang mau tidak kuliah karena malu. Tapi kami beri penguatan bahwa kami tidak salah,” tutur Ika.

Beruntung, anaknya akhirnya tetap berkuliah setelah mendapat dukungan dari teman-temannya.

Sedangkan untuk urusan pekerjaan, kini kantor notaris milik Ika juga turut dirujak netizen.

"Pokoknya semua diserang netizen, dianggapnya saya ini salah. Sampai beberapa kolega juga sampai nanya ke saya, untungnya mereka paham kalau ternyata saya ini korban salah sasaran," papar Ika.

Pesan untuk Netizen dan Konten Kreator

Berkaca dari kasus yang dialaminya, Ika berharap masyarakat lebih bijak dalam menggunakan media sosial.

“Saya ingin netizen lebih dewasa, jangan mudah terpengaruh dan langsung menghujat. Harus klarifikasi dulu sebelum menilai,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para konten kreator agar tidak sembarangan menyebarkan informasi tanpa verifikasi.

“Jangan asal repost atau membuat konten tanpa klarifikasi. Itu bisa merugikan orang lain,” tegasnya.

(TribunTrends/TribunBogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.