Tiap Hari 28 Warga Malaysia Kena Gagal Ginjal dan Harus Cuci Darah
GH News April 16, 2026 10:09 AM
Jakarta -

Malaysia belakangan disorot lantaran mencatat lonjakan kasus gagal ginjal, terlihat dari pembiayaan layanan kesehatan tersebut yang mencapai RM 3,3 miliar atau Rp 11 triliun, meningkat tajam dari semula RM 572 juta pada 2010 atau lebih dari Rp 1 triliun.

Menteri Kesehatan Malaysia Datuk Seri Dr Dzulkefly Ahmad mengungkap lebih dari lima juta orang di Malaysia menghadapi kondisi ini. Prevalensi penyakit ginjal kronis juga melambung tinggi dari sembilan persen pada 2011 menjadi 15,5 persen di 2025.

Menurutnya, kebanyakan pemicu gagal ginjal dikaitkan dengan komplikasi diabetes. Pemerintah juga mulai menaikkan cukai minuman manis, untuk menekan konsumsi minuman tinggi gula.

Di sisi lain, pajak tersebut menghasilkan pendapatan sebesar RM 54,9 juta Rp 186 miliar tahun lalu, dengan RM 21 juta atau Rp 71,4 miliar di antaranya dialokasikan kembali ke kementerian kesehatan.

"Setiap hari, 28 warga Malaysia didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus memulai pengobatan dialisis," beber dia, dikutip dari media lokal.

Ia memperingatkan penyakit ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup, tetapi juga memberikan tekanan finansial besar bagi negara.

"Jika kita gagal bertindak tegas sekarang, lebih dari 106.000 warga Malaysia akan membutuhkan perawatan dialisis pada 2040," katanya.

Dana dari cukai minuman manis juga digunakan untuk membiayai obat Sodium-Glucose Transport Protein 2 (SGLT2) inhibitor, kelompok obat yang terbukti membantu mengobati diabetes serta mengurangi risiko komplikasi penyakit ginjal.

Kementerian juga mendorong kebijakan peritoneal dialysis first, yaitu mengutamakan pasien yang memenuhi syarat untuk menjalani dialisis di rumah.

Pendekatan ini bertujuan mengurangi kepadatan di pusat perawatan, menekan biaya kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pada 2025, kementerian mengalokasikan RM 40 juta untuk dialisis peritoneal, dengan tingkat penggunaan meningkat menjadi 42 persen pasien di fasilitas kesehatan publik, dibandingkan 36,6 persen pada 2020.

Saksikan Live DetikPagi:

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.