Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Seorang petani milenial di Desa Maukabatan, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT bernama, Sancho Soares Marques mengisahkan perjalanan panjang kisah hidupnya dari pegawai honorer menjadi petani sukses.
Usai menuntaskan pendidikan dengan Program Studi Pertanian di Kediri, ia fokus menjadi petani di wilayah Naibonat, Kabupaten Kupang. Kendati demikian, ia kemudian menjadi pegawai di Dinas Pertanian (fasilitator desa) berkat dorongan dari orangtuanya.
"Karena dorongan dari orang terdekat saya maka saya ikut (menjadi pegawai) dulu," ujarnya saat ditemui POS-KUPANG.COM, Senin, 13 April 2026.
Selama menjadi pegawai selama 1 tahun, hasil yang diperoleh tidak cukup. Saat itu keluarganya sadar bahwa, jalan hidup yang dipilih oleh Sancho sebelumnya jauh lebih menyejahterakan.
Sancho rela menjadi pegawai demi membuktikan kepada keluarganya bahwa jika menjadi pegawai, ia bakal tidak bisa menyejahterakan mereka.
Sancho memantapkan hati menjadi petani sejak pertama kali memutuskan masuk ke Program Studi Pertanian saat kuliah. Kendati demikian, ia bertekad menjadi petani dengan ilmu pengetahuan.
Baca juga: YKPA Mitra Childfund Internasional Indonesia Selebrasi Akhir Pendampingan di TTU
Setelah itu, Sancho sempat menjadi staf ahli seorang senator, manager pada salah satu yayasan yang mengurus secara khusus tentang dunia pertanian.
"Kebetulan kembali ke sini, saya dapat momennya sudah pas, lahannya sudah ada, ya sudah saya terjun kembali ke dunia pertanian," ujarnya.
Selain menjadi petani, Sancho sekaligus menjadi pemerhati dunia pertanian, fasilitator, dan jadi pengatur untuk diri sendiri. Momentum ini tidak pernah disia-siakan.
Sebelum fokus di dunia pertanian, Sancho sempat ambil bagian bersama Tim Developer Pembangunan Politeknik Ben Mboi Universitas Pertahanan Belu yang dipimpin oleh seorang pria bernama Jho. Beliau merupakan seorang mentor sekaligus pemerhati di dunia pertanian.
Pada tahun 2022, setelah membeli lahan di Desa Maukabatan, Sancho mulai merintis usaha pertanian di wilayah itu. Pada mulanya, Sancho membeli lahan seluas 6,5 hektare. Mengingat luas lahan tersebut tidak cukup untuk pengembangan pertanian, ia kemudian membeli 16,5 hektare lahan di lokasi yang sama.
Dengan demikian, Sancho menggarap lahan seluas 23 hektare. Selain menggeluti dunia pertanian, di lahan yang sama Sancho membuka peternakan terpusat dimana ia beternak sapi, babi dan ayam.
Lahan itu, sebelumnya merupakan hutan gewang (Latin; Corypha utan L; salah satu jenis pohon yang tumbuh di daratan Pulau Timor, NTT). Sancho memiliki basic ilmu pertanian bahkan sampai proses ekstensifikasi lahan yang lebih ekstrem.
Oleh karena itu, menggarap lahan baru bukan merupakan hal yang sulit. Menariknya, ia tidak pernah merasa terganggu dengan pesimisme orang lain.
Di atas lahan seluas 23 hektare tersebut, Sancho menanam sayur maupun buah seperti; pepaya, melon, semangka, tomat, cabai, terong, kacang tanah, kacang panjang, buncis, pakcoy, sawi, dan beberapa jenis sayur-sayuran lainnya.
Sancho juga sedang berikhtiar untuk memelihara ayam petelur. Kandang sedang dalam proses persiapan. Sehari-hari, ia selalu datang ke lahan tersebut untuk mengontrol, mengedukasi dan mengontrol para pekerja di lahan itu. Setiap kali panen, Sancho memperoleh penghasilan bersih ratusan sampai miliaran rupiah. (bbr)