Rumah Sakit Iskandar Muda: Warisan Medis Belanda yang Lestari di Kutaraja
Yeni Hardika April 16, 2026 01:03 PM

Oleh: Azhar Abdullah Panton*)

Tujuh tahun setelah berhasil menduduki Aceh (akhir 1873), Pemerintah Hindia-Belanda merampungkan pembangunan RS militer di Kutaraja (sekarang Banda Aceh).

RS ini berdiri di atas tiang-tiang setinggi satu meter.

Terdiri dari beberapa bangsal yang terhubung satu sama lain melalui koridor yang beratap. Menyerupai struktur tulang ikan dan berarsitektur khas Belanda.

RS ini dilengkapi dengan ruang bedah yang representatif, ruang perban untuk bedah ringan, laboratorium, ruang rawat, dan fasilitas pendukung lainnya.

Tidak hanya itu. Pada tahun 1898, perangkat Rontgen (sinar-X) juga dihadirkan ke Bumi Iskandar Muda.

Tiga tahun setelah Wilhelm Conrad Röntgen (1895) menciptakan alat canggih peneguh diagnosa ini.

Sebelumnya, di tahun 1886, RS ini telah memiliki akses kereta api hingga ke depan ruang bedah. 

RS militer ini digadang-gadang sebagai salah satu RS terbesar dan termodern pada masanya. Standar layanan medis Eropa dihadirkan.

Berbagai perangkat kesehatan modern dan canggih diadakan. RS ini termasuk RS terbaik di seluruh Hindia Belanda.

Baca juga: Ismail Rasyid: Pengusaha Merangkap Ilmuwan dari Aceh

Juga salah satu RS militer yang tertua setelah Groot-Militair Hospital di Jakarta Pusat yang selesai dibangun Oktober 1836 (kini Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto/RS Kepresidenan). 

Dari gedung yang artistik ini juga tersimpan kisah epidemi beri-beri yang menyeruak saat perang Aceh berkecamuk.

RS ini menyediakan bangsal khusus untuk pasien beri-beri yang saat itu belum diketahui penyebab dan obatnya. 

Adalah Christiaan Eijkman, dokter dan ahli patologi Belanda yang menemukan bahwa penyakit beri-beri disebabkan kekurangan vitamin B1.

Vitamin yang terkandung dalam kulit ari beras (perikarpium). Dari penemuannya ini, ia dianugerahkan Nobel bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1929.

RS ini juga menjadi saksi bisu atas lahirnya seorang putra Aceh, Nja’ Ali sebagai ahli bedah (Baca: Kisah Nja’ Ali, Jago Bedah Lintas Zaman, ‘Kupi Beungoh’, edisi 19/01/25).

Satu dekade terakhir sebelum Jepang menduduki Aceh (1942), RS ini memiliki seorang dokter umum dan sebelas dokter spesialis berkebangsaan Belanda.

Dokter spesialis yang ada saat itu antara lain: spesialis bedah, kebidanan dan penyakit kandungan, penyakit dalam, mata, telinga hidung dan tenggorokan (THT), dan penyakit kulit dan kelamin.

Selain itu ada juga lima dokter umum dari kalangan pribumi, yaitu: Mohammad Majoedin, I Made Bagiastra, Soedono, Lie Sek Hong, dan Ratumbuysang.

RS yang pimpinannya berpangkat Mayor ini menjadi rujukan utama bagi RS-RS kecil dan 80 klinik kesehatan yang ada di seantero Aceh. Tiga belas klinik diantaranya ada di Aceh Besar.

Baca juga: Usia 18 Tahun, Bawaslu Mengawasi

Kehadiran RS ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan medis militer Belanda.

Tapi juga untuk menarik simpati rakyat Aceh guna menjaga stabilitas kolonial ditengah perang Aceh yang membara. 

RS yang juga dikenal dengan sebutan RS Pante Pirak (karena letaknya di pinggir Krueng Aceh dan berdekatan dengan jembatan Pante Pirak) ini menjadi simbol kemegahan medis kolonial di wilayah Sumatera.

Dua tahun menjelang pendudukan Jepang, pimpinan RS mulai dipercayakan kepada dokter pribumi.

Mohammad Majoedin diangkat sebagai kepala RS, sekaligus diberi mandat sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Rakyat Daerah Aceh. Ia adalah dokter pribumi pertama yang ditugaskan sebagai dokter sipil di RS militer ini sejak 1936.

Di zaman pendudukan Jepang (1942-1945), operasional RS mengikuti aturan Jepang.

Kepala RS masih dipercayakan kepada Majoedin. Setelah proklamasi kemerdekaan RI, Majoedin merangkap dua jabatan sekaligus. Kepala RS umum dan kepala RS militer. 

Ditambah dengan Kepala Jawatan Kesehatan Keresidenan Aceh (sekarang Dinas Kesehatan Provinsi Aceh).

Semua jabatannya ini berakhir 1950 setelah ia berpindah tempat tugas ke luar Aceh (Baca: Mengenal Mohammad Majoedin, Dokter Pribumi di Aceh Era Kolonial, ‘Kupi Beungoh’, edisi 23/10/2025).

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 27 Desember 1949, Aceh mendapat tambahan beberapa dokter. Diantaranya: Teuku Karimudin, Indra Utama, dan Soemarto.

Di tahun-tahun berikutnya dikirim juga Richardus (R) Midi, Djie Ping Tjoe, J Djiwahusada dan lainnya. 

Jejak medis kolonial ini tidak lekang oleh waktu. Kini menjadi Rumah Sakit Tingkat II Iskandar Muda (RSTIM).

RSTIM adalah RS TNI Angkatan Darat milik Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (RI) yang berada dibawah Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda, Aceh.

Dulu. Sebelum akhir 1970-an. Gedung warisan Belanda ini ditempati bersama oleh RSTIM dan RSU Kutaraja (sekarang RSUDZA).

Dulunya lagi, juga ada Kantor Jawatan Kesehatan Rakyat Daerah Aceh. 

RS yang populer dengan sebutan RS Kesdam ini memiliki 37 poliklinik spesialis dan sub spesialis.

Ditunjang dengan berbagai perangkat diagnosa dan beragam layanan tindakan.

Tersedia juga macam-macam unit perawatan khusus. Seperti ICU/ICCU, NICU, PICU, MCU, HCU, OK, VK, dan lainnya.

Baca juga: Bercanda yang Kebablasan: Saat Kata Jadi Awal Kekerasan Seksual

Pada tahun 2024 juga telah beroperasi gedung PDN. Gedung yang dilengkapi beragam fasilitas teknologi mutakhir untuk pelayanan yang komprehensif, cepat, dan akurat. 

RS yang menempati areal sekitar 3 Ha ini memiliki 276 tempat tidur untuk layanan rawat inap dengan berbagai kelas (VVIP, VIP, kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan kelas utama).

Ruang-ruang di RS yang sudah mengaplikasikan elektronik rekam medis (ERM) ini  menabalkan nama-nama pahlawan dan tokoh, seperti: Teuku Panglima Polem, Teuku Hamzah, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Malikussaleh, Malahayati, Syiah Kuala, dan Ade Irma.

Walau ada penambahan gedung baru di sana-sini, gedung lama peninggalan Belanda hampir satu setengah abad yang lalu (1880) tetap lestari.

Jika dulu pusat medis perang, kini menjadi pusat layanan kesehatan modern yang humanis bagi Prajurit dan PNS TNI AD beserta keluarga, Juga bagi masyarakat umum.

Ketika Tsunami menggulung Aceh, RSTIM tampil sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan medis darurat bagi korban. 

RSTIM berstatus tingkat II (Tipe B) sejak 2012. Pada tahun 2022, RS dengan luas bangunan 7000 meter persegi ini telah terakreditasi paripurna (lima bintang) dari Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI).

Februari 2026, RS yang saat ini dipimpin oleh Kolonel Ckm dr Syahrial SpB MARS ini meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi. 

Seiring dengan semboyan, “Hesti Wira Sakti”, RS yang beralamat di Jl T Angkasa Bendahara, Gampong Kuta Alam, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh ini menjadi salah satu RS rujukan di Aceh yang terus berkomitmen untuk meningkatkan profesionalisme.  

Tulus dalam pelayanan. Santun dalam perilaku. RSTIM melayani dengan senyum, salam, sapa, sopan, dan selamat.

PENULIS adalah peminat literasi sejarah Aceh.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.