Opini Mantan Sekjen AJI, Tanggapi Riuh Elite Nasdem dan Laporan Utama TEMPO
Ansar April 16, 2026 01:22 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR — Elite partai Nasdem gusar dengan terbitnya laporan utama majalah TEMPO, Pt Nasdem Indonesia Raya Tbk, edisi 13-19 April 2026.

Kantor majalah pekanan itu di Jakarta, digeruduk kader dan simpatisan besutan Surya Paloh itu, Selasa (14/4/2026) lalu. 

Mereka mengugat etika dan penyajian sampul majalah yang dianggap merendahkan martabat pendiri dan ketua partai.

Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia periode 2014-2017) Arfi Bambani Amri, mengulasnya dari sisi prinsip konten jurnalistik.

Direktur Kampanye Digital Bappilu Partai NasDem 2022-2024 itu menulis opini berjudul “Kemarau Epistemik TEMPO.”

“Ini hanya meluruskan dari yang kita tahu selama ini,” ujar Arfi kepada Tribun, Kamis (16/4/2026), saat dimintai affirmasi untuk memuat opininya itu di Tribun.

Berikut tulisan Opini Arfi Bambani Amri;

Kemarau Epistemik Tempo

Oleh Arfi Bambani Amri 

Ada dua laporan investigasi yang menarik perhatian saya minggu kedua bulan April 2026 ini.

Laporan pertama, disampaikan oleh seorang (mantan) wartawan.

Laporan kedua, dilakukan oleh korporasi media besar yang terbiasa melakukan investigasi: Tempo. 

Laporan pertama disajikan secara sederhana di dinding media sosial Facebook.

Sementara Tempo, sebelum tersaji di halaman-halaman majalah, terlebih dulu menyebarnya lewat teaser dalam bentuk siniar bernama Bocor Alus, plus juga promosi melalui kanal-kanal media sosial mereka.

Sayangnya kemewahan ala Tempo ini tak sebanding dengan bobot laporannya.

Dari laporan pertama, saya mendapatkan kedalaman investigasi mengenai pengadaan dalam sebuah proyek raksasa pemerintah.

Angka dan fakta yang disajikan terasa begitu menyentak kesadaran saya bahwasanya ada sesuatu yang salah dalam proyek ini. Investigasinya berhasil. 

Sementara laporan yang dibuat Tempo, mengenai “merger Gerindra-NasDem”, saya seperti menepuk angin, kosong tanpa ada yang bisa saya pegang.

Tak ada kejelasan, apakah benar merger atau fusi seperti yang dituliskan dalam laporan berhalaman-halaman mereka.

Saya tak kaget jika kader-kader NasDem meradang setelah laporan ini diturunkan, menganggap laporan Tempo kali ini sampah atau hoaks. 

Jurnalisme Apa Ini?

Hal pertama yang saya lakukan ketika berkantor di hari Senin pekan ini adalah membaca majalah ini.

Saya sudah mendapat “iklan” laporan ini dari siniar Bocor Alus dan media sosial Tempo, bahwa ini bertema “merger Gerindra-NasDem”.

Sebuah laporan yang penting bagi saya, seorang yang berkartu anggota Partai NasDem, namun bekerja di lingkungan yang didominasi kader-kader Partai Gerindra.

Jika ada yang pertama kali bergembira jika merger ini benar-benar terjadi, tentu adalah saya.

Setelah menyiapkan secangkir kopi, saya mulai membaca satu demi satu laporan utama Tempo ini.

Sayangnya, seperti yang sudah saya sebut di atas, laporan Tempo kali ini seperti menepuk angin.

Tak terasa. Saya mencoba membacanya berulang-ulang.

Narasumber-narasumber anonim menjadi dasar untuk melantunkan nyanyian merger.

Lucunya, satu anonim menyatakan nyanyian ini diinisiasi kubu Gerindra, sementara anonim satu lagi menyatakan sebaliknya.

Tak ada fakta keras yang benar-benar disampaikan seseorang yang jelas identitasnya dan representatif mewakili salah satu atau kedua kubu.

Fakta yang digunakan, pernyataan anonim-anonim yang tentu saja sulit diverifikasi sebagai fakta.

Penyajian fakta dalam laporan politik memang subtil, berbeda dengan fakta dalam laporan investigasi korupsi yang bisa menyajikan perbandingan angka-angka yang bisa mengkonstruksikan sebuah fakta.

Laporan politik lebih kompleks dan subtil.

Misal, apakah fakta Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto bertemu dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh bisa dimaknai sebagai merger kedua partai? Tentu tidak.

Harus ada konfirmasi dari, idealnya, kedua tokoh yang bertemu.

Jika tidak, tentu butuh konfirmasi dari pihak-pihak yang bisa mewakili kedua partai.

Sayangnya, laporan Tempo edisi 12 April 2026 ini, tidak begitu.

Saya lalu teringat Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (2012), menyebut empat model konten yang tayang di media hari ini.

Pertama, jurnalisme verifikasi, yaitu model tradisional yang menempatkan nilai tertinggi pada akurasi dan konteks.

Kedua, jurnalisme pernyataan, model lebih baru yang meletakkan nilai tertinggi pada kecepatan dan volume, dan karenanya cenderung jadi kanal informasi pasif.

Ketiga, jurnalisme pengukuhan, sebuah media politik baru yang membangun loyalitas bukan pada akurasi, kelengkapan, atau verifikasi melainkan mengafirmasi apa yang diyakini audiens.

Saya yakin, Tempo bukan model keempat.

Sejarah Aliansi Jurnalis Independen, di mana saya pernah menjadi sekretaris jenderalnya, tak bisa dilepaskan dari Sejarah Tempo.

Saya mengenal banyak jurnalis Tempo termasuk pemimpin redaksinya hari ini.

Kepentingan Tempo, sejauh yang saya yakini sampai minggu lalu, adalah pada kebenaran.

Namun pekan ini keyakinan saya goyah.

Bertahun-tahun saya percaya Tempo berpegang pada standar emas jurnalisme verifikasi, media model tradisional yang disebut Kovach dan Rosenstiel. 

Setelah membaca laporan edisi 12 April 2026 ini, dengan berat hati saya harus menyebut Tempo telah terjerembap dalam jurnalisme pernyataan dan bahkan jurnalisme pengukuhan.

Asumsi-asumsi sumir dipaksakan menjadi fakta melalui pernyataan-pernyataan orang-orang yang tak berani atau tak bisa dimunculkan identitasnya.

Lalu, karena terjebak dalam spekulasi atau asumsi, maka perlu dikukuhkan agar audiens teryakinkan.

Jadinya, laporan Tempo mengedepankan sensasi, bukan upaya mencari kebenaran.

Kemarau Epistemik 

Problem mendasar laporan Tempo kali ini bukan sekadar metodologi atau secara teknis dikenal sebagai “prinsip-prinsip jurnalistik”.

Saya menengarai ada problem epistemik yang mewabah di Tempo.

Ada godaan sensasi berpadu dengan kualitas jurnalisme yang buruk dan—semoga—tenggat deadline yang membuat kerja-kerja jurnalistik dilakukan buru-buru sehingga hasilnya sembrono atau serampangan.

Kualitas jurnalisme yang buruk karena kekeringan epistemik kemudian digoda oleh keperluan sensasional ala “Bocor Alus”. 

Ada beberapa problem epistemik dalam edisi Tempo kali ini.

Para jurnalis (termasuk redaktur) kurang memahami literatur politik, misal dalam penggunaan istilah “merger”.

Problem ini menjadi ontologis karena sebenarnya, jika para jurnalis Tempo cukup mendalami literatur politik Indonesia, ada istilah yang lebih cocok dan sudah acap dipakai seperti “fusi”.

Atau, gunakan saja istilah “penggabungan” sebagaimana disebut dalam Undang-undang Partai Politik.

Ketua Koordinator Bidang Ideologi, Kaderisasi dan Keanggotaan DPP Partai NasDem Willy Aditya lebih jauh menyebut Tempo mengalami kekeringan epistemik yang disebutnya sebagai “miskin literatur politik”.

Willy menyatakan, yang didiskusikan Surya Paloh dengan Prabowo adalah ide political bloc, sebuah model koalisi yang didasari misi dan program, bukan fusi atau merger seperti dibayangkan para jurnalis Tempo.

Merger menggunakan logika pasar, untung-rugi.

Political bloc menggunakan logika politik yang berbasis kepentingan publik atau negara.

Tempo miskin literatur karena membawakan alam pikir transaksional ala pasar ke dalam ranah politik.

Lebih jauh, cara pikir itu sendiri adalah problem epistemik tersendiri.

Tempo, yang mengkritik privatisasi politik, sebagaimana menjadi pengantar dalam bentuk “Surat dari Redaksi” untuk laporan 12 April 2026 ini, justru malah membawa logika privat itu ke dalam ranah politik yang publik.

Oksimoron, begitu istilah yang pas untuk kondisi ini.

Di satu sisi, mengkritik privatisasi partai, bahkan juga dijadikan judul yang insinuatif –PT NasDem Indonesia Raya Tbk--, namun di dalam laporannya tak membedakan sisi publik dan privat dari Surya Paloh.

Masuk akal jika pendukung NasDem menyebut laporan Tempo kali ini telah melecehkan Surya Paloh, seolah-olah Surya Paloh berpolitik semata-mata untuk kepentingan pribadinya.

Akhirul kalam, kemarau epistemik ini sebenarnya bisa dimaafkan jika ada kerendahan hati dari Tempo untuk mengakui kesalahan metodologisnya, pengakuan kealpaan menggunakan standar emas prinsip-prinsip jurnalistik dalam menghadirkan laporan ini.

Jujurlah bahwa laporan Anda kali ini memiliki cacat.

Ada ucapan dari Bung Hatta yang bisa mengingatkan kita semua.

"Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur sulit diperbaiki".

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.