TRIBUNJAKARTA.COM - Seorang notaris di Bekasi, Ika Dwi Susanti, menjadi korban salah sasaran dalam pusaran kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).
Nama Ika mendadak viral di media sosial setelah dituding sebagai orangtua dari salah satu pelaku.
Tuduhan tersebut dengan cepat menyebar luas dan memicu gelombang serangan dari netizen.
Ika pun membantah keras tudingan tersebut.
Ia menegaskan bahwa dirinya bukan orangtua dari pelaku dalam kasus tersebut.
"Saya mau klarifikasi. Mereka itu salah menyerang orang. Saya ini bukan orang tua pelaku, saya ini orang tua mahasiswa. Anak saya perempuan, sedangkan pelaku semuanya laki-laki," ujarnya saat dihubungi TribunJakarta.com, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, percakapan yang beredar di media sosial sebenarnya berasal dari grup WhatsApp orangtua mahasiswa FH UI, bukan grup orangtua pelaku seperti yang dituduhkan.
Namun, tangkapan layar percakapan tersebut tersebar tanpa menyensor nomor pribadinya.
Akibatnya, nomor WhatsApp Ika ikut viral dan menjadi sasaran serangan.
"Nomor WhatsApp saya ikut tersebar, dari situ akhirnya viral dan banyak yang menyerang saya," katanya.
Sejak saat itu, Ika mengaku menerima berbagai pesan berisi tuduhan hingga ancaman.
Bahkan, identitas pribadinya seperti alamat rumah dan kantor turut disebarluaskan di media sosial.
"Ada yang menyebarkan foto rumah saya. Itu sudah seperti teror," ungkapnya.
Tekanan yang datang bertubi-tubi membuat Ika mengalami guncangan mental.
Ia mengaku tidak sanggup membaca komentar-komentar di media sosial karena dinilai sangat menyerang secara pribadi.
"Saya shock. Saya tidak kuat melihat komentar-komentarnya," tuturnya.
Dampak dari peristiwa ini juga dirasakan oleh keluarganya, terutama sang anak.
Ika menyebut anaknya sempat merasa malu hingga enggan untuk masuk kuliah.
"Anak saya sampai bilang mau tidak kuliah karena malu," katanya.
Situasi semakin memburuk karena konten yang memuat tuduhan terhadap dirinya terus diunggah ulang di berbagai platform media sosial.
Meski mendapat tekanan berat, Ika memilih untuk tidak aktif melakukan klarifikasi di media sosial karena khawatir justru memperkeruh keadaan.
"Saya takut malah jadi bulan-bulanan lagi," katanya.
Selain berdampak pada kehidupan pribadi, serangan netizen juga menyasar kantor notaris miliknya.
Kendati demikian, Ika memilih untuk tidak menempuh jalur hukum dan berharap situasi dapat mereda dengan sendirinya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
"Jangan asal menghujat. Harus klarifikasi dulu sebelum menilai," tegasnya.