Pasca Penutupan SPPG Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru,  Siswa Terpaksa Bawa Bekal Dari Rumah
Irfani Rahman April 16, 2026 04:03 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG Landasan Ulin Barat 1 berdampak terhadap ribuan penerima manfaat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. 

SPPG diketahui melayani atau menyalurlan MBG ke lebih dari 3.000 penerima manfaat dari berbagai sekolah hingga pondok pesantren.

Salah satu sekolah penerima manfaat dari dapur ini yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI) Plus Darul Ilmi. Sekolah ini hanya berjarak puluhan meter dari dapur SPPG Landasan Ulin Barat 1.

Sekolah yang terletak di Landasan Ulin Barat, Lianganggang ini sudah sekitar dua pekan tidak menerima MBG, sejak dapur MBG disana sementara tidak beroperasi.

Wakil Kepala MI Plus Darul Ilmi, Sariam, SPdI mengatakan, program MBG di madrasah tersebut terhenti sementara sejak akhir bulan Maret lalu. Ia mendengar alasan penghentian operasional sementara ituekarena alasan teknis berupa perbaikan IPAL di dapur SPPG.

Baca juga: Soal Pembayaran Pajak Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Asli, Dirlantas Polda Kalsel Buka Suara

Baca juga: BREAKING NEWS- Warga Antasan Kecil Barat Banjarmasin Geger, Temukan Dugaan Mortir di Dalam Rumah

"Kami dapat, tapi sejak tanggal 31 kemarin sudah tidak dapat lagi. Katanya masih ada perbaikan IPAL atau apa gitu," katanya kepada Bpost, Kamis (16/4/2026).

Ia mengungkapkan ada sebanyak 416 siswa yang terbagi dalam 12 kelas khusus di sekolah mereka yang menerima MBG sejak tahun 2025 lalu.

​Ia juga menyebut karena lokasi sekolah yang berdekatan dengan dapur, distribusi biasanya sangat cepat sekitar pukul 08.00 Wita.

Hingga saat ini, pihak sekolah belum mendapatkan informasi kapan mereka akan kembali menerima penyaluran MBG.

​Selama program MBG terhenti, pihak sekolah mengimbau siswa untuk kembali membawa bekal dari rumah.​

Wakamad MI Plus Darul Ilmi juga menyebut bahwa siswa sangat menyukai menu yang biasa diberikan. Pihak sekolah juga menerapkan prosedur keamanan pangan di mana Kepala Sekolah mencicipi sampel makanan terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada siswa.

Sekolah lain, SDN 2 Landasan Ulin Barat juga  sebagai penerima manfaat MBG dari SPPG yang dilakukan penutupan tersebut.

Disana, pihak sekolah mencatat ada sebanyak 415 siswa dari 16 rombel kelas sebagai penerima manfaat. 

Beberapa siswa disana juga terpaksa kembali membawa bekal makanan dari rumah selama MBG tidak disalurkan ke sekolah mereka.

Sebelumnya diketahui, SPPG Landasan Ulin Barat 1 dilakukan operasionalnya sejak beberapa waktu terakhir karena masalah standarisasi dapur.

Perwakilan Yayasan Nurul Hijrah yang membawahi SPPG yang ditutup, Dr H Edy Setyo Utomo menyebut SPPG ini ditangguhkan operasionalnya sejak 31 Maret 2026 karena masalah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang dianggap tidak standar oleh pihak berwenang.

Edy mengatakan SPPG Landasan Ulin Barat 1 sebelumnya melayani sekitar 3.175 penerima manfaat dari berbagai sekolah termasuk pondok pesantren.

“Suspensi ini berdampak besar pada 3.175 penerima manfaat, termasuk santri pondok pesantren Putra/Putri MI Darul Ilmi, siswa SLB, PAUD, TK, hingga SDN Landasan Ulin Barat 2,” katanya.

Selain berdampak ke ribuan penerima manfaat, akibat penutupan ini, relawan SPPG Landasan Ulin Barat 2 juga ikut terdampak.

 “Para relawan atau karyawan juga kehilangan penghasilan karena sistem gaji mereka berbasis absensi operasional,” kata Edy.

(Banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.