TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Sejumlah orang tua/wali murid di Kelurahan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, mengeluhkan penyaluran makanan bergizi gratis (MBG).
Orang tua yang tak ingin disebutkan identitasnya itu menyoroti kualitas makanan yang dinilai menurun, mulai dari porsi yang kecil, menu yang tidak sesuai, hingga kondisi makanan yang tidak layak konsumsi.
Salah seorang wali murid mengungkapkan, porsi makanan yang diberikan kerap tidak mencukupi kebutuhan anak-anak.
Bahkan, lauk yang disajikan dinilai sangat minim.
“Coba lihat porsinya ini. Kemarin hanya dapat tuna sepenggal. Jadi setiap ke sekolah kami tetap bawa bekal lagi karena anak-anak sering minta tambah,” ujarnya sambil menunjukkan MBG hari ini, Kamis (16/4/2026).
Menu yang disajikan memang sangat minimalis.
Hanya ada nasi, sepotong ayam goreng tepung, sehelai tahu, tiga buah kelengkeng, dua helai timun, dan sambal yang bentuknya hanya seperti bercak merah.
Menu ini sama di setiap jenjang mulai dari TK sampai SMP.
Di tengah perbincangan, seorang anak pun menghampiri ibunya.
"Ma, mau tambah nasi," ucapnya.
Sang ibu hanya tertawa.
"Tuh kan, masih lapar dia. Karena memang porsinya sedikit sekali," tutur sang ibu.
Untungnya mereka membawa bekal tambahan dari rumah.
Hal ini juga dilakukan orang tua/wali murid lain untuk berjaga-jaga ketika anaknya masih lapar usai menyantap MBG.
Selain itu, para orang tua tetap harus memasak di rumah setelah anak pulang sekolah karena masih merasa lapar.
“Pulang sekolah kami tetap masak lagi, karena anak-anak belum kenyang. Padahal seharusnya program ini bisa memenuhi kebutuhan makan mereka,” katanya.
Selain porsi, kualitas makanan juga menjadi perhatian serius.
Orang tua mengaku pernah menemukan makanan dalam kondisi basi hingga tidak matang.
"Bahkan tahu dan tempe rasanya sudah asam. Pernah juga satu kelas dapat telur yang masih mentah,” ungkapnya.
Selain itu, mereka juga pernah mendapati rambut di makanan anak.
Baca juga: Orang Tua Murid Keluhkan Kinerja SPPG Bunaken-Molas di Manado, Kerap Tak Tepat Waktu
Baca juga: POJK 19 Tahun 2025, UMKM Lebih Mudah Akses Pembiayaan demi Dorong Ekonomi Daerah
Hal itu membuat orang tua melarang anak mereka menyantap makanan tersebut.
Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, para wali murid mengambil inisiatif mencicipi makanan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada anak-anak.
“Kalau di sekolah, ibu-ibu wali murid yang mencicipi dulu untuk memastikan layak atau tidak. Jangan sampai anak-anak keracunan. Sejauh ini memang belum ada kasus keracunan, tapi makanan basi itu sudah sangat mengkhawatirkan,” jelasnya.
Keluhan juga disampaikan terkait variasi menu yang dinilai kurang sesuai dengan anak-anak.
Beberapa menu dianggap tidak cocok, seperti makanan pedas hingga jenis makanan yang kurang diminati.
“Pernah dapat ikan garo rica, padahal itu pedas. Kami saja tidak berani kasih anak makan pedas,” katanya.
Yang mengejutkan, pihak SPPG disebut pernah menyajikan jagung, susu, keju (jasuke) kepada anak-anak.
Tak hanya itu, buah yang diberikan juga dinilai tidak layak, baik dari segi jumlah maupun rasa.
“Buahnya itu-itu saja, pernah cuma dapat kelengkeng tiga biji. Pernah juga dapat salak tapi rasanya sangat asam,” tambahnya.
Menurut para orang tua, kondisi ini berbeda dengan awal pelaksanaan program MBG yang dinilai cukup baik.
Namun, seiring waktu kualitasnya justru menurun.
"Pernah ada pertemuan kepala sekolah dengan pihak penyedia untuk membahas hal ini, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan,” ungkapnya.
Akibatnya, sebagian orang tua memilih membawa pulang makanan MBG yang tidak habis untuk dikonsumsi kembali bersama lauk tambahan di rumah.
Para wali murid berharap SPPG Bunaken-Molase mengevaluasi menu MBG yang disajikan khususnya dalam hal kualitas, kebersihan, dan kecukupan gizi.(*)