Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG – Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya, menyoroti banjir yang kembali merendam kawasan Rancabolang, Kota Bandung karena hingga kini banjir tersebut tak kunjung surut hingga akhirnya dikeluhkan warga.
Sorotan itu mencuat setelah adanya keluhan langsung dari warga RW 03, RT 01 hingga RT 05 Rancabolang.
Mereka menyampaikan keresahan terhadap banjir yang terus berulang dan tidak kunjung tertangani secara tuntas.
"Mereka mengeluh dan mempertanyakan, apakah ini memang tidak bisa diselesaikan oleh Pemkot. Karena ini bukan persoalan baru, sudah bertahun-tahun terjadi. Harapannya tentu ada solusi konkret," ujar Edwin, Kamis (16/4/2026).
Edwin mengatakan, banjir tersebut sudah tidak bisa lagi ditangani secara parsial, melainkan harus diselesaikan secara komprehensif dari hulu hingga hilir, sehingga wajar jika warga menanyakan keseriusan penanganan dari pemerintah kota.
Menurutnya, keluhan warga muncul karena persoalan banjir tersebut bukan terjadi dalam hitungan satu atau dua tahun, melainkan sudah berlangsung cukup lama tanpa solusi konkret yang dirasakan di lapangan.
Salah satu persoalan utama yang ditemukan di lapangan, kata Edwin, adalah terganggunya sistem drainase sejak adanya pembangunan proyek kereta cepat Whoosh yang dilakukan oleh PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC).
"Di sana ada saluran drainase yang sejak ada pembangunan kereta api cepat jadi tertutup. Dulu di Rancabolang tidak seperti ini. Warga juga mengusulkan agar saluran tersebut bisa segera dibenahi," katanya.
Dia mengatakan, imbas dari pembangunan itu terdapat saluran air yang sebelumnya memang berfungsi dengan baik, namun kini tertutup sehingga menghambat aliran air saat Kota Bandung diguyur hujan deras.
Selain itu, kata dia, kondisi infrastruktur pengendali banjir yang belum tuntas turut memperparah situasi.
Sebab, di sana terdapat tanggul yang hingga kini belum selesai dibangun, akibatnya ketika curah hujan tinggi, air dengan cepat meluap dan menggenangi permukiman warga.
"Posisi mereka memang lebih rendah karena dekat dengan perumahan. Jadi ketika hujan deras, air langsung mengalir ke sana dan sulit surut," ucap Edwin.
Menurutnya, kondisi geografis kawasan Rancabolang memang berada di dataran lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya dan berdekatan dengan kompleks perumahan, sehingga limpasan air dari area yang lebih tinggi semakin memperbesar potensi genangan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, kata dia, warga membutuhkan sumur resapan, kolam retensi, dan pompa air.
Sebab, keberadaan fasilitas itu sangat penting untuk mengurangi volume air yang masuk ke permukiman saat hujan deras.
"Minimal harus ada pompa air dan penyelesaian tanggul, karena biayanya relatif tidak terlalu besar dan masih bisa dijangkau segera. Untuk kolam retensi mungkin membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui proses penganggaran," katanya.
Kemudian, Edwin juga menyoroti aliran air dari kawasan jalan tol yang diduga turut memperparah genangan karena saat hujan deras, air dari sistem drainase yang dikelola Jasa Marga dialirkan ke wilayah Rancabolang dan Rancanumpang.
"Kami menemukan dari laporan warga ketika hujan, ada aliran dari pihak jalan tol yang dibuang ke sana. Ini tidak hanya berdampak ke Rancabolang, tapi juga ke Rancanumpang," ujar Edwin.
Atas hal tersebut, dia menilai harus koordinasi lintas instansi, termasuk dengan pihak terkait seperti pengelola jalan tol untuk mencari solusi bersama, terutama dalam hal membuka kembali saluran drainase yang tertutup agar aliran air kembali normal.
"Harus diselesaikan secara komprehensif agar tidak berlarut-larut. Drainase yang tertutup harus dibongkar terlebih dahulu, lalu dilakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait," katanya.