TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Industri mebel nasional membidik kebangkitan ekspor pada 2026 dengan target menembus kembali level di atas 3 miliar dolar AS. Angka itu lebih tinggi dari target 2025 lalu sebesar 2,9 miliar dolar AS, dengan realisasi 2,6 miliar dolar AS.
Target itu mencerminkan upaya pelaku industri untuk keluar dari tekanan global, dan mengembalikan tren pertumbuhan yang sempat tertahan.
“Target utama bukan sekadar lonjakan, tetapi mengembalikan ekspor ke lintasan naik dan menembus kembali level di atas 3 miliar dolar AS,” kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, kepada Kontan, Rabu (15/4).
Menurut dia, prospek pasar 2026 masih terbuka, namun tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Di satu sisi, permintaan global mulai menunjukkan pemulihan dan membuka peluang bagi Indonesia sebagai alternatif pemasok.
Namun di sisi lain, industri masih dibayangi tekanan biaya produksi, logistik, suku bunga tinggi, serta ketidakpastian geopolitik yang membuat ekspansi pembelian belum agresif.
Dalam jangka menengah, HIMKI menargetkan ekspor furnitur nasional bisa mencapai 6 miliar dolar AS dalam 5 tahun ke depan. Tahun 2026 pun diposisikan sebagai fase konsolidasi untuk mendorong rebound, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat daya saing industri.
Sobur menyebut, menyebut Amerika Serikat (AS) masih menjadi pasar utama ekspor produk turunan kayu atau mebel Indonesia tahun ini.
Sampai semester I/2025, AS masih menyerap sekitar 54,6 persen ekspor furnitur Indonesia, sehingga pasar AS tetap menjadi anchor market utama bagi industri nasional.
“Untuk 2026, negara yang paling potensial tetap Amerika Serikat. Alasannya sederhana, pasar ini masih menjadi tujuan ekspor terbesar furnitur Indonesia, kontribusinya berada di kisaran 54-55 persen,” jelasnya.
Dia menambahkan, saat ini AS terus mencari pemasok yang kompetitif, stabil, dan mampu memenuhi standar kualitas serta kepastian pasok. Sehingga, secara volume ekspor dan peluang jangka pendek, AS masih nomor satu.
Namun secara strategis, HIMKI tidak boleh hanya bergantung pada AS. Pasar yang perlu disebut sebagai potensial berikutnya adalah Timur Tengah, Uni Eropa pada negara tertentu, serta Jepang dan India.
“Negara-negara ini adalah pasar yang lebih selektif tetapi menjanjikan. Dari data trade map yang diolah HIMKI mencatat impor furnitur negara-negara Gulf Cooperation Counci (GCC) pada 2024 mencapai sekitar 5,47 miliar dolar AS, sementara produk Indonesia baru mengambil sekitar 0,91 persen atau 50,5 juta dolar AS,” bebernya.
Sobur menyatakan, hal itu artinya ruang tumbuh masih sangat besar. HIMKI memposisikan AS tetap sebagai pasar utama untuk skala ekspor, tetapi Timur Tengah adalah pasar strategis untuk ekspansi, sedangkan Eropa, Jepang, dan India penting untuk diversifikasi risiko dan penguatan positioning produk bernilai tambah tinggi.
“Pendekatan ke depan bukan hanya mengejar volume, tetapi juga memperbesar pasar yang lebih stabil, lebih tersebar, dan lebih menghargai desain, sustainability, serta story of origin Indonesia,” tuturnya. (Kontan/Sabrina Rhamadanty)