Mendag Harap Harga Plastik Segera Turun, Pasokan Bahan Baku Alternatif Mulai Dikirim
Faisal Zamzami April 16, 2026 11:20 PM

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, menyampaikan harapannya agar harga plastik di dalam negeri dapat segera mengalami penurunan dalam waktu dekat.

Kenaikan harga plastik belakangan ini dinilai cukup mengkhawatirkan karena berdampak luas terhadap berbagai sektor industri, terutama produk-produk konsumsi yang menggunakan kemasan plastik.

“Harapannya tentu harga plastik bisa segera turun. Karena dampaknya cukup besar ke berbagai produk lain yang menggunakan kemasan plastik,” ujar Busan saat ditemui di JIExpo, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Lonjakan harga plastik terjadi sebagai dampak dari konflik geopolitik di kawasan Asia Barat yang mengganggu rantai pasok bahan baku utama plastik, yaitu nafta.

Nafta merupakan turunan minyak bumi yang sebagian besar dipasok dari negara-negara Teluk.

Gangguan distribusi akibat konflik tersebut menyebabkan kelangkaan pasokan global dan memicu kenaikan harga secara signifikan.

Untuk mengatasi situasi ini, Busan menjelaskan bahwa pemerintah bersama pelaku industri telah mulai mencari sumber bahan baku alternatif dari berbagai negara.

Saat ini, pasokan nafta alternatif sedang dalam proses pengiriman dari India, Afrika, dan Amerika Serikat.

“Pasokan alternatif sudah kita dapatkan, saat ini masih dalam perjalanan. Kita pastikan industri tetap berjalan dan tidak sampai berhenti produksinya,” jelasnya.

Baca juga: Harga Plastik di Sabang Melonjak hingga 80 Persen, Pedagang dan UMKM Sangat Terdampak

Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki penggunaan liquefied petroleum gas (LPG) sebagai bahan baku pengganti nafta dalam proses produksi plastik.

Upaya ini dilakukan dengan membuka komunikasi dan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Eurasia, termasuk negara-negara di sekitar Rusia.

“Kita sedang lakukan pendekatan untuk mencari sumber LPG sebagai alternatif. Mudah-mudahan upaya ini bisa membantu meredakan tekanan pasokan,” tambah Busan.

Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada industri pengemasan, tetapi juga merembet ke harga berbagai komoditas lain.

Salah satu yang terdampak adalah minyak goreng kemasan, yang mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya biaya produksi kemasan plastik.

“Ada efek domino. Produk seperti minyak goreng juga ikut naik karena kemasannya berbahan plastik,” kata Busan.

Di sisi lain, pemerintah mulai mendorong solusi jangka panjang dengan mengkaji penggunaan bahan baku berbasis nabati sebagai alternatif plastik konvensional.

Baca juga: VIDEO Harga Plastik Melonjak hingga 80 Persen, Pedagang dan UMKM di Sabang Mengeluh

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyebut bahwa rumput laut dan singkong memiliki potensi besar sebagai bahan dasar plastik ramah lingkungan.

“Sejauh ini yang sedang dikaji adalah rumput laut dan singkong. Ini masih tahap awal, tapi potensinya cukup menjanjikan sebagai solusi jangka panjang,” ujar Maman dalam kesempatan terpisah di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta.

Namun demikian, penggunaan bahan nabati tersebut masih memerlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat diimplementasikan secara luas dalam industri.

Sebagai informasi, kenaikan harga plastik mulai terjadi sejak akhir Februari 2026, ketika terjadi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Situasi semakin memburuk setelah penutupan Selat Hormuz, jalur strategis distribusi minyak dunia, yang menyebabkan terganggunya suplai energi dan bahan petrokimia global.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan bahwa harga plastik di tingkat pedagang mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Ia menyebutkan bahwa sebelum bulan Ramadan, harga plastik masih berada di kisaran Rp10.000 per kilogram. Namun, harga tersebut terus merangkak naik secara bertahap.

“Kenaikannya bertahap, ada yang naik Rp500, Rp700, dan seterusnya. Sampai sekarang kita proyeksikan total kenaikannya sudah mencapai sekitar 50 persen,” ungkap Reynaldi.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama UMKM yang sangat bergantung pada kemasan plastik untuk distribusi produk mereka.

Jika harga tidak segera stabil, dikhawatirkan akan terjadi penyesuaian harga jual yang bisa berdampak pada daya beli masyarakat.

Pemerintah pun terus berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga melalui diversifikasi sumber bahan baku serta mendorong inovasi alternatif yang lebih berkelanjutan.

Diharapkan, dengan langkah-langkah tersebut, tekanan terhadap industri plastik dan sektor terkait dapat segera mereda.

Baca juga: UIN Ar-Raniry dan Kemenkum Aceh Teken Nota Kesepahaman, Dorong Peningkatan Kekayaan Intelektual

Baca juga: Di Hadapan Baleg DPR RI, Mualem Minta Dana Otsus Abadi Sebesar 2,5 Persen

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.