Beijing (ANTARA) - Output industri bernilai tambah China tumbuh 6,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal pertama (Q1) 2026, 1,1 poin persentase lebih cepat dibandingkan kuartal sebelumnya.
Demikian menurut Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) China. Secara bulanan, output industri tumbuh 0,28 persen pada Maret 2026 ini.
Output industri digunakan untuk mengukur aktivitas perusahaan besar, yang masing-masing membukukan omzet bisnis utama tahunan sedikitnya 20 juta yuan (1 yuan = Rp2.513) atau sekitar 2,91 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.141).
Rincian data tersebut menunjukkan output bernilai tambah sektor pertambangan meningkat 6 persen (yoy) pada Q1. Sedangkan, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan 6,4 persen. Sementara, output bernilai tambah sektor produksi dan pasokan listrik, panas, gas serta air naik 4,3 persen.
Output bernilai tambah sektor manufaktur teknologi tinggi melonjak 12,5 persen pada Q1. Porsi sektor itu dalam total industri bernilai tambah mencapai 16,9 persen, mendorong pertumbuhan keseluruhan sebesar dua poin persentase.
Menurut, Wakil Kepala NBS Mao Shengyong, secara khusus, output bernilai tambah industri manufaktur wahana dan peralatan kedirgantaraan tumbuh sebesar 17,7 persen. Sementara, output bernilai tambah manufaktur pesawat terbang tumbuh sebesar 27,3 persen.
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mendorong pertumbuhan di berbagai sektor terkait.
Pada Q1, manufaktur material elektronik khusus dan sirkuit terpadu, yang keduanya terkait langsung dengan produksi serta penerapan AI, mencatatkan lonjakan output bernilai tambah masing-masing sebesar 32,5 persen dan 49,4 persen.
Mao dalam konferensi pers menyampaikan momentum yang didorong oleh AI itu telah meluas lebih jauh ke sektor hulu, merambah industri kimia dan energi, yang menyediakan bahan baku dan energi penting, menunjukkan efek riak yang berkelanjutan pada perekonomian yang lebih luas.
Data pada Kamis (16/4) juga menunjukkan bahwa produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 5 persen (yoy) pada Q1, 0,5 poin persentase lebih cepat daripada Q4 2025. China menargetkan pertumbuhan 2026 di kisaran 4,5 hingga 5 persen dan akan berupaya mencapai hasil yang lebih baik dalam praktiknya.





