Kisah Es Ameng, Minuman Legendaris di Bengkalis, Bertahan Puluhan Tahun
Nolpitos Hendri April 17, 2026 12:29 AM

TRIBUNPEKANBARU.COM, BENGKALIS - Belum lengkap rasanya kalau ke Bengkalis, tapi belum mencicipi minuman satu ini, Es Ameng namannya, minuman legendaris yang terkenal di kalangan masyarakat kota Bengkalis.

Es Ameng merupakan es campur berisi kacang merah, cincau dan sirup merah manis yang memiliki rasa khas tersendiri, ditambah dengan serutan es batu halus.

Tampilannya cukup sederhana, jika meminum langsung di tempat, disajikan dengan gelas kaca, sedotan serta sendok stainless kecil.

Baca juga: Mi Sagu Kemasan Siap Masak, Mi Sagu Boedjang Menenun Mimpi dari Selatpanjang ke Dunia

Sebelum diseruput menggunakan sedotan, terlebih dahulu diaduk dengan sendok kecil yang disediakan.

Begitu air sirup dengan campuran serutan es masuk ke tenggorokan, rasa manis begitu terasa khas.

Berbeda dengan rasa sirup pada umumnya.

Isian kacang merah bisa diambil dengan sendok, berpadu dengan cincau halus kecil menambah kenikmatannya, apalagi diminum diwaktu siang hari ditengah kondisi panas terik matahari.

Tentunya menjadi pilihan utama untuk melegakan tenggorokan.

Tempat jualannya pun sederhana, bangunan ruko di Jalan Sri Pulau Kota Bengkalis.

Suasana ruko juga sederhana, layaknya kedai minuman pada umumnya.

Selain meminum ditempat, sebagian masyarakat juga banyak yang membeli untuk dibungkus, tak heran kadang jika menikmati ditempat sering melihat orang orang silih berganti memesan dengan jumlah banyak tetapi di bungkus.

Untuk bungkusan juga khas, masih menggunakan plastik bungkusan minuman.

Pengakuan penjulnya sebenarnya pihaknya memiliki cup plastik minuman, namun pembeli lebih banyak memilih tetap dengan bungkusan plastik saja.

Budianto (50) yang menjual Es Ameng ini merupakan generasi kedua menurunkan usaha dari sang ayah.

Ayahnya berjualan es campur ini sejak tahun 1962.

Tempat awal jualan dulunya  di Jalan Sudirman, kota Bengkalis, tepatnya sekarang yang menjadi pasar Sukaramai.

"Ayah saya jualan es campur ini sejak umur 15 tahun di dekat Pasar Sukaramai sekarang. Tapi saat itu di sana belum menjadi pasar seperti sekarang," ungkap Budianto membuka cerita.

Dulu orangtuanya tak hanya jualan es campur saja, tetapi berbagai jenis jualan ada di warung kecil milik orangtuanya tersebut.

Namun memang yang paling laris dan dicari masyarakat es campur ayahnya ini dengan nama Es Ameng.

Menurut dia, nama Es Ameng melekat pada es campur buatan ayahnya dari pelanggan yang sering membeli.

Saat itu memang hanya orangtuanya yang menjual es campur di daerah tersebut.

Beriringan berkembangnya daerah tersebut menjadi pasar, pembeli mulai ramai, akhirnya tiga belas tahun lalu ayahnya memindahkan tempat jualannya di lokasi sekarang.

"Pembeli ramai, tempat ayah kami jualan banyak yang datang hanya untuk membeli es campur saja. Jadi karena akses masuk sudah mulai sempit, karena ramainya pedagang pakaian jadi ayah memilih untuk memindahkan tempat dari sana ke sini.

"Disini lebih lapang juga, tempat parkir ada dan luas. Jadi pindah ke sini," ungkapnya.

Tempat sekarang juga sudah tanah sendiri, meskipun saat pindah masih bangunan kayu, tapi halaman cukup besar.

Budianto sejak kecil sudah sering membantu ayahnya berjualan.

Namun beranjak dewasa setelah tamat SMP pergi merantau ke beberapa daerah sebelum kembali mendampingi ayahnya berjualan es campur ini.

"Saya sebenarnya dari kecil sudah membantu ayah jualan, tapi saat remaja sempat merantau dulu," terangnya.

Budianto baru kembali ke Bengkalis sejak tahun 1998 tepat umur 21 tahun dan ikut kembali bantu orangtua berjualan es campur.

Pihaknya baru sepenuhnya mengelola sendiri es campur ini sekitar 5 tahun lalu atau sekitar 2021 lalu saat ayahnya meninggal dunia.

"Ayah meninggal umur 74 tahun, sejak meninggal dunia usaha ini kami yang teruskan," ungkapnya.

Racikan Es Ameng murni resep turunan keluarga. Ayahnya dapat ilmu membuat es campur ini sang nenek atau ibu dari ayahnya.

"Nenek kami ini memang pandai masak, dulunya jualan kue, ayahlah yang bantu jualan. Ide es campur ini juga resepnya bantuan dari nenek awalnya," terang Budianto.

Menurut dia, es campur yang dijualnya seluruh bahan dibuat sendiri, mulai dari cincau buat sendiri, kacang merah di rebus sendiri, sirup merah juga di buat sendiri dari bahan dasar gula dan pewarna.

Begitupun es batu yang diserut juga dibuat sendiri.

"Kalau cincau kita buat sendiri, daun bahan cincaunya yang beli, kacang merah sumbernya juga masih sama dengan saat orangtua yang kelola, kita pesan dari Medan tempat langganan.

Sementara sirup merah juga buat sendiri dengan bahan dasar gula, itupun masih menggunakan gula pasir dengan merk yang sama dari saat ayah berjualan," terangnya.

Proses pembuatan bahan es campur juga masih mempertahankan cara lama. Masih dimasak diolah dengan tradisional menggunakan api dari kayu dan arang.

Tempat masak pun berbeda dengan dapur kami untuk masak harian. Dapur untuk mengelola bahan es campur ini tersendiri.

"Pesan ayah dulu begitu, dapur tak boleh campur dengan dapur kita. Harus dibedakan dan dijaga kebersihannya," terangnya.

Penjualan Es Ameng sendiri hari hari biasa sama sekitaran lima puluh sampai seratus gelas.

Turun naik, tergantung kondisi harian, namun saat liburan biasanya lebih ramai lagi.

"Kalau hari libur, seperti lebaran atau Imlek ramai. Bisa lebih dari dua ratus gelas terjual seharinya," ungkapnya.

Biasanya pembeli langganan orangtuanya dulu datang saat liburan.

Mereka bernostalgia menikmati Es Ameng biasanya membawa keluarga cucu dan anak.

"Begitu juga yang pulang merantau, saat liburan sering kembali datang membeli ke sini," jelasnya.

Selain itu, pelanggan barun juga sering didapat dari orang luar Bengkalis.

Biasanya warga Bengkalis yang memiliki tamu dari luar daerah sering di bawa ke sini untuk menikmati es campur.

Menurut dia, sampai saat ini dirinya masih mengelola sendiri jual Es Ameng. Mulai dari proses produksi sampai dengan melayani pelanggan.

"Karyawan tak ada kita semua yang layani setiap hari. Masak juga sendiri membuat bahannya," terang Budianto.

Menurut dia, dari lima bersaudara, sebenarnya dirinya dan satu orang saudaranya yang melanjutkan usaha ini.

Budianto melanjutkan usaha Es Ameng di tempat orangtuanya jualan sementara saudaranya buka sendiri dengan nama yang sama Es Ameng di jalan Tandun kota Bengkalis.

"Resep sama dari orangtua, tapi memang karena ini tempat jualan orangtua dulu jadi lebih ramai," terangnya.

Dengan usaha Es Ameng dikelolanya, sudah berhasil menyekolahkan anak anaknya. Dua orang anaknya bahkan sudah berhasil selesaikan kuliah di Jakarta, mereka juga sudah bekerja.

"Kalau anak yang paling kecil sekarang masih SMP. Semuanya sekolah dari hasil jualan Es Ameng ini," ceritanya.

Meskipun Es Ameng sudah melengendaris, Budianto belum tau usaha ini akan berlanjut pada generasi anaknya.

Untuk anak pihaknya menyerahkan sepenuhnya mereka mau melanjutkan atau tidak.

"Pilihan masing masing saja, kalau ada yang mau melanjutkan tentu senang. Kalau tidak mereka mau usaha lain silahkan saja," ungkapnya.

Selain itu dengan nama besar Es Ameng ini sebenarnya sudah ada yang menawarkan untuk kerjasama buka di Pekanbaru.

Bahkan sudah ada rekannya yang menawarkan siapkan modal dan tempat dengan hasil bagi dua.

Pihaknya belum berani buka di luar daerah, karena lebih mengutamakan rasa. Karena produksi buat sendiri, kalau dibawa keluar daerah takutnya tidak tahan lama.

Apalagi semuanya tanpa bahan pengawet, paling lama tiga hari bahan buatannya bisa bertahan.

"Jadi belum berani kita buka cabang di luar kota. Karena untuk bahan kita buat sendiri tanpa pengawet," tandasnya.

( Tribunpekanbaru.com / Muhammad Natsir )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.