TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Kepala Desa Sungai Batang, Mahyus, angkat bicara terkait keluhan warga RT 04/RW 02, Desa Sungai Batang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, atas dugaan pencemaran limbah dari dapur SPPG Sungai Batang milik Yayasan Lantera Pangan Borneo, mitra Dapur Kaia88.
Berdasarkan pantauan Tribun Pontianak bersama awak media di lapangan, kondisi parit warga mengalami perubahan drastis.
Air yang sebelumnya jernih kini berubah menjadi hijau lumut bahkan hitam pekat, serta mengeluarkan bau menyengat yang mengganggu.
Mahyus menyampaikan, pihaknya telah menerima laporan warga sejak lebih dari sepekan terakhir dan langsung melakukan penelusuran untuk memastikan sumber pencemaran.
"Selama seminggu ini kami telusuri, karena kami juga khawatir pencemaran ini bukan dari dapur MBG. Namun setelah ditelusuri, ternyata memang berasal dari dapur MBG dan itu sudah diakui oleh pihak mereka," ujarnya, Kamis, 16 April 2026.
Ia mengungkapkan, pencemaran tersebut berdampak langsung terhadap sedikitnya 10 rumah warga di sekitar lokasi.
"Ada sekitar 10 rumah warga yang benar-benar terdampak. Selain airnya kotor, bau tidak sedap juga sangat menyengat," jelasnya.
Baca juga: Warga Sungai Batang Keluhkan Limbah Dapur SPPG, Parit Berubah Hitam dan Bau Menyengat
Menurut Mahyus, pemerintah desa sebelumnya telah memfasilitasi pertemuan antara warga dan pihak dapur SPPG pada Rabu, 15 April 2026.
Dalam mediasi tersebut, pihak dapur mengakui adanya kelalaian dalam pengelolaan limbah.
"Kami mengundang pihak SPPG dan mereka mengakui kelalaian, sehingga limbah dari sisa pencucian mencemari parit warga," katanya.
Bahkan, dalam pertemuan itu telah dibuat kesepakatan agar tidak ada lagi pembuangan limbah ke parit warga. Namun, kesepakatan tersebut diduga belum dijalankan sepenuhnya.
"Perjanjian sudah dibuat bahwa mereka tidak boleh lagi mengalirkan limbah. Tetapi pagi tadi kami mendapat laporan dari warga bahwa limbah tersebut masih dialirkan," ungkapnya.
Mahyus menegaskan, pihak desa kembali mengambil langkah dengan mengundang pengelola dapur untuk mencari solusi konkret.
"Sehingga hari ini juga kita ajak mereka berdiskusi kembali untuk mencarikan solusi terbaik," tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini sangat merugikan masyarakat karena air parit selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Air parit ini digunakan untuk mandi, mencuci, bahkan untuk mengambil air wudhu. Jadi dampaknya sangat dirasakan dan menyengsarakan warga kami," tutupnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!