Wawancara Eksklusif Kapolres Bangka Barat, Dari Cita-cita hingga Bongkar Penyelundupan Timah
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- AKBP Pradana Aditya Nugraha menjabat Kapolres Bangka Barat pada Maret 2025. Sejak saat itu, mantan Kapolres Bangka Tengah ini setidaknya sudah empat kali mengungkap kasus penyelundupan timah.
Dalam wawancara eksklusif bersama Editor In Chief Bangka Pos Group Ade Mayasanto, Aditya mengulas keberhasilan Polres Bangka Barat tersebut. Menurut Aditya, pengungkapan itu hanya satu di antara prioritas penanganan di lembaga yang dipimpinnya.
Berikut petikan wawancara Aditya di Studio Bangka Pos, Pangkalpinang, Rabu (15/4):
Sejak kapan Anda bercita-cita menjadi polisi?
Sejak kelas 1 SMA saya sudah punya keinginan menjadi polisi. Waktu itu melihat taruna di Semarang, saya merasa profesi ini adalah bentuk pengabdian. Orang tua saya seorang guru, dan mereka memberi kebebasan memilih jalan hidup. Dari situ saya mulai mempersiapkan diri hingga akhirnya lulus seleksi Akpol tahun 2002 dan wisuda 2005.
Di mana penugasan pertama Anda?
Saya pertama kali bertugas di Jawa Tengah, tepatnya di Polres Klaten. Setelah itu berpindah ke beberapa wilayah, termasuk Demak, Kabupaten Semarang, hingga Polda Aceh. Saya juga sempat bertugas di Mabes Polri sebelum akhirnya dipercaya menjadi Kapolres di Bangka Tengah, lalu Bangka Barat.
Apa perbedaan memimpin di Bangka Tengah dan Bangka Barat?
Secara budaya tidak jauh berbeda karena masih satu provinsi. Perbedaannya lebih pada karakter wilayah dan logat masyarakat.
Apa yang menjadi tantangan utama saat bertugas di Bangka Belitung?
Saat pertama datang, saya belum memahami dunia pertimahan. Ternyata timah itu bukan logam mengkilap seperti yang
dibayangkan, tetapi berupa pasir hitam. Dampaknya terhadap ekonomi masyarakat juga besar.
Saat harga turun, daya beli melemah dan potensi
kriminalitas meningkat.
Apakah penugasan Anda berkaitan dengan kasus besar timah di kasus besar timah di Babel?
Penempatan itu murni kebutuhan organisasi. Namun, bertugas di wilayah baru memberi pengalaman besar dalam memahami dinamika keamanan dan sosial masyarakat.
Bagaimana capaian penindakan kasus timah di Bangka Barat?
Sejak menjabat pada Maret 2025, kami sudah empat kali mengungkap kasus penyelundupan timah. Di antaranya sekitar 5 ton, 11,2 ton, 10 ton dalam bentuk balok, serta kasus lain seperti
penyelundupan pupuk bersubsidi.
Mengapa penindakan sering dilakukan saat barang sudah di kapal?
Ini dilema. Di satu sisi ada aturan hukum, di sisi lain banyak masyarakat bergantung pada tambang untuk hidup. Penambang kecil berbeda dengan penyelundup besar. Untuk kasus tertentu, kami menggunakan diskresi dengan tetap mengedepankan kemanusiaan.
Bagaimana membedakan penambang kecil kan penambang kecil dan jaringan besar?
Penambang kecil biasanya menggunakan alat sederhana dan hasilnya terbatas. Sementara penyelundupan melibatkan jaringan besar, bahkan lintas negara. Ini yang harus ditindak tegas karena merugikan negara.
Banyak kritik bahwa polisi hanya menangkap pekerja lapangan. Bagaimana tanggapan Anda?
Semua pelaku diproses sesuai perannya. Sopir, pekerja, hingga pemilik memiliki pasal berbeda.
Dalam beberapa kasus, pemilik juga sudah kami proses. Hanya saja, tidak semua terlihat oleh publik.
Mengapa aktivitas tambang ilegal seolah dibiarkan masyarakat?
Faktor ekonomi sangat berpengaruh. Lapangan kerja terbatas, sehingga masyarakat memilih jalur cepat untuk bertahan hidup. Ini persoalan kompleks yang tidak bisa dilihat dari satu sisi saja.
Apa kendala mengungkap aktor besar, termasuk yang diduga di masuk yang diduga di luar negeri?
Ada keterbatasan sarana, termasuk menghadapi kapal cepat yang sulit dikejar. Namun, beberapa pemilik sudah masuk tahap hukum. Tantangannya memang tidak mudah, apalagi jika melibatkan jaringan lintas negara.
Apakah Polres membutuhkan fasilitas khusus untuk mengatasi penyelundupan?
Kami menyadari keterbatasan, tetapi yang utama adalah penguatan sumber daya manusia dan manajemen pengawasan internal agar tugas berjalan optimal.
Selain kasus timah, Selain kasus timah, apa prioritas penanganan lain?
Kasus pencurian masih mendominasi. Kami meningkatkan patroli preventif pada lima waktu, dari pagi hingga dini hari, karena kejahatan banyak terjadi pada malam hari.
Apa pengalaman paling berkesan selama menjabat?
Saya sudah tiga kali menemukan bahan peledak, termasuk granat sisa Perang Dunia II di dekat permukiman warga.
Semua berhasil diamankan tanpa korban setelah berkoordinasi dengan Brimob. (Riu)