TRIBUN-SULBAR.COM- Salah satu yang luput dari perhatian dari manusia adalah Neuropati perifer atau gangguan saraf yang sering abaikan.
Padahal, hal ini bisa menyerang kepada siapa saja, terutama yang punya faktor memiliki risiko tertentu.
Gejala neuropati perifer biasa muncul pelan-pelan.
Baca juga: Pelajar Tewas Tabrakan di Jl RE Martadinata Mamuju, Ternyata Atlet Karate Binaan PPLP Sulbar
Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 178: Memahami Teks Persuasi
Mulai dari kesemutan, kebas, sampai nyeri di tangan dan kaki, yang kerap dianggap hal biasa.
Hal ini terungkap dalam webinar P&G Health Asia Pacific Virtual Media Roundtable, seperti dilansir dari Kompas.com,Kamis (16/4/2026).
Pasien diabetes jadi kelompok paling rentan.
Gula darah yang tidak terkontrol bisa merusak saraf secara bertahap.
“Neuropati perifer sering tidak disadari pada pasien diabetes, padahal dampaknya bisa serius,” ujar Dr Navin Kumar Nogen Adam.
Tak hanya itu, lansia juga masuk kelompok berisiko karena faktor usia yang memengaruhi fungsi saraf.
Penggunaan obat jangka panjang juga bisa jadi pemicu, terutama yang berdampak pada penurunan vitamin B12 yang penting bagi kesehatan saraf.
Selain itu, pola makan tertentu seperti vegetarian atau vegan yang tidak seimbang, infeksi seperti tuberkulosis, hingga penyakit kronis seperti gangguan ginjal turut meningkatkan risiko.
Para ahli menegaskan, neuropati perifer tidak disebabkan satu faktor saja, melainkan kombinasi berbagai kondisi.
Karena itu, penting untuk lebih peka terhadap gejala yang muncul.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang dan memicu komplikasi serius.
Deteksi dini dan konsultasi ke tenaga kesehatan jadi langkah penting untuk mencegah dampak lebih berat.(*)