Buntut Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel dan Lebanon, Netanyahu Justru Menolak Tarik Pasukan
Musahadah April 17, 2026 11:32 AM

 

SURYA.CO.ID - Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akhirnya mulai berlaku sejak Kamis (16/4/202) pukul 17.00 waktu setempat atau Jumat pagi waktu Indonesia, hingga 10 hari ke depan. 

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kesepakatan untuk menghentikan penyerangan itu tercapai berkat dirinya. 

Trump melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, menyebut gencatan senjata itu tercapai setelah dia menjalin komunikasi intensif dengan pemimpin kedua negara yang bertikai tersebut.

"Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun dari Lebanon yang sangat dihormati, dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel," tulis Trump.

Menurut Trump, langkah kesepakatan ini merupakan fondasi awal untuk menghentikan ketegangan bersenjata yang telah mengguncang kawasan tersebut selama lebih dari satu bulan terakhir.

Baca juga: Israel - AS Terpecah Belah? Netanyahu Kini Beda Jalan dengan Trump, Israel Tuntut 1 Hal Ini ke Iran

"Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa demi mencapai PERDAMAIAN di antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai GENCATAN SENJATA selama 10 hari pada pukul 17.00 EST," tambahnya.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan ini, Trump telah menginstruksikan jajaran kabinetnya untuk mengawal implementasi di lapangan agar konflik tidak kembali pecah setelah masa 10 hari berakhir.

"Saya telah mengarahkan Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Rubio, bersama dengan Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Razin’ Caine, untuk bekerja sama dengan Israel dan Lebanon guna mencapai PERDAMAIAN yang langgeng."

Trump juga berencana mengundang Presiden Aoun dan PM Netanyahu ke Gedung Putih dalam waktu dekat untuk melakukan diskusi yang lebih mendalam dan substantif.

"Kedua belah pihak ingin melihat PERDAMAIAN, dan saya yakin itu akan terjadi, dengan cepat!" tegas Trump.

Konflik bersenjata antara Israel dan Lebanon ini sendiri telah berlangsung selama kurang lebih enam minggu.

Operasi militer Israel di Lebanon menargetkan kelompok militan Hizbullah yang didukung oleh Iran.

Meski demikian, Hizbullah dilaporkan bukan merupakan pihak yang terlibat langsung dalam negosiasi formal antara pemerintah Lebanon dan Israel.

Dampak dari pertempuran ini sangat signifikan bagi warga sipil.

Tercatat lebih dari 1 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat intensitas serangan yang terus meningkat sebelum kesepakatan ini diumumkan.

Pemerintah Amerika Serikat berharap jeda pertempuran ini dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan serta menjadi pintu masuk bagi stabilitas jangka panjang di wilayah perbatasan kedua negara.

Netanyahu Ogah Tarik Pasukan

TERJERAT KORUPSI - Foto yang diambil dari Facebook GPO, Sabtu (28/2/2026), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato setelah Israel dan AS menyerang Iran pada Sabtu pagi. Di balik itu semua, ternyata Netanyahu terjerat kasus korupsi.
TERJERAT KORUPSI - Foto yang diambil dari Facebook GPO, Sabtu (28/2/2026), memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato setelah Israel dan AS menyerang Iran pada Sabtu pagi. Di balik itu semua, ternyata Netanyahu terjerat kasus korupsi. (Facebook Kantor PM Israel)

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya menyatakan kesepakatan terkait gencatan senjata sementara selama 10 hari dengan Lebanon.

Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel (IDF) tidak akan ditarik mundur sepenuhnya dan tetap akan berjaga di wilayah Lebanon selatan.

Netanyahu tetap bersikeras pada prinsip keamanannya.

Ia menyatakan pasukan Israel akan tetap bercokol di Lebanon selatan dalam bentuk "zona keamanan yang diperluas".

Keberadaan militer di sana diklaim untuk mengantisipasi potensi invasi susulan serta mencegah serangan roket yang diarahkan ke wilayah Israel utara.

"Netanyahu mengatakan dia menyetujui gencatan senjata sementara selama 10 hari, tetapi menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan," bunyi pernyataan resmi terkait sikap sang PM.

Di sisi lain, Lebanon menuntut penarikan total pasukan Israel. Perbedaan pandangan inilah yang membuat situasi di lapangan masih sangat cair.

PM Lebanon Menyambut Baik

Sementara itu Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyambut baik langkah ini meski dengan nada duka yang mendalam atas jatuhnya ribuan korban jiwa.

Ia menyampaikan apresiasi kepada negara-negara yang membantu mediasi, termasuk Amerika Serikat, Prancis, Arab Saudi, hingga Qatar.

"Sambil mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Lebanon atas pencapaian ini, saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para martir yang gugur, dan saya menyatakan solidaritas saya kepada mereka, kepada yang terluka, serta kepada warga yang terpaksa melarikan diri dari kota dan desa mereka. Saya sangat berharap mereka dapat segera kembali sesegera mungkin," ujar Salam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.