Curhat Mahasiswi Exchange Dilecehkan Guru Besar Unpad, Diminta Foto Bikini: Aneh & Tidak Profesional
Listusista Anggeng Rasmi April 17, 2026 01:04 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Seorang mahasiswi program pertukaran dari luar negeri membagikan curhatan panjangnya setelah menerima pesan yang tidak terduga dari seorang guru besar di Fakultas Keperawatan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung.

Ia mengaku awalnya mengira pesan tersebut hanyalah sapaan biasa dari seorang akademisi kepada mahasiswa, namun percakapan itu justru berkembang ke arah yang membuatnya sangat tidak nyaman.

Perasaan terkejut dan bingung pun muncul karena ia tidak menyangka seorang pengajar dengan jabatan tinggi dapat mengirimkan permintaan yang dinilai tidak pantas.

Situasi ini menjadi semakin mengejutkan ketika diketahui bahwa guru besar tersebut sudah memiliki istri dan anak, sehingga menambah lapisan kekecewaan dalam pengalaman tersebut.

Curhatan mahasiswi ini kemudian menyebar luas dan menjadi viral di media sosial, memicu berbagai reaksi dari publik.

Banyak warganet yang merasa geram dan prihatin atas apa yang dialami oleh mahasiswi tersebut dalam lingkungan akademik yang seharusnya aman.

Dalam tangkapan layar percakapan yang beredar, terlihat bahwa pelaku secara langsung meminta hal yang bersifat pribadi dan tidak pantas.

"Saya butuh fotomu saat berenang di pantai Phuket. Memakai bikini," tulis guru besar Unpad.

Baca juga: 16 Mahasiswa UI Dinonaktifkan Buntut dari Pelecehan ke Mahasiswi, Dilarang Injakan Kaki di Kampus

Ilustrasi pelecehan terhadap wanita
Ilustrasi pelecehan terhadap wanita (TribunLampung | TribunJambi)

Pesan tersebut menjadi salah satu bukti yang paling banyak disorot oleh publik karena dinilai melewati batas profesionalisme.

Tak hanya itu, percakapan tersebut juga diawali dengan nada yang tampak ramah dan biasa saja, sehingga membuat korban tidak langsung curiga.

"Hi, aku rindu kamu, gimana kabarnya ?" tulis guru besar.

Namun seiring berjalannya percakapan, nada komunikasi berubah menjadi semakin mengarah pada permintaan yang tidak semestinya.

"Aku masih menunggu style bikinimu," katanya, menunjukkan bahwa pelaku terus menekan mahasiswi meskipun permintaannya tidak direspons secara positif.

Kasus Diselidiki

Direktorat Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Jabar akan melakukan penyelidikan dugaan kekerasan seksual tersebut. 

"Iya akan lidik," ujar Direktur Direktorat PPA Polda Jabar, AKBP Rumi Utari.

Setelah menerima chat tersebut, mahasiswi asal luar negeri ini menulis curhatan.

Dia menjelaskan awalnya guru besar Unpad mengirim pesan lewat direct message Instagram.

"Sebenarnya dia mengirim DM ke aku di Instagram hari sabtu, dia cuma menulis Hi. Dan aku membalas Hi," katanya.

Ia menjelaskan maksud memberi balasan untuk mengetahui isi pembicaraan selanjutnya.

PELECEHAN DI UNPAD - Unpad nonaktifkan guru besar yang diduga lecehkan mahasiswi asing lewat permintaan foto bikini dan pesan tidak profesional di WhatsApp. ((Ist)/kolase Istimewa)

"Jujur cuma untuk lihat dia mau ngomong apa, tapi aku akan memblokirnya. Tapi setelah itu tidak ada kabar lagi dari dia. Aku kira aku sudah memblokirnya di Instagram saat aku masih di Indonesia," katanya.

Si mahasiwi langsung melaporkan ke dosen lain.

"Aku juga sudah menyampaikan pesan itu ke dosen lain dan menunjukan chatnya ke mereka. Mereka bilang akan berhenti menggunakan dia sebagai akomodasi untuk mahasiswa exchange," katanya.

Dia mengatakan bahwa guru besar Unpad ini sudah melakukan hal yang salah.

Terlebih lagi, pelaku sudah memiliki anak dan istri.

Baca juga: Sosok Munif Taufik Viral Usai Bongkar Grup Pelecehan Mahasiswa FH UI, Diduga Terlibat Sebagai Pelaku

"Tapi tidak apa-apa kalu kamu mau menggunakannya karena aku tahu dia sudah melakukan hal yang salah, meminta orang mengiri foto bikini, bilang dia merindukanku, itu sangat aneh dan tidak profesional. Apalagi dia sudah punya istri dan anak," tulisnya.

Perihal kasus ini, Rektor Unpad Prof Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menegaskan, kampus tidak menoleransi segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, dalam bentuk apa pun di lingkungan kampus.

Menyikapi dinamika yang berkembang saat ini, Unpad telah melakukan berbagai penelusuran. 

Setelah menerima laporan secara lengkap, pada hari yang sama Unpad segera mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dosen yang bersangkutan dari seluruh kegiatan akademik. 

Selanjutnya, Unpad langsung menjalankan prosedur penanganan dugaan kekerasan seksual sesuai dengan peraturan yang berlaku, dimulai dengan pembentukan tim investigasi untuk melakukan penelusuran secara obyektif dan menyeluruh dengan melibatkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unpad dan unsur senat fakultas. 

Dalam hal ini Unpad berkomitmen, apabila dalam proses investigasi terbukti adanya pelanggaran berupa tindakan kekerasan seksual, Universitas Padjadjaran akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

"Unpad akan konsisten melakukan proses pembuktian dan penindakan kekerasan sesuai dengan perundang-undangan dan memprioritaskan kepentingan dan keselamatan pihak yang menjadi korban. Itu berlaku untuk semua warga Unpad, termasuk dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan," ungkap Rektor Unpad, Prof Arief Sjamsulaksan Kartasasmita. 

Di luar kasus tersebut, Unpad menekankan bahwa penanganan tindakan kekerasan seksual perlu ditangani dengan penuh kehati-hatian. 

"Unpad akan selalu memperhatikan prosedur pembuktian dengan saksama melalui perangkat yang ada agar tidak menimbulkan keputusan yang keliru, walaupun titik keberpihakan Unpad adalah kepada korban," tegas Rektor. 

(TribunNewsmaker.com/ TribunnewsBogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.