Ke Mana Perginya 'Sang Ayah' pada Kaleng Biskuit Khong Guan?
Moh. Habib Asyhad April 17, 2026 01:34 PM

Ke mana perginya sang ayah dalam gambar ikonik di kaleng biskuit Khong Guan? Sang pelukis pun menceritakannya.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Hingga sekarang, masih menjadi pertanyaan, ke mana perginya "sang ayah" dalam kaleng biskuit Khong Guan. Gambar yang ada pada kaleng biskuit berwarna merah itu juga kerap menjadi parodi.

Yang tahu jawaban itu tentu saja sang kreator, dalam hal ini adalah sang pelukis gambar pada kaleng tersebut. Dialah Bernardus Prasodjo.

Mengutip Kompas.com, ilustrasi yang muncul pada kaleng Khong Guan itu dibuat sesuai pesanan perusahaan separasi film pada 1970-an. Bernadus menerima contoh gambar dari sebuah majalah sebagai inspirasi awal pembuatan ilustrasi ini.

"Mereka pesan banyak sekali gambar ke saya. Salah satunya Khong Guan itu," kata Bernardus dalam sebuah video yang diunggah ANTARA News di YouTube, dilaporkan oleh Kompas.com, Kamis (16/4/2026).

Potongan gambar tersebut tampak lusuh. Namun demikian, dia tetap mengikuti arahan yang diberikan pihak pemesan soal gambar yang diinginkan.

Gambar yang sampai saat ini menghiasi kaleng biskuit Khong Guan tidak banyak berbeda dengan gambar contoh yang disodorkan padanya. "Ya cuma ini bajunya warna kuning, yang ini merah. Kemudian anaknya yang ini rada digeser ke mari, yang ini jadi pegang biskuit. Ya begitu aja," jelas Bernadus.

Bernardus kemudian melanjutkan proses pembuatan gambar untuk kaleng biskuit ini, sesuai dengan komposisi gambar pada pesanan. "Kita sketch dulu. Kira-kira seperti ini mau enggak. Sampai sudah setuju kira-kira komposisinya seperti itu, baru kita lukis," kata Bernardus.

Menurut pria lulusan ITB itu, tidak adanya sosok “ayah” dalam gambar pada kaleng biskuit Khong Guan itu sejatinya dibuat tanpa sengaja. Bernadus sendiri tidak tahu persis alasannya. Secara pribadi, dia menilai gambar ini berkaitan dengan strategi promosi.

"Menurut saya itu cara untuk mempengaruhi ibu rumah tangga supaya membeli. Jadi yang penting ada ibunya di situ," ujar Bernardus. Dia melanjutkan, "Karena yang belanja ibunya kok.”

Sementara itu, sebagaimana ditulis Kompas.com, bila menelusuri sejarah ilustrasinya, jawaban atas misteri sosok ayah pada kaleng Khong Guan sebenarnya cukup sederhana. Bila dilihat dari sisi desain kemasan, gambar tersebut memang menonjolkan sosok ibu sebagai target utama konsumen.

Adapun bila dilihat dari sisi cerita ilustrasi asalnya, adegan di meja makan hanyalah satu bagian dari rangkaian cerita yang belum menampilkan kehadiran sang ayah. Dengan kata lain, ayah dalam keluarga itu tidak hilang, dia hanya belum muncul dalam adegan yang akhirnya dipilih sebagai gambar kemasan biskuit.

Penelusuran sejumlah peneliti ilustrasi menemukan bahwa gambar keluarga tersebut memiliki kemiripan dengan ilustrasi dalam buku anak-anak klasik Inggris terbitan 1959 dari penerbit Ladybird Books. Buku tersebut menampilkan ilustrasi karya seniman Inggris Harry Wingfield.

Dalam ilustrasi pertama yang sangat mirip dengan gambar di kaleng Khong Guan, terlihat ibu dan dua anak sedang menikmati teh sore hari.

Keterangan di halaman itu menyebutkan bahwa kegiatan tersebut berlangsung pukul empat sore. Pada halaman berikutnya, cerita berlanjut dengan menggambarkan anak-anak berlari menyambut seseorang yang baru datang ke rumah.

Keterangan di samping gambar menyebutkan: “Pada pukul enam sore ayah pulang.” Perlu diketahui, dua anak yang muncul dalam ilustrasi keluarga tersebut bernama Peter dan Jane.

Dalam kelanjutan cerita pada ilustrasi aslinya, keduanya kemudian digambarkan berlari ke halaman rumah untuk menyambut ayah mereka yang baru saja pulang dari bekerja. Artinya, sang ayah sebenarnya tidak hilang.

Dia hanya belum ada di rumah saat keluarga menikmati teh sore, karena masih berada di tempat kerja. Dua jam kemudian, ia kembali dan disambut gembira oleh istri serta anak-anaknya.

Terlepas dari pertanyaan ke mana perginya sosok ayah pada kaleng Khong Guan, ilustrasi keluarga tersebut tetap bertahan tanpa perubahan berarti selama lebih dari setengah abad. Khong Guan saat ini menjual biskuit kaleng dan pak dalam tiga ukuran yakni 300 gram, 650 gram, dan 1600 gram bersisi 13 macam biskuit.

Gambar sederhana di kaleng biskuit asal Singapura itu terus muncul setiap Ramadhan dan Lebaran, mengingatkan banyak orang pada masa kecil, tradisi keluarga, dan momen berkumpul bersama. Bisa jadi, misteri ayah di kaleng Khong Guan justru memancing rasa penasaran sehingga tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ilustrasi sederhana yang awalnya hanya desain kemasan, akhirnya berubah menjadi icon budaya yang melekat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Didirikan di Singapura, jadi favorit di Indonesia

Sebagaimana disinggung di awal, Khong Guan dibuat di Singapura. Meski begitu, biskuit ini adalah andalan orang-orang Indonesia terutama saat Lebaran tiba.

Pemilik Khong Guan adalah seorang imigran asal Fujian, China. Perusahaan ini didirikan oleh kakak-beradik Chew Choo Han dan Chew Coo Keng yang menetap di Singapura.

Menurut beberapa sumber, keduanya awalnya bekerja di sebuah pabrik biskuit lokal untuk menafkahi keluarga mereka di China. Lalu pada pertengahan 1940-an, Jepang menginvasi Singapura.

Karena itulah keduanya kemudian pergi ke Perak, Malaysia, untuk berlindung. Di sana, mereka membuat biskuit dengan tangan untuk dijual dan bertahan hidup.

Biskuit mereka cukup laku, tetapi ada kendala yang dihadapi, yakni kekurangan pasokan tepung dan gula. Karena sedikitnya pasokan bahan, keduanya banting setir, menjual garam juga sabun.

Singkat cerita, Jepang angkat kaki dari Singapura. Keduanya kemudian kembali ke negara kecil itu dan memulai bisnis biskuit lagi.

Mereka merintis Khong Guan ketika Chew Choo Han secara kebetulan menemukan beberapa mesin pembuat biskuit yang sudah tua dan rusak akibat perang. Mesin tersebut dari sisa pabrik tua tempat mereka dulu bekerja yang dijual pemiliknya.

Chew Choo Han kemudian memproduksi kue biskuit dengan mesin semi-otomatis itu. Mesin tersebut terbilang sederhana, penggeraknya menggunakan rantai sepeda untuk memindahkan biskuit pada sistem konveyor.

Tak butuh lama, bisnis biskuit itu melesat. Penjualannya meningkat tajam. Hingga pada 1947, Khong Guan Biscuit Factory (Singapore) Limited diresmikan di Singapura.

Dari situ, perusahaan tersebut kemudian melebarkan sayap hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia dan Malaysia. Pabrik Khong Guan juga berdiri di beberapa kota pesisir di China pada awal 1980-an.

Nah, di Indonesia sendiri, Khong Guan juga memproduksi kue-kue lain seperti Malkist rasa abon, Malkist Crackers, dan Khong Guan Saltcheese Combo. Tapi yang paling terkenal di antara itu semua adalah Khong Guan Red Assorted Biscuits.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.