Laporan Wartawan Wartakotalive.com Miftahul Munir dan M Rifqi Ibnumasy
WARTAKOTALIVE.COM, TANAH ABANG - Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu karena dinilai mengandung zat berbahaya bagi kesehatan.
Menurut Arifin, ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium.
“Karena harganya murah, ikan sapu-sapu itu sekitar Rp1.000 sampai Rp1.500 per kilogram,” ujar Arifin di Jakarta Pusat, Jumat (17/4/2026).
Arifin melanjutkan, Sudin Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Jakarta Timur sudah meneliti ikan sapu-sapu.
Di dalam ikan sapu-sapu mengandung zat merkuri, timbal dan kadium. Sebab, mereka selama berada di kali memakan lumpur dan kotoran.
Baca juga: Pramono Bongkar Fakta Mengejutkan 60 Persen Sungai Jakarta Dikuasai Ikan Sapu-sapu
Menurut Arifin, ikan sapu-sapu juga memiliki duri yang sangat keras sehingga dianggap sebagai predator karena tak bisa dimakan oleh hewan liar lainnya.
"Ada bakteri Salmonella dan parasitnya di dalam kandungan ikan sapu-sapu," tegasnya sambil menunjuk ke arah karung berisi ikan sapu-sapu.
Mantan Kasat Pol PP DKI itu menyatakan, Sudin KPKP Jakarta Pusat aktif mencari sampel siomay dari pedagang di wilayahnya.
Ia berharap, para pedagang tidak menggunakan ikan sapu-sapu untuk dijadikan makanan olahan karena berbahay bagi kesehatan masyarakat.
"Aliran dengan limbah tinggi, ikan sapu-sapu ini masih tetap bisa bertahan hidup. Semua bisa dia serap itu limbahnya," tandasnya.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel) Muhammad Anwar menyinggung oknum penjual siomay yang memakai adonan daging ikan sapu-sapu.
Hal itu disampaikan Anwar saat giat perburuan ikan sapu-sapu di aliran irigasi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa pada Jumat (17/4/2026).
Anwar mengaku mendapatkan informasi, daging ikan sapu-sapu kerap diolah menjadi siomay.
Padahal, ikan yang hidup di aliran air tercemar tersebut berbahaya untuk dikonsumsi manusia.
Baca juga: Wali Kota Jaksel Targetkan Tangkap 5 Ton Ikan Sapu-sapu di Irigasi Setu Babakan
Untuk itu, Ia meminta agar masyarakat lebih selektif saat membeli jalanan agar tidak berdampak negatif bagi kesehatan.
“Itu kan informasi, saya khawatir nanti yang tidak tahu asal makan-makan akhirnya dampak penyakitnya tidak hari ini, ke depan mungkin 2, 3 tahun, 4 tahun yang akan datang,” kata Anwar.
“Mudah-mudahan masyarakat semakin pintar, semakin mengerti jajanan yang berkualitas,” sambungnya.
Selain itu, ikan yang memiliki nama latin hypostomus plecostomus itu juga bersifat invasif dan merusak ekosistem perairan.
Maraknya penggunaan daging ikan sapu-sapu dalam pembuatan siomay juga menjadi kekhawatiran bagi masyarakat.
Seorang warga, Labib Dary (30) mengaku ragu membeli siomay di jalanan imbas isu yang beredar.
“Jujur saya enggak bisa membedakan, siomay yang pakai ikan sapu-sapu atau bukan,” kata warga Pondok Cina, Depok.
Bagi Labib, oknum penjual siomay yang menggunakan ikan sapu-sapu sangat merugikan konsumen dan pedagang yang jujur.
“Kasihan juga pedagang yang jujur jadi kehilangan konsumen gara-gara oknum nakal,” pungkasnya