Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) menggencarkan pendekatan edukasi kepada masyarakat untuk menghentikan konsumsi ikan sapu-sapu karena dinilai berisiko bagi kesehatan.
"Yang penting, kita beri imbauan terus, kita memberi edukasi kepada masyarakat bahaya konsumsi ikan sapu-sapu," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin usai operasi penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak di Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung, Cililitan, Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat.
Edukasi tersebut dilakukan seiring temuan ikan tersebut mengandung zat berbahaya karena hidup di perairan yang tercemar.
Munjirin menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat yang selama ini memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai bahan pangan.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Timur Taufik Yulianto menjelaskan hasil uji laboratorium menunjukkan ikan sapu-sapu di perairan Jakarta tidak layak dikonsumsi karena mengandung logam berat.
"Hasil laboratorium menyatakan ikan sapu-sapu di Jakarta berbahaya untuk dikonsumsi," ujar Taufik.
Menurut dia, dampak konsumsi ikan tersebut tidak selalu dirasakan secara langsung, namun berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang akibat akumulasi zat berbahaya di dalam tubuh.
Oleh karena itu, edukasi terus dilakukan, terutama kepada masyarakat yang belum memahami risiko tersebut.
Taufik berharap dengan meningkatnya kesadaran publik, maka konsumsi ikan sapu-sapu dapat ditekan secara bertahap.
Selain edukasi, Pemkot juga menyiapkan langkah lanjutan berupa pemulihan ekosistem perairan dan penebaran ikan lokal, seperti nila agar masyarakat memiliki alternatif sumber pangan yang lebih aman.
Dengan kombinasi edukasi dan pemulihan lingkungan, Pemkot Jakarta Timur optimistis kebiasaan konsumsi ikan sapu-sapu akan berkurang dan kesehatan masyarakat lebih terjaga.
Lebih lanjut, Taufik meyakini lewat edukasi yang dilakukan secara terus-menerus, masyarakat bersedia meninggalkan konsumsi ikan sapu-sapu. Seiring waktu, populasi ikan tersebut diharapkan berangsur menurun dan memberi kesempatan bagi ikan-ikan lokal untuk berkembang.
Dari sisi kesehatan, Taufik mengungkapkan larangan konsumsi ikan sapu-sapu didasarkan pada hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh dinas terkait.
Hasil tersebut menunjukkan ikan sapu-sapu yang hidup di perairan Jakarta mengandung zat berbahaya dan tidak layak dikonsumsi.
Kandungan logam berat di dalam tubuh ikan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membahayakan kesehatan manusia. Logam itu berasal dari lingkungan perairan yang tercemar, sehingga terakumulasi di dalam tubuh ikan sapu-sapu.
Meski demikian, Taufik mengakui secara teori, ikan sapu-sapu yang hidup di perairan bersih berpotensi untuk dikonsumsi.
Namun untuk konteks Jakarta, pemerintah secara tegas tidak merekomendasikan hal tersebut karena kondisi perairan yang belum memenuhi standar.
"Kalau misalkan ikan sapu-sapu itu berada di perairan yang bersih, kemungkinan bisa dikonsumsi. Tapi untuk di Jakarta, kita tidak merekomendasikan," ungkap Taufik.
Terkait dampak kesehatan, dia menjelaskan efek konsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu terlihat secara langsung. Namun dalam jangka panjang, paparan logam berat dapat berdampak pada kondisi fisik manusia.
Dia juga mengakui sampai dengan saat ini, belum ada kajian rinci yang menjelaskan secara spesifik dampak klinis yang ditimbulkan akibat konsumsi ikan sapu-sapu, seperti kerusakan organ tertentu. Namun, prinsip kehati-hatian tetap dikedepankan untuk melindungi masyarakat dari berbagai potensi risiko.
Seperti diketahui, Pemkot Jakarta Timur menggelar operasi penangkapan ikan sapu-sapu secara serentak di 10 kecamatan sebagai langkah konkret menjaga keseimbangan ekosistem sungai sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.
Hasil penangkapan mencapai 763 kilogram atau 7,63 kuintal ikan sapu-sapu dalam operasi serentak yang digelar di 10 kecamatan.





