TRIBUNJABAR.ID - Di saat remaja seusianya sibuk dengan gawai dan bangku sekolah, bocah berusia 15 tahun di Bandung Barat ini justru harus memikul beban berat di pundaknya.
Setiap hari, ia menyusuri jalanan demi menjajakan cuanki.
Ia menukar peluh dan lelah demi satu tujuan mulia, yaitu meringankan beban ekonomi orang tuanya yang sedang kesulitan.
Bocah 15 tahun ini bernama Syahrul, secara tak disengaja bertemu dengan Bripka Rizky Hikmat, polisi sekaligus influencer kemanusiaan.
Bripka Rizky menemui Syahrul saat sedang menyusuri jalanan sembari memikul dagangannya.
Baca juga: Kisah Pilu Ayah Banjaran Tolong Korban Hanyut Ternyata Anak Sendiri, Ungkap Ucapan Terakhir Ginasya
Saat dihampiri, di balik wajahnya yang lelah, Syahrul masih bisa melempar senyum manisnya.
Bahkan saat ditegur apakah dirinya tak sekolah, Syahrul hanya tersenyum sembari mengangguk.
Melihat kondisi Syahrul yang tampak kecapekan, Bripka Rizky menawarinya makan di warung makan.
Saat ditawari, dengan wajah polos dan tersenyum malu, Syahrul mengiyakan tawaran tersebut.
Meski membawa dagangan yang bisa mengganjal perutnya, Syahrul menahan lapar.
Selesai makan, Syahrul pun berbincang dengan Bripka Rizky yang penasaran dengan alasan bocah 15 tahun itu memilih menjadi penjual cuanki hingga putus sekolah.
Kepada polisi yang berdinas di Polres Cimahi itu, Syahrul mengaku dirinya sudah cukup lama berdagang.
Ia mengaku memilih berdagang untuk membantu orang tuanya.
Syahrul hanya tamatan SD dan tak melanjutkan pendidikannya ke SMP.
Lagi-lagi, alasannya putus sekolah karena juga ingin membantu orang tuanya.
Sehari-hari ayahnya bekerja serabutan, terkadang menjual kambing orang lain dan mengurus ternak orang lain.
Sebelum berjualan cuanki, ia juga sempat membantu ayahnya untuk mencari rumput untuk pakan kambing.
Syahrul tinggal di Cipongkor, Kabupaten Barat, namun karena berdagang cuanki, ia mengontrak tinggal dengan kakaknya.
Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Syahrul mengaku jika dirinya masih ingin bersekolah seperti teman-teman sebayanya.
Setelah mendengar kisah Syahrul tersebut, Bripka Rizky Hikmat mengadu kepada Dedi Mulyadi seolah menunjukkan rasa bangganya untuk Syahrul.
“Pak Dedi yeah, budak 15 tahun dagang cuanki jang ngabantuan sepuhna, luar biasa Pak Dedi,” ujar Bripka Rizky Hikmat.
Baca juga: Kisah Pilu Gadis Desa di Sukabumi Yatim Piatu Jadi Korban Bully hingga Putus Sekolah
Tak sampai di sana, polisi itu membantu memborong dagangan Syahrul lalu dibagikan kepada masyarakat yang kelaparan.
Kemudian Syahrul juga diberi bingkisan berupa sembako untuk dibawa ke kontrakan.
Pesan Pelajaran Hidup
Ada beberapa hikmah dan pesan pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah Syahrul tersebut.
Di usia 15 tahun, secara psikologis remaja sedang berada pada fase mencari jati diri dan cenderung mementingkan keinginan pribadi (self-centered).
Namun, Syahrul memilih menekan egonya untuk bermain atau bersekolah demi meringankan beban orang tua.
Kedewasaan seseorang tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemampuannya memikul tanggung jawab dan empati terhadap kesulitan orang terdekat.
Meskipun lelah memikul dagangan dan menahan lapar, Syahrul tetap melempar senyum manis saat dihampiri. Ini adalah bentuk resiliensi atau daya lenting mental yang luar biasa.
Secara formal, Syahrul memang putus sekolah (hanya tamatan SD).
Namun, secara informal, ia sedang mempelajari "kurikulum kehidupan" yang sangat sulit: etika kerja, manajemen keuangan, hingga ketahanan mental.
Melihat Syahrul yang tetap tersenyum meski hidup dalam keterbatasan fisik dan ekonomi, seharusnya menjadi cermin bagi kita yang sering mengeluh dalam kecukupan.
Pertemuan Syahrul dengan Bripka Rizky Hikmat menunjukkan bahwa orang baik akan dipertemukan dengan orang baik.
Aksi memborong dagangan dan mengadu kepada tokoh seperti Dedi Mulyadi adalah bentuk solidaritas sosial.