Lecehkan Santri Laki-laki, Syekh Ahmad Al-Misry Dilaporkan ke Polisi, Korban Trauma & Nyaris Murtad
jonisetiawan April 17, 2026 03:38 PM

Nama Syekh Ahmad Al-Misry mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah terseret dalam kasus serius yang mengguncang dunia pendidikan keagamaan.

Sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pendakwah itu kini dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri laki-laki.

Kabar ini menyebar cepat dan memicu kegemparan luas. Di tengah masyarakat, muncul rasa keterkejutan sekaligus keprihatinan mendalam bagaimana mungkin figur yang selama ini dihormati justru diduga melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai yang diajarkannya.

Dugaan Manipulasi Berkedok Agama

Dalam pengungkapan kasus ini, Abi Makki membeberkan pola yang diduga digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. Ia menyebut adanya upaya sistematis untuk memanipulasi pikiran korban dengan menggunakan dalih-dalih agama.

Pelaku, kata dia, diduga membungkus tindakan menyimpang tersebut dengan narasi yang seolah-olah memiliki legitimasi dalam sejarah Islam.

Cara ini disebut sangat efektif untuk melemahkan daya kritis para santri yang memang sedang dalam fase belajar dan mencari pemahaman agama.

"Ada dua hal. Pertama, 'Rasulullah aja melakukan hal ini dengan Ali bin Abi Thalib.' Itu yang membuat kami nggak bisa menerimanya," ungkap Ustadz Abi Makki dikutip TribunTrends dari YouTube Seleb Oncam News, Jumat, 17 April 2026.

Tak berhenti di situ, dugaan manipulasi juga dilakukan melalui pembenaran terhadap perilaku yang tidak pantas.

"Terus yang kedua, ada beberapa korban yang diajak menyaksikan tayangan yang tidak baik. 

Setelah itu, ‘Kok nonton ini?’ Jawabannya, ‘Kalau Imam Syafi'i ada, dia juga pasti nonton ini.’ Ini ngeri sekali, ini sama sekali tidak diterima, ngeri sekali," lanjutnya.

SANTRI ALAMI PELECEHAN - Ilustrasi seorang santri.
SANTRI ALAMI PELECEHAN - Ilustrasi seorang santri. Syekh Ahmad Al-Misry terseret kasus pelecehan terhadap santri laki-laki, pelaku diduga menggunakan narasi keagamaan untuk membenarkan perilaku yang tidak pantas. (Istimewa)

Iming-iming dan Jerat Kepercayaan

Selain menggunakan dalih agama, pelaku juga diduga memanfaatkan janji-janji yang menggiurkan untuk menarik simpati korban.

Tawaran kesempatan kuliah ke Mesir hingga gelar hafiz Al-Qur’an bersanad disebut menjadi umpan yang membuat para santri merasa istimewa.

Sebagian besar korban diketahui merupakan penghafal Al-Qur’an yang memiliki dedikasi tinggi dalam menuntut ilmu. Kedekatan dengan sosok yang dianggap guru besar membuat mereka menaruh kepercayaan penuh yang kemudian justru diduga disalahgunakan.

Luka Psikologis yang Dalam

Menurut Abi Makki, dugaan peristiwa ini bukan hal baru. Ia menyebut tindakan tersebut diduga telah berlangsung sejak 2021.

Para korban baru berani bersuara setelah sekian lama diliputi rasa takut, kebingungan, dan trauma mendalam.

Dampak psikologis yang ditimbulkan disebut sangat serius. Tidak hanya mengguncang mental, tetapi juga menggoyahkan keyakinan sebagian korban terhadap sosok yang selama ini mereka hormati.

“Trauma ada. Yang korban itu rata-rata paling tidak hafal 10 juz Al-Qur’an, bahkan ada yang menjadi imam masjid.

Sampai ada yang berkata, kalau kejadian ini benar, mungkin saya bisa jadi murtad. Karena sosok yang dibanggakan justru melakukan hal seperti itu,” ungkap Ustaz Abi Makki.

Lebih memprihatinkan lagi, beberapa korban disebut masih berusia di bawah umur. Dalam kondisi tersebut, pelaku diduga memanfaatkan celah psikologis sehingga korban merasa tidak memiliki kuasa untuk menolak.

“Seperti di-blank, tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menurut. Ada juga yang sempat melawan, tapi kebanyakan bingung dengan apa yang terjadi,” ujar Ustaz Abi Makki.

Keberanian yang Membuka Jalan

Proses pengungkapan kasus ini tidaklah mudah. Rasa takut, keraguan, dan kekhawatiran akan stigma sempat membuat para korban memilih diam.

Namun pada akhirnya, keberanian untuk berbicara muncul. Para korban mulai saling menguatkan dan memutuskan untuk melapor, membuka tabir dugaan kasus yang selama ini tersembunyi.

Kini, mereka terus menjalin komunikasi satu sama lain sebagai bentuk dukungan dalam proses pemulihan.

Harapan mereka sederhana namun kuat: tidak ada lagi korban lain yang harus mengalami hal serupa di masa depan.

Di tengah proses hukum yang berjalan, kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang sangat berharga dan ketika disalahgunakan, dampaknya bisa jauh melampaui luka fisik, menyentuh hingga ke dalam keyakinan dan jati diri seseorang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.