Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Komponen gamelan milik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) dicuri orang.
Kerugian kampus ditaksir mencapai Rp12,5 juta.
Dosen Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa UGM, Rudy Wiratama, menerangkan pencurian gamelan di Gedung Margono diketahui setelah ada mahasiwa yang melapor.
Setelah ditelusuri dan melakukan pengecekan CCTV, rupanya memang ada dua orang tidak dikenal yang melakukan pencurian.
"Kejadiannya Selasa (14/4/2026) sore tapi baru diketahui Rabu (15/4/2026), karena ada mahasiswa yang lapor. Jadi pelakunya ini dua orang, berboncengan, turun dari pintu selatan, kemudian naik dia, naik ke ruang gamelan. Yang pertama itu gagal karena di dalam ruang gamelan masih ada beberapa mahasiswa. Sekitar jam 12.00, yang kedua sekitar jam 3 sore, sudah sepi karena suasana Ujian Tengah Semester (UTS)," katanya, Jumat (17/4/2026).
Gamelan yang dicuri adalah demung berbahan perunggu. Ada tujuh bilah demung yang digondol pencuri.
"Yang diambil bilahnya, karena itu kan bisa dimasukkan tas. Kalau dengan rancakannya itu ya berat, bisa sampai 20-30 Kg. Kalau harga sekarang (bilah demung) sekitar Rp 12,5 juta, kalau dengan rancakannya ya bisa lebih," sambungnya.
Baca juga: Mahasiswa UGM Kembangkan Stiker Pintar dari Ekstrak Kulit Buah Naga untuk Pantau Kualitas Daging
Pihaknya tidak bisa mengidentifikasi pelaku pencurian.
Namun, dari CCTV yang ditemukan, ada indikasi pelaku juga melakukan pencurian gamelan di universitas lain.
Ia menyebut pihaknya berkoordinasi dengan ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta, kedua kampus tersebut mengalami pencurian gamelan.
"Dari hasil pantauan CCTV ini orang baru. Kita tidak mengenali orang tersebut siapa. Tapi ketika kita cocokkan dengan institusi lain yang juga kehilangan gamelan, baik itu ISI Yogyakarta maupun ISI Surakarta, itu ada indikasi orangnya itu sama, identik," terangnya.
Peristiwa tersebut telah dilaporkan ke pihak ke Polsek Bulaksumur.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, kampus menjadikan ruang gamelan tersebut hanya bisa dibuka oleh pihak-pihak tertentu yang berwenang.
Misalnya dosen akan mengadakan kelas, bekerja sama dengan penanggung jawab gedungnya.
"Sebenarnya kan kita juga sudah tidak kurang-kurang, dalam artian ruang gamelan itu kan juga ruangan yang tertutup dan sudah di lantai empat, ada CCTV juga. Kalau tidak ada CCTV kan kita tidak bisa memantau pergerakan. Bukan berarti selama ini tidak akan ya, karena selama ini teknisnya kan kita juga kunci ada dalam penguasaan pihak keamanan. Dan itu ndilalah (kebetulan) si pencuri pas jam perkuliahan. Jadi memanfaatkan masa-masa yang jeda. Karena kita analisis dia datang pada saat jam makan siang sebelum jam perkuliahan yang jam 13.00 itu," pungkasnya. (*)