TRIBUNKALTIM.CO - Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, kembali menjadi sorotan nasional setelah meraih Harmony Award 2025 sebagai juara dua tingkat nasional.
Prestasi ini menjadi bukti nyata keberhasilan daerah perbatasan tersebut dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Namun, pemerintah daerah tidak berhenti pada pencapaian tersebut.
Sebaliknya, langkah inovatif langsung disiapkan untuk memperkuat nilai toleransi yang telah terbangun di tengah masyarakat.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Nunukan, Hasan Basri, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut mencerminkan kondisi sosial yang harmonis di wilayahnya.
Baca juga: Kasus Karhutla di Nunukan Meningkat Tajam, BPBD Minta Warga Hentikan Pembakaran Hutan
“Kerukunan umat beragama di Nunukan sudah terbukti berjalan dengan baik,” ujarnya, Jumat (18/4/2026).
Miniatur Rumah Ibadah Semua Agama
Sebagai tindak lanjut, pemerintah daerah berencana membangun kawasan miniatur rumah ibadah dari berbagai agama yang ada di Kabupaten Nunukan.
Proyek ini menjadi simbol nyata keberagaman yang hidup berdampingan secara damai.
Pembangunan akan dimulai dari miniatur vihara, sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Buddha yang merupakan kelompok minoritas di wilayah tersebut.
“Walaupun minoritas, tetap harus diperhatikan,” jelas Hasan Basri.
Baca juga: Harga Rumput Laut Nunukan Naik Jadi Rp17 Ribu, Petani Diminta Jaga Kualitas
Menariknya, vihara tersebut tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga akan difungsikan sebagai tempat ibadah bagi umat Buddha yang selama ini belum memiliki fasilitas ibadah khusus.
Dibangun Bertahap dan Berbasis Harmoni
Setelah pembangunan vihara, pemerintah akan melanjutkan pembangunan miniatur rumah ibadah lainnya seperti masjid, gereja, pura, hingga klenteng secara bertahap.
Konsep miniatur dipilih agar kawasan tersebut menjadi representasi keberagaman, bukan untuk kegiatan ibadah massal, kecuali vihara yang memiliki fungsi aktif.
Lokasi pembangunan direncanakan berada di sekitar kawasan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Nunukan, sehingga semakin memperkuat peran lembaga tersebut sebagai penggerak harmoni sosial.
Wisata Spiritual dan Edukasi Toleransi
Tidak hanya sebagai simbol toleransi, kawasan ini juga akan dikembangkan menjadi destinasi wisata spiritual.
Baca juga: Pencuri Sound System Masjid di Sebatik Utara Nunukan Ditembak Polisi saat Mencoba Kabur
Kehadiran miniatur rumah ibadah di satu kawasan diharapkan mampu menarik perhatian wisatawan sekaligus menjadi sarana edukasi tentang pentingnya hidup berdampingan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup damai,” kata Hasan Basri.
Konsep ini juga diharapkan dapat memperkuat identitas Nunukan sebagai daerah yang menjunjung tinggi keberagaman.
Pemerintah memastikan bahwa rencana pembangunan ini telah melalui kajian matang serta proses sosialisasi kepada tokoh-tokoh agama di Nunukan.
Meski masih ada sebagian pihak yang belum sepenuhnya memahami konsep tersebut, pemerintah optimistis dukungan masyarakat akan terus menguat seiring pemahaman yang lebih baik.
Baca juga: Dinas Pendidikan Nunukan Siapkan Sekolah Rakyat untuk Anak Kurang Mampu hingga Anak PMI
“Jika ada yang belum setuju, kemungkinan karena belum memahami konsepnya,” tambahnya.
Nunukan sebagai Wajah Toleransi Indonesia
Melalui proyek ini, Nunukan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai wilayah perbatasan, tetapi juga sebagai contoh nyata toleransi beragama di Indonesia.
Upaya ini menjadi refleksi bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan. Pemerintah daerah pun menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keharmonisan sosial.
“Kita ingin masyarakat hidup nyaman tanpa perpecahan, meskipun berbeda keyakinan,” pungkas Hasan Basri. (*)