TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Florist kini tak lagi dipandang sebagai pelengkap semata.
Di kalangan mahasiswa, buket bunga telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup yang hadir di setiap momen.
Tak heran, kedai florist kian menjamur di sekitar Universitas Negeri Semarang.
Tangan-tangan terampil terlihat sibuk merangkai bunga di sebuah kedai kecil, Shaa Florist, di Jalan Taman Siswa Sekaran, Gunungpati, Kota Semarang, Jumat (17/4/2026).
Bunga hidup, artifisial, dan beragam aksesories tersusun rapi. Beberapa buket siap dipetik sang pemilik.
Satu per satu pelanggan datang. Ada yang masih melihat-lihat dan bertanya sebelum memutuskan untuk membeli, ada pula yang sudah tahu persis ingin memesan buket jenis apa.
Owner Shaa Florist, Annisatul Khairiyah mengatakan, sudah menggeluti usaha buket sejak 2021.
Tren buket sebagai hadiah untuk momen-momen spesial terus berubah.
Ada buket snack, buket bunga fresh, buket bunga artifisial, buket boneka, buket balon, hingga beragam konsep hadiah lainnya.
Baca juga: TKD Turun, Bank Jateng Siap Tambah Pembiayaan Daerah hingga Rp 1 Triliun
Saat ini, buket hadiah yang sedang digandrungi anak muda adalah buket thumbelina.
Sebuah rangkaian bunga populer yang terinspirasi dari karakter dongeng thumbelina berisi campuran bunga kecil berwarna-warni dibalut dengan sampul satu warna.
Buket bunga thumbelina ini bisa menggunakan bunga artifisial ataupun bunga asli. Harganya dibanderol mulai Rp 75 ribu.
"Tapi, yang sering dicari di kisaran harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu," sebutnya.
Sebelum bunga thumbelina, sambung Annisa, sempat ngetrend buket bunga satin. Bunga satin merupakan bunga artifisial terbuat dari pita.
Proses pembuatan memakan waktu cukup lama. Sehingga, bunga ini dibanderol sedikit lebih mahal yakni mulai dari kisaran Rp 120 ribu.
Sementara, buket yang laris manis di berbagai momen adalah buket snack.
Menurut Annisa, buket ini selalu eksis karena haganya yang terjangkau. Ia membanderol buket snack mulai dari Rp 25 ribu.
"Kalau snack itu best seller karena terjangkau tapi bentuknya sudah terlihat besar," ujarnya.
Jika mendekati momentum wisuda, Annisa mengungkapkan, pesanan masuk bisa mencapai 50 permintaan.
Belum lagi, customer yang membeli secara langsung.
Tak hanya momen wisuda, momen mahasiswa menjalani seminar proposal, sidang skripsi, sidang thesis, berbagai kegiatan kampus juga menjadi peluang untuk dirinya meraup cuan.
Terlepas dari kegiatan kampus, momentum seperti valentine, hari ibu, hari guru juga menjadi peluang.
Rata-rata omzet yang didapatkan sekira Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per bulan
Tingginya minat masyarakat terhadap pemberian hadiah di momen-momen tertentu membuat usaha florist kini kian menjamur di wilayah kampus.
Bagi Annisa, perlu strategi pemasaran untuk bisa tetap menggaet customer yakni dengan mempertahankan kualitas dan terus mengikuti tren.
"Customer meminta apa, belum pernah bikin tetep, kami terima. Itu justru menambah katalog bagi saya," ucapnya.
Buket bunga ini tidak hanya soal hadiah. Bagi sebagian orang, buket menyimpan makna emosional.
Hal ini diungkapkan oleh seorang customer, Tri Wahyuningsih, yang membeli buket untuk anak kosnya yang wisuda.
"Beli buket ini sebagai tanda cinta kasih. Anak-anak kos saya yang jauh dari orang tua, jadi kami anggap seperti keluarga sendiri saat ngekos di tempat saya.
Ketika ada yang wisuda, saya selalu memberi hadiah," ucapnya
Setiap membeli buket untuk hadiah anak kosnya, ia pun tidak begitu mengikuti tren.
Buket yang nampak cantik, langsung ia ambil dan tak pikir lama untuk membayarnya.
Baginya, buket apapun memiliki daya sentuh yang mendalam.
Tak jarang, penerima terharu dan menangis saat diberi hadiah berupa buket karena merasa dihargai dan diperhatikan.
"Kalau wisuda saya kasih buket. Terus, saya juga kasih hadiah, entah tas atau barang yang lain.
Saat memberikan itu menjadi momen haru biasanya sampai nangis," ungkapnya. (eyf)