TRIBUNMANADO.CO.ID - Bina Remaja GMIM, renungan dalam sepekan mulai 19 - 25 April 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Kisah Para Rasul 10:34-43.
Tema perenungan adalah Orang Yang Takut Akan Dia Dan Yang Mengamalkan Kebenaran Berkenan Kepada-Nya.
Khotbah:
Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, lingkungan pergaulan atau circle pertemanan kita
akan menjadi toxic jika di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan tertentu, misalnya "si A badannya gemuk, tidak usah
diajak bergaul", atau "si B tidak terlalu pintar, jangan diajak berteman", dan sebagainya.
Hal-hal tersebut adalah persoalan atau isu yang dapat dikatakan rasis.
Persoalan tentang rasisme ini ternyata sudah menjadi persoalan yang sangat kuno di berbagai belahan bumi ini.
Perbedaannya bukan hanya membahas tentang permasalahan body weight,warna kulit, ras, dan sebagainya, tetapi
juga masalah kepercayaan.
Dalam Kisah Para Rasul 10, Kornelius adalah seorang perwira dalam pasukan Romawi.
Ia bukan seorang Yahudi yang artinya Komelius masuk ke dalam kategori "orang kafir" yang berasal dari bangsa kafir dan tentu saja orang-orang Yahudi sangat menjauhi mereka.
Tetapi menariknya, bahwa Allah memperhatikan ibadah Kornelius. Kornelius disebut sebagai orang yang saleh (ayat 2).
Akan tetapi kesalehannya itu belum berdasar kepada pemahaman yang benar, dan Allah menaruh perhatian tentang itu.
Saat itu belum ada bangsa non Yahudi yang percaya kepada Yesus.
Di saat itulah Tuhan mengutus Petrus melalui sebuah penglihatan ketika ia sedang berdoa. Dalam penglihatan itu
Petrus melihat beberapa binatang berkaki empat yang ia sebut haram, tetapi Tuhan mengatakan bahwa apa yang dikatakan halal oleh Tuhan jangan dikatakan hararn (ayat 15).
Petrus tidak mengerti dan terus bertanya-tanya apa maksud tersebut tetapi Petrus berusaha untuk tetap mengerjakan apa yang Tuhan perintahkan kepada-Nya.
Ia pergi bersama dengan orang suruhan Kornelius. Ketika Petrus sampai di rumah Kornelius, dan melihat ada banyak orang berkumpul menanti kedatangannya, dan orang-orang itu tentu saja bukan orang Yahudi.
Ia menjadi paham apa maksud Tuhan di dalam penglihatan itu.
Petrus yang tadinya memahami karya keselamatan Yesus hanya untuk orang Yahudi karena Yesus orang
Yahudi maka di luar orang Yahudi keselamatan itu tidak berlaku.
Pemahaman Petrus tentang eksklusivitas keselamatan itu langsung berubah dan dengan lantang Petrus menceritakan
kembali keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus.
Petrus begitu berani bersaksi dan dalam narasi ini kembali diceritakan bagaimana kuasa Roh Kudus memenuhi setiap pendengar, Menariknya juga, orang-orang yang datang bersama Petrus (Ayat 45) mengerti bahwa temyata karya keselamatan yang dikerjakan Yesus adalah untuk semua bangsa bukan hanya untuk orang Yahudi saja.
Paling tidak, orang-orang yang datang bersama Petrus menjadi saksi atas peristiwa itu dan mengkonfirmasi fakta
bahwa memang Yesus Kristus datang untuk menyelamatkan semua bangsa.
Kematian dan kebangkitan-Nya dimaksudkan bagi penyelamatan setiap orang berdosa yang percaya kepada nama
Nya, menerima hidup baru, yakni dalam hubungan yang baru dengan Allah.
Dalam peristiwa itu, orang-orang non Yahudi pada akhirnya dibaptis di dalam nama Yesus Kristus.
Sebuah pengalaman baru bagi Petrus yakni bertemu dan membaptis orang-orang dari kalangan non Yahudi di tempat orang kafir.
Secara sederhana, kita belajar dua hal melalui peristiwa ini. Pertama, Tuhan mengasihi semua bangsa, Tuhan tidak membedabedakan orang.
Semua orang dikasihi-Nya. Bahkan sejak awal, ketika Tuhan menetapkan bangsa Israel, Tuhan menaruh perintah
kepada mereka untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.
Demikian dengan kita pada masa kini. Tuhan meminta kita untuk berjuang jadi berkat bagi orang lain, menjauhi sikap-sikap pilih kasih, rasis, dan sebagainya. Kita tidak bisa cuek dan masa bodoh dengan apa yang terjadi dengan orang lain.
Tuhan mau Petrus dan para rasul yang lain menjangkau bangsa-bangsa lain, yakni menjangkau mereka yang belum percaya.
Tuhan juga mau kita melakukan hal yang sama. Di dalam pergaulan, di sekolah dan tempat bekerja, Tuhan mau kita menyatakan kasih Tuhan yang luas itu, Tuhan mau kita memperkenalkan tentang pribadi dan karya keselamatan-Nya kepada mereka yang belum mengenal dan belum memahami secara utuh.
Kedua, penting untuk mengingat bahwa Tuhan menyatakan maksud dan rencana-Nya kepada Petrus dan Komelius ketika mereka berdoa.
Betapa pentingnya kita belajar untuk lebih disiplin dalam berdoa. Ada banyak orang yang mungkin sangat setia beribadah, belajar tentang Amanat Agung Tuhan Yesus dan bagaimana melakukan penginjilan, tetapi sayang sekali sangat kurang di dalam hal berdoa.
Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan kita sendiri, melainkan melalui doa kita mengakui bahwa kita butuh pertolongan dari Tuhan.
Sebagai pembina dan remaja Kristen, kita perlu terus menyadari panggilan kita sebagai saksi Kristus di tengah dunia,
dan itu berarti menampilkan apa artinya hidup yang telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus.
Tujuannya adalah supaya orang lain pun boleh mengalami keselamatan melalui pengenalan akan Kristus. Maukah kita mengerjakan panggilan ini dalam hidup setiap hari? Tuhan Yesus menolong kita semua. Amin.
Sumber: Komisi Pelayanan Remaja Sinode GMIM edisi April-Mei 2026