Kemarau 2026 Diprediksi Panjang, Pemkab Gresik Siapkan Droping Air & Sumber Alternatif
Wiwit Purwanto April 18, 2026 02:32 PM

 

SURYA.CO.ID, GRESIK – Pemerintah Kabupaten Gresik menaikkan level kewaspadaan, menyusul prediksi musim kemarau yang datang lebih awal dan diprediksikan sejak akhir April 2026.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, musim kemarau yang menjadi ancaman kekeringan di Kabupaten Gresik tahun 2026 tidak lagi bisa dipandang sebagai siklus tahunan biasa. 

Dari data yang disampaikan Bupati Yani, menunjukkan, sedikitnya 6 Kecamatan berpotensi terdampak di fase awal, dan bisa meluas hingga 12 Kecamatan saat puncak kemarau pada bulan Juli–September.

"Situasi ini menuntut perubahan cara kerja Pemerintah dari sekadar respons menjadi antisipasi yang terukur," kata Bupati Yani, dalam rilis Diskominfo Gresik, Jumat (17/4/2026)

Bupati Ingatkan Jajaran DInas Terkait Agar Tidak Menunggu Krisis Terjadi

Bupati Gresik Yani menambahkan, secara tegas mengingatkan seluruh jajaran dinas terkait agar tidak menunggu krisis terjadi.

Baca juga: Antisipasi Kemarau Panjang, BPBD Kota Blitar Siapkan 21 Tandon Air

“Jangan tunggu masyarakat kesulitan air bersih baru kita bergerak. Semua harus sudah siap dari sekarang. Kecamatan harus tahu titik rawan, Desa harus tahu kondisinya. Tidak boleh ada yang terlambat,” kata Bupati Yani saat Rapat One Week Program di Ruang Rapat Graita Eka Praja. 

Sementara Pemkab Gresik melalui BPBD telah menyiapkan skema intervensi berupa droping air. Sejumlah sarana disiagakan, mulai dari 5 unit truk tangki, puluhan tandon air, hingga ratusan jerigen.

Namun, di balik kesiapan itu, ada tantangan nyata yaitu keterbatasan armada untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak.

“Dengan keterbatasan ini, kita tidak bisa kerja biasa. Harus berbasis data, harus tepat sasaran, dan harus cepat,” kata Bupati Gresik Yani yang akrab disapa Gus Yani.

Selain itu, Gus Yani juga menegaskan, solusi tidak bisa hanya bergantung pada droping air. Pemanfaatan sumber air alternatif dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci.

Baca juga: Dua Embung di Kota Blitar Antisipasi Kemarau Panjang, Penuhi Kebutuhan Pertanian

“Kita harus berani keluar dari pola lama. Sumber air yang ada harus dioptimalkan. Termasuk kerja sama dengan pihak swasta. Ini soal strategi, bukan hanya sekadar bantuan,” imbuhnya.

Gus Yani juga mendorong kesiapsiagaan BPBD kabupaten Gresik hingga tingkat rumah tangga, dengan memastikan masyarakat memiliki cadangan air secara mandiri.

“Minimal setiap rumah punya jerigen atau tandon. Kita harus membangun kesiapan dari bawah,” tambahnya.

Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik, Sukardi, mengatakan,  pemetaan wilayah rawan telah dilakukan sebagai dasar intervensi.

“Kami sudah siapkan distribusi air bersih secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. Yang menjadi perhatian adalah dukungan operasional, khususnya BBM, karena distribusi ini akan berlangsung rutin selama musim kemarau,” kata Sukardi 

Selain itu, Sukardi menambahkan, BPBD terus memperkuat koordinasi dengan Kecamatan dan Desa agar distribusi air tidak terlambat dan benar-benar menyasar wilayah yang paling membutuhkan.

Dengan musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan luas pada tahun 2026, ini menjadi ujian serius bagi kesiapan Daerah. Pesan Bupati Yani sudah jelas,  tidak ada ruang untuk lambat dan tidak ada alasan untuk tidak siap. 

"Pemkab Gresik juga mulai menggeser pendekatan dari sekadar penanganan darurat menuju pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, termasuk untuk mendukung sektor pertanian," katanya. 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.