Keluhan Warga Bandung Atas Kenaikan Harga BBM: Kurangnya Transparansi Hingga Transportasi Umum
Muhamad Syarif Abdussalam April 18, 2026 03:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai terasa di sejumlah SPBU. 

Berdasarkan pantauan di SPBU 31.402.01 Jalan Ibrahim Adjie, harga Pertamax Turbo (RON 98) tercatat di angka Rp19.400 per liter, Pertamax (RON 92) Rp12.300 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter.

Elin, salah satu pegawai SPBU mengatakan kenaikan paling signifikan terjadi pada jenis Pertamina Dex.

“Kenaikannya cukup tinggi, sampai Rp9.000 per liter. Ini mulai berlaku sejak semalam,” ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Sabtu (18/4/2026). 

Meski harga mengalami penyesuaian, kondisi di lapangan terpantau masih normal. Selain di SPBU 31.402.01 Jalan Ibrahim Adjie, kondisi juga nampak sama di SPBU lainnya, seperti SPBU 34.402.01, SPBU 31.406.01. 

Aktivitas pengisian BBM tetap ramai, terutama untuk jenis Pertalite dan bahan bakar lainnya. 

Tidak terlihat antrean panjang, dan kendaraan tampak mengalir lancar saat mengisi bahan bakar.

Di sisi lain, kenaikan ini mulai dikeluhkan masyarakat. Ilyasa, seorang karyawan swasta, mengaku harus menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer setiap hari untuk bekerja.

Ia menyayangkan kebijakan kenaikan harga yang dinilai mendadak.

“Sangat disayangkan, meskipun yang naik Pertamax Turbo yang biasanya dipakai kalangan menengah ke atas. Kemarin sempat dibilang tidak ada kenaikan, tapi sekarang tiba-tiba naik," katanya. 

Dia berharap, pemerintah bisa lebih konsisten dan terbuka soal kondisi harga BBM. 

Keluhan serupa disampaikan Ishaq, warga Kiaracondong yang merupakan pengguna Pertamax Turbo. 

Ia mengaku dalam sebulan bisa menghabiskan sekitar Rp700 ribu untuk kebutuhan bahan bakar.

“Kalau dilihat, kenaikan ini mungkin untuk menutup beban BBM subsidi, jadi langkahnya sebenarnya bisa dipahami. Tapi yang disayangkan adalah kurangnya transparansi. Pemerintah seharusnya lebih sigap dan terbuka,” ujarnya.

Ia juga mulai mempertimbangkan alternatif lain seperti kendaraan listrik. 

Menurutnya, dari informasi yang ia dapat dari kerabatnya, biaya operasional kendaraan listrik dinilai lebih murah dibandingkan BBM, apalagi di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

Kenaikan harga BBM ini juga dikhawatirkan akan berdampak lebih luas. Dio, warga Batununggal menilai kondisi ini semakin menekan kelas menengah, terutama karena berpotensi memicu kenaikan biaya logistik dan kebutuhan lainnya.

“Jujur berasa banget kejepitnya. Lagi kondisi ekonomi nggak menentu, malah harga BBM naik. Buat orang Bandung, motor itu masih jadi pilihan utama buat mobilitas karena macet,” ujarnya.

Ia menambahkan, beralih ke transportasi umum bukan solusi mudah. 

"Transportasi umum masih ribet, rutenya belum nyambung, jadwalnya juga nggak jelas. Jadi mau nggak mau tetap pakai kendaraan pribadi.”

Senada dengan itu, Madya juga mengeluhkan kondisi serupa. 

Ia menilai kenaikan BBM semakin memberatkan masyarakat di tengah harga kebutuhan pokok yang sudah lebih dulu naik. 

“Kebutuhan pokok sudah naik, sekarang ditambah BBM naik lagi. Wajar kalau masyarakat makin terbebani. Kendaraan pribadi masih jadi pilihan karena transportasi umum belum memadai,” katanya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.