TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Aksi pelecehan terhadap guru oleh sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta, terjadi sesaat setelah kegiatan belajar mengajar selesai di kelas.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, Sabtu (18/4/2026).
Purwanto mengatakan peristiwa itu terjadi pada Kamis 16 April 2026. Namun, videonya baru viral pada Sabtu 18 April 2026.
Dikatakan Purwanto, kejadian bermula seusai siswa mengikuti kegiatan terkait pengolahan aneka makanan.
“Setelah kegiatan itu selesai, kemudian terjadi aksi yang tidak terpuji dari anak-anak tersebut,” ujar Purwanto, Sabtu (18/4/2026).
Aksi tersebut dilakukan oleh sembilan siswa dari kelas XI IPS terhadap seorang guru bernama Atum yang baru mengajar di sekolah tersebut.
Pihak sekolah, kata dia, sudah mengambil langkah dengan memanggil para siswa dan orang tua mereka. Dalam proses tersebut, para siswa mengakui kesalahannya dan menyesali perbuatannya.
“Orang tua juga menyayangkan kejadian ini, dan sekolah langsung melakukan langkah pembinaan,” katanya.
Terkait motif para siswa, Dinas Pendidikan Jawa Barat mengaku masih melakukan pendalaman dan belum dapat memastikan alasan di balik tindakan tersebut.
“Untuk alasannya, kami belum sampai ke sana. Itu masih didalami oleh pihak sekolah,” ucapnya.
Purwanto memastikan, kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi di SMAN 1 Purwakarta.
Menurutnya, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pola pendidikan anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dipengaruhi lingkungan digital.
“Anak-anak sekarang tumbuh tidak hanya di sekolah, tapi juga di ruang digital. Ini perlu perhatian serius dari orang tua dan sekolah,” katanya.
Purwanto menegaskan, peristiwa ini harus menjadi bahan refleksi bersama, tidak hanya bagi SMAN 1 Purwakarta, tetapi juga seluruh sekolah dan orang tua.
Sebagai tindak lanjut, para siswa akan menjalani pembinaan karakter yang menitikberatkan pada penguatan empati dan disiplin.
Selain itu, Dinas Pendidikan Jawa Barat juga mendorong evaluasi penggunaan ponsel di lingkungan sekolah, karena dinilai berpotensi memicu perilaku spontan yang mencerminkan karakter siswa.
“Penggunaan ponsel juga perlu dievaluasi. Kadang anak mengekspresikan sesuatu secara spontan, dan itu bagian dari refleksi karakter mereka,” katanya.