Alasan Iran Akhirnya Mau Buka Selat Hormuz, Netanyahu Terpaksa Turuti Trump untuk Gencatan Senjata?
Putra Dewangga Candra Seta April 18, 2026 08:32 PM

 

SURYA.co.id – Dunia sempat bernapas lega ketika Iran mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026).

Jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global itu kembali beroperasi, menyusul gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang dimediasi Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur tersebut kini terbuka bagi seluruh kapal komersial selama periode gencatan senjata.

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata,” tulisnya, dikutip SURYA.co.id dari Kompas.com.

Namun, di saat optimisme global menguat, sinyal berbeda justru muncul dari Tel Aviv.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya menegaskan bahwa kesepakatan bukan berarti penghentian total operasi militer.

Pertanyaannya kini mengemuka: apakah pembukaan Selat Hormuz benar-benar menandai stabilitas baru, atau hanya ketenangan sebelum badai yang lebih besar?

Dilema Netanyahu di Tengah “The Great Deal”

ADIK NETANYAHU TEWAS - Foto PM Israel Benjamin Netanyahu yang diambil dari Facebook GPO, Kamis (2/10/2025), Adiknya, Iddo Netanyahu baru-baru ini dikabarkan tewas kena serangan rudal Iran.
ADIK NETANYAHU TEWAS - Foto PM Israel Benjamin Netanyahu yang diambil dari Facebook GPO, Kamis (2/10/2025), Adiknya, Iddo Netanyahu baru-baru ini dikabarkan tewas kena serangan rudal Iran. (Facebook GPO)

Kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, menjadi bagian dari manuver geopolitik yang lebih luas, melibatkan stabilisasi kawasan dan kepentingan ekonomi global.

Namun bagi Netanyahu, situasi ini menciptakan dilema strategis.

Di satu sisi, dunia melihat pembukaan Selat Hormuz sebagai kemenangan diplomasi dan ekonomi.

Di sisi lain, Israel memandang langkah tersebut sebagai ancaman laten, karena Iran tetap memiliki kapasitas militernya, termasuk program nuklir yang selama ini menjadi perhatian utama Tel Aviv.

Paradoks pun muncul, stabilitas global justru bisa dipersepsikan sebagai kerentanan keamanan bagi Israel.

Sikap keras Netanyahu yang menolak menarik pasukan dari wilayah konflik memperkuat kesan bahwa Israel tidak sepenuhnya sejalan dengan arah diplomasi Washington.

Dalam konteks ini, Israel berpotensi menjadi “spoiler” bagi kesepakatan besar yang telah dibangun.

Baca juga: Israel - AS Terpecah Belah? Netanyahu Kini Beda Jalan dengan Trump, Israel Tuntut 1 Hal Ini ke Iran

Apa yang Terjadi Jika Israel Menyerang?

Skenario paling mengkhawatirkan adalah kemungkinan serangan mendadak Israel terhadap fasilitas strategis Iran.

Jika Netanyahu mengambil langkah militer, misalnya melalui serangan udara, di saat lalu lintas kapal tanker mulai kembali normal di Selat Hormuz, dampaknya bisa sangat besar.

SELAT HORMUZ - Ilustrasi Selat Hormuz. Selat Hormuz dibuka setelah Trump dan Iran sepakat gencatan senjata. Akankah Harga BBM Ikut Turun?
SELAT HORMUZ - Ilustrasi Selat Hormuz. Selat Hormuz dibuka setelah Trump dan Iran sepakat gencatan senjata. Akankah Harga BBM Ikut Turun? (Wikimedia Commons)

Iran hampir pasti akan merespons dengan menutup kembali selat tersebut, bahkan mungkin melakukan blokade total.

Efek domino yang ditimbulkan tidak hanya bersifat regional, tetapi global:

  • Distribusi minyak dunia terganggu dalam hitungan jam
  • Harga energi melonjak drastis
  • Jalur pelayaran internasional berubah menjadi zona konflik aktif

Ironisnya, pembukaan Selat Hormuz saat ini justru dapat menciptakan kondisi yang lebih rentan.

Kapal-kapal komersial yang kembali melintas bisa menjadi target empuk jika konflik kembali pecah.

Dalam skenario ini, dunia menghadapi apa yang disebut sebagai “Black Swan event”, krisis tak terduga dengan dampak luar biasa besar.

Tekanan Internasional: Bisakah Trump Menjinakkan Sekutunya?

Di tengah risiko tersebut, peran Amerika Serikat menjadi krusial.

Pemerintahan Trump kini menghadapi tantangan ganda, menjaga kredibilitas kesepakatan damai sekaligus menahan langkah agresif sekutunya sendiri, Israel.

Jika Washington gagal mengendalikan situasi, maka seluruh upaya diplomasi bisa runtuh dalam waktu singkat.

Di sisi lain, Xi Jinping dan China memiliki kepentingan ekonomi besar terhadap stabilitas Selat Hormuz.

Sebagai salah satu importir energi terbesar dunia, Beijing berkepentingan memastikan jalur ini tetap aman.

Serangan Israel terhadap Iran bukan hanya berisiko memicu konflik regional, tetapi juga dapat dianggap sebagai tantangan langsung terhadap kepentingan ekonomi China.

Hal ini berpotensi memperluas konflik ke dimensi geopolitik yang lebih kompleks, melibatkan kekuatan besar dunia.

Menanti Langkah di Papan Catur Timur Tengah

Pembukaan Selat Hormuz memang menjadi langkah awal yang positif bagi stabilitas global. Namun, itu belum cukup untuk menjamin perdamaian jangka panjang.

Selama akar konflik antara Israel dan Iran belum terselesaikan, kawasan Timur Tengah akan tetap berada dalam kondisi rapuh.

Saat ini dunia mungkin bisa bernapas lega. Namun, satu keputusan militer dari Tel Aviv dapat mengubah segalanya dalam sekejap.

Dalam permainan catur geopolitik ini, satu langkah kecil bisa menjadi pemicu krisis besar, dan dunia kembali menahan napas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.