Benteng Kalimo’ok, Warisan Sejarah VOC di Timur Madura yang Sarat Nilai Historis
Dwi Prastika April 18, 2026 11:22 PM

TRIBUNMADURA.COM - Benteng Kalimo’ok di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menjadi salah satu saksi bisu sejarah kolonial di Pulau Madura.

Dibangun pada akhir abad ke-18 oleh kongsi dagang Belanda, VOC, benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan militer, tetapi juga penanda kuatnya pengaruh kolonial di wilayah timur Madura.

Berdasarkan sumber dari Jatimprov.go.id, Benteng Kalimo’ok didirikan dalam rentang tahun 1783 hingga 1785. 

Pembangunan ini tidak lepas dari situasi geopolitik global saat itu, yakni pecahnya Perang Inggris melawan Belanda ke-4 pada 1780–1784 yang turut berdampak pada wilayah koloni, termasuk Madura.

Baca juga: Gedung Siola, Saksi Bisu Sejarah Perdagangan dan Perjuangan di Surabaya

Dibangun di Tengah Konflik Inggris-Belanda

Benteng ini dibangun untuk memperkuat pertahanan Pelabuhan Sumenep yang kala itu berada di kawasan Pantai Boom, tepatnya di muara Sungai Marengan.

Keberadaan benteng menjadi strategi penting VOC dalam menjaga jalur perdagangan dan kekuasaan di wilayah tersebut.

Namun, dominasi Belanda tidak berlangsung lama. Pada tahun 1811, benteng ini jatuh ke tangan Inggris.

Salah satu bukti sejarahnya adalah dua meriam buatan Inggris bertahun 1803 yang hingga kini masih dapat ditemukan di depan Keraton Sumenep.

Baca juga: Pulau Sapudi Sumenep dalam Lintasan Sejarah, Dari Kerajaan hingga Tradisi Nyamplong

Simbol Kekuasaan VOC di Sumenep

Melansir Kompas.com, Benteng Kalimo’ok atau dikenal juga sebagai Benteng Sumenep terletak secara administratif di Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.

Keberadaan benteng ini menjadi simbol keberhasilan VOC dalam menguasai wilayah timur Pulau Madura.

Benteng ini dibangun sekitar tahun 1785 dan pada awalnya dihuni oleh sekitar 25 hingga 30 serdadu Belanda.

Secara struktur, benteng memiliki denah segi empat berukuran 83 x 84 meter, lengkap dengan dua pintu masuk di sisi selatan dan utara.

Dinding benteng memiliki tinggi sekitar 4,15 meter di bagian luar dan 2,4 meter di bagian dalam, dengan ketebalan mencapai 5,8 meter.

Pada keempat sudutnya terdapat bastion berukuran 17,90 x 17,18 meter yang dilengkapi masing-masing enam titik penempatan meriam. Bastion tersebut saling terhubung melalui selasar selebar 3,5 meter.

Baca juga: Tradisi Ojung Sumenep, Ritual Saling Cambuk Sarat Makna dan Doa Keselamatan

Beralih Fungsi

Seiring berjalannya waktu, fungsi Benteng Kalimo’ok mengalami perubahan signifikan.

Saat ini, kawasan benteng dimanfaatkan sebagai bagian dari Proyek Pengembangan Ternak Kecil, sehingga di dalam maupun di sekitar area benteng berdiri sejumlah bangunan tambahan seperti kandang sapi.

Alih fungsi ini berdampak pada kondisi fisik benteng yang kini dinilai kurang terawat.

Meskipun sebagian struktur dinding masih berdiri cukup baik, beberapa bagian dilaporkan mengalami kerusakan dan retakan.

Benteng Kalimo’ok kini tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga potret bagaimana situs bersejarah menghadapi tantangan pelestarian di tengah perubahan fungsi dan minimnya perhatian.

Baca juga: Kapolda Jatim Pastikan Barang di Perairan Sumenep Kokain, Nilai Jual Ditaksir Capai Rp 225 Miliar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.