SURYA.co.id – Sebuah peristiwa mengejutkan sekaligus mengharukan datang dari Desa Pakel, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang.
Kepala Desa (Kades) Pakel, Sampurno, menjadi korban pengeroyokan dan pembacokan oleh belasan orang tak dikenal.
Namun, alih-alih menuntut balas, sang Kades justru memilih jalan damai dan memaafkan para pelaku.
Video rekaman CCTV yang memperlihatkan detik-detik pengeroyokan tersebut sempat viral di media sosial, memicu kekaguman netizen terhadap kondisi fisik Sampurno yang tampak tetap bugar meski sempat diserang senjata tajam.
Berikut rangkuman pengakuan Sampurno.
Dalam sebuah wawancara eksklusif, Sampurno menceritakan bahwa insiden tersebut dipicu oleh kesalahpahaman terkait masalah pinjaman uang.
Ia menyebut nama seseorang berinisial D yang diduga menjadi dalang di balik aksi penyerangan tersebut.
"Sebenarnya itu hanya salah paham. Waktu itu saya mau pinjam uang untuk keperluan tanam tebu, tapi responsnya tidak mengenakkan. Akhirnya terjadi gesekan saat ada acara pengajian, dan berlanjut pada penyerangan di rumah saya," ujar Sampurno, dikutip dari video wawancara di youtube SURYA.co.id.
Menurut keterangan korban, terdapat sekitar 15 orang yang datang menyerbu ke kediamannya dengan membawa berbagai jenis senjata tajam.
Dalam rekaman CCTV, terlihat aksi brutal kelompok tersebut yang sempat membuat suasana mencekam.
Baca juga: Dibacok Ramai-ramai, Kades Pakel Lumajang Sampurno Pilih Jalan Damai dan Ungkap Fakta
Netizen di media sosial ramai menyebut Kades Sampurno sebagai orang 'sakti'.
Hal ini dikarenakan luka yang dideritanya tergolong ringan meski dikeroyok massa bersenjata.
Menanggapi julukan tersebut, Sampurno tetap rendah hati.
"Saya bukan orang sakti, saya hanya manusia biasa. Saya yakin Allah menolong orang yang jujur dan tidak munafik. Pesan saya kepada saudara-saudara, jaga shalat dan hormati orang tua, terutama ibu," ungkapnya sambil menunjukkan beberapa luka di lengan yang sudah mulai membaik.
Di rumahnya, tampak garis polisi masih terpasang di area teras tempat kejadian perkara, serta beberapa koleksi benda seni dan piagam pelantikan yang menandakan perannya sebagai pimpinan desa yang disegani.
Meskipun hukum tetap berjalan, Sampurno secara pribadi menyatakan telah memaafkan para pelaku.
Ia menegaskan keinginannya untuk menyelesaikan perkara ini secara kekeluargaan di Pendopo Kabupaten Lumajang.
"Saya tidak dendam. Saya ingin mencontohkan bahwa agama bukan cuma di KTP, tapi di hati. Memanfaatkan itu lebih baik. Wong sabar iku uripe jembar (orang sabar itu hidupnya luas/berkah)," tambahnya.
Keputusan ini diambil demi menjaga kondusivitas desa dan persaudaraan antar warga.
Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar tidak mudah tersulut emosi dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan masalah.
Mengakhiri keterangannya, Sampurno meminta maaf jika selama ini ada tutur katanya yang menyinggung perasaan orang lain.
Ia mengajak seluruh warga Lumajang untuk tetap rukun dan mengedepankan musyawarah.
"Jika ada yang menyinggung perasaan, cukup duduk bersama, dibicarakan baik-baik. Tidak perlu sampai ada niat membunuh, kasihan keluarga kita," pungkasnya.
Hingga saat ini, kasus pengeroyokan tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian setempat untuk memastikan keadilan bagi semua pihak, sementara mediasi damai sedang diupayakan sesuai permintaan korban.