SURYA.co.id – Sidang gugatan ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, kembali memicu kegaduhan pada Sabtu (18/4/2026).
Kali ini, sorotan tajam datang dari Tifauzia Tyassuma yang tampak kesal dan secara terbuka meragukan kehadiran Rismon Sianipar sebagai saksi ahli dalam persidangan.
Bukan soal materi kesaksian, Dokter Tifa justru melancarkan “serangan balik” dengan mempertanyakan kredibilitas akademik Rismon.
Ia menilai latar belakang pendidikan Rismon tidak memenuhi syarat untuk memberikan keterangan ahli di depan hakim.
Padahal, Rismon sebelumnya juga merupakan tersangka dalam kasus yang sama bersama Roy Suryo.
Namun, ia kini berstatus bebas setelah mendapatkan SP3 dari Polda Metro Jaya usai mengajukan restorative justice.
Nada kesal Dokter Tifa terlihat jelas saat ia mengungkap keberatannya terhadap Rismon.
Ia secara terang-terangan meragukan keabsahan gelar akademik yang dimiliki Rismon.
Sebelumnya, gelar pendidikan Rismon di Jepang juga sempat dipersoalkan oleh Ketua Jokowi Mania, Andi Azwan.
Menurut Dokter Tifa, hal ini menjadi alasan utama mengapa Rismon tidak layak tampil sebagai saksi ahli.
"Karena yang pertama ditanyakan adalah gelarnya dia dulu nih. Kalau dia tidak punya gelar doktor, tidak punya gelar Master Eng (Engineering), apalagi ini gelar penipuan."
"Dia tidak punya hak untuk menjadi saksi ahli di pengadilan mana pun. Jadi itu yang perlu dipertegas oleh siapa pun," ucapnya dalam konferensi pers, dikutip SURYA.co.id dari Kompas TV.
Tak berhenti di situ, Dokter Tifa bahkan mengancam akan melaporkan Rismon atas dugaan gelar palsu tersebut, sebuah langkah yang semakin memperkeruh suasana sidang.
Baca juga: SP3 Rismon Sianipar Resmi Terbit, Roy Suryo Cs Gigit Jari? Ini Dasar Hukum Penghentian Kasusnya
Di tengah memanasnya polemik, perhatian kini tertuju pada bagaimana majelis hakim menyikapi kehadiran Rismon sebagai saksi.
Secara hukum, kelayakan saksi ahli biasanya ditentukan melalui verifikasi administratif dan kompetensi yang relevan.
Namun dalam praktiknya, perdebatan soal latar belakang akademik kerap digunakan sebagai strategi untuk menggoyahkan kredibilitas saksi di mata hakim.
Ia juga sempat mengejutkan publik dengan permintaan maafnya kepada Jokowi.
Di sisi lain, Dokter Tifa mengklaim adanya perpecahan pandangan di kalangan pendukung Jokowi terkait kehadiran Rismon.
"Di kalangan termul sendiri sekarang juga pecah kok, kan ada termul yang Anda tahu semua ya waktu itu kepada Rismon kan berantem terus di podcast maupun di TV, sekarang jadi CS-an."
"Padahal dia juga yang dulu mengatakan bahwa gelar Rismon itu palsu, malah sekarang jadi CS, inisialnya AA ya. Dia juga mengatakan bahwa Rismon ini bakal akan jadi saksi mahkota atau jadi saksi," jelas Dokter Tifa.
Ia juga menyebut ada pihak yang tetap menolak Rismon menjadi saksi.
"Enggak laku, ini yang bilang termul yang lain loh. Mereka enggak mau Rismon dipakai."
Perseteruan antara Dokter Tifa dan Rismon menambah panjang daftar drama dalam kasus ijazah Jokowi yang belum juga mereda.
Perdebatan tak lagi hanya soal substansi perkara, tetapi juga melebar ke isu kredibilitas personal dan latar belakang akademik para pihak yang terlibat.
Pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan majelis hakim, apakah kesaksian Rismon layak diterima atau tidak, bukan ditentukan oleh riuh rendah opini di ruang publik maupun media sosial.
Sempat bersama-sama dalam proses hukum terkait ijazah eks Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, Dokter Tifa menulis pesan haru untuk Rismon Sianipar.
Dokter Tifa, melalui pesan terbuka di akun X pribadinya, mengungkapkan luka mendalam atas perubahan sikap rekan seperjuangannya tersebut.
Bagi Dokter Tifa, perginya Rismon Sianipar ke kubu Jokowi bukan sekadar urusan perbedaan pendapat, melainkan sebuah kehilangan anggota keluarga.
Dokter Tifa mengenang kembali memori 15 April 2025 di Fakultas Kehutanan UGM sebagai awal mula ikatan mereka.
Menurutnya, perjalanan menuntut kebenaran telah menyatukan mereka lebih dari sekadar rekan profesional.
"Hari itu bukan sekadar hari pertemuan pertama. Hari itu adalah titik mula sebuah perjalanan yang tidak ringan, bahkan mungkin terlalu berat untuk manusia biasa. Dan sejak hari itu, kita bukan lagi sekadar rekan seperjuangan. Kita menjadi tiga sahabat," tulis Dokter Tifa, dikutip Minggu (12/4).
Kekecewaan dojter Tifa terasa begitu nyata karena ia dan Roy Suryo telah menempatkan Rismon dalam posisi yang istimewa.
Keputusan Rismon untuk meminta maaf kepada Jokowi dan mengajukan Restorative Justice (RJ) dirasakan sebagai sebuah pengkhianatan terhadap rasa percaya tersebut.
"Aku dan Mas Roy, menganggapmu bukan hanya partner dalam mencari kebenaran, tapi adik kami sendiri. Ada rasa ingin menjaga. Ada rasa percaya yang tumbuh tanpa dibuat-buat. Ada keyakinan bahwa kita bertiga adalah satu barisan kecil yang tak akan terpisahkan," ungkap Dokter Tifa.
Dokter Tifa menekankan bahwa ia tidak menulis pesan tersebut dengan amarah, melainkan dengan rasa sedih yang mendalam.
Ia menyayangkan mengapa Rismon Sianipar memilih menjauh dan justru berbalik memusuhi orang-orang yang dulu berdiri di sampingnya.
"Apakah semua ini sepadan, Rismon? Apakah rasa takut itu lebih besar daripada nilai kebenaran yang dulu kamu perjuangkan dengan penuh keyakinan? Aku tidak menulis ini dengan amarah. Aku menulis ini dengan luka. Karena kehilangan seorang lawan itu biasa. Tapi kehilangan seorang adik dalam perjuangan, itu jauh lebih dalam rasanya," papar Dokter Tifa.
Meski kini Rismon berencana melayangkan somasi terkait penjualan buku mereka, Dokter Tifa tetap mengingatkan bahwa pintu kejujuran selalu terbuka.
Ia berharap suatu saat nanti Rismon akan menoleh ke belakang dan mengingat niat lurus yang pernah mereka bangun bersama.
"Jika suatu hari nanti kamu kembali melihat ke belakang, ingatlah satu hal: Kita pernah menjadi tiga sahabat. Kita pernah berdiri di titik yang sama, dengan hati yang bersih, dan niat yang lurus. Tak akan bisa dihapus oleh apa pun," pungkasnya.