TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Peran perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga kembali terlihat dari data keberangkatan haji tahun ini, dari total 951 jemaah calon haji asal Kabupaten Batang, sebanyak 430 di antaranya merupakan anggota Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).
Angka ini menjadi sorotan tersendiri dalam momentum Halal Bihalal PC Muslimat NU Batang yang digelar di Pendopo Kabupaten Batang, dalam waktu dekat ini.
Ketua PC Muslimat NU Batang, Siti Mahmudah, menilai tingginya jumlah jemaah dari kalangan Muslimat bukan sekadar angka, melainkan indikator meningkatnya kemandirian ekonomi perempuan.
“Angka itu menunjukkan bahwa kesejahteraan anggota Muslimat semakin baik. Mereka mampu merencanakan ibadah haji yang membutuhkan kesiapan finansial dan mental,” kata Siti kepada Tribunjateng, Minggu (19/4/2026).
Fenomena ini juga mendapat perhatian dari Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin.
Dia menilai capaian tersebut selaras dengan semangat emansipasi perempuan yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini.
Baca juga: Warga Batang Tak Perlu ke Pekalongan Lagi! Stasiun Plabuan Aktif Kembali Mulai 27 April
Menurutnya, perempuan masa kini tidak hanya dituntut berdaya secara ekonomi, tetapi juga tetap berpegang pada nilai-nilai agama.
“Perempuan harus mampu menyeimbangkan antara pendidikan, peran sosial, dan ketaatan beragama. Itu yang menjadi kekuatan utama,” kata Nawal.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa tantangan perempuan belum sepenuhnya selesai, terutama terkait kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi di Jawa Tengah.
Ia mendorong organisasi seperti Muslimat NU untuk terus aktif dalam pendampingan dan perlindungan korban.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, berpesan kepada para calon jemaah haji agar menjaga sikap positif selama menjalankan ibadah.
“Selalu berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keadaan. Itu kunci menjalani ibadah dengan tenang dan penuh makna,” ungkapnya.
Momentum menjelang peringatan Hari Kartini pun menjadi refleksi penting bahwa perempuan tidak hanya berjuang di ruang publik, tetapi juga mampu mencapai kemandirian spiritual.
Tingginya angka jemaah haji dari kalangan Muslimat menjadi bukti nyata bahwa perempuan Batang semakin berdaya, baik secara ekonomi maupun keagamaan. (Ito)