Ratusan Warga Surabaya Ikuti Pelatihan Bantuan Hidup Dasar, Tingkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat
Samsul Arifin April 19, 2026 12:30 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Sebanyak lebih dari 200 warga mengikuti pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang digelar DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Surabaya di kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (18/4/2026).

Kegiatan dalam rangka peringatan HUT ke-52 PPNI ini diikuti lebih dari 200 peserta dari berbagai organisasi masyarakat di kampus Umsura, Sabtu (18/4/2026).

Peserta berasal dari beragam elemen, di antaranya 55 anggota Nasyiatul Aisyiyah, 49 peserta dari Fatayat NU, 30 perwakilan Takmir Masjid Al Akbar Surabaya, 50 kader PKK Kota Surabaya, serta perwakilan dari Kelurahan Perak Barat. 

Keterlibatan lintas organisasi ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam meningkatkan kapasitas penanganan kegawatdaruratan di lingkungan masing-masing.

Baca juga: Gandeng BNPT dan Kontras, UBS PPNI Mojokerto Ajak Civitas Akademika Bahas Premanisme

Peran Krusial Masyarakat

Ketua DPD PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB, menegaskan bahwa masyarakat memiliki peran krusial sebagai penolong pertama sebelum tenaga medis tiba di lokasi kejadian.

Menurutnya, banyak kasus kegawatdaruratan, khususnya henti jantung, terjadi di luar fasilitas kesehatan sehingga membutuhkan respons cepat dari orang di sekitar.

Baca juga: KP2MI Gandeng Umsura, Siapkan Migrant Center untuk Pekerja Migran

“Penyelamat pertama bukanlah tenaga kesehatan di rumah sakit, melainkan masyarakat yang berada di lokasi kejadian. Dalam kondisi henti jantung, setiap detik sangat berharga. Keterlambatan penanganan pada menit-menit awal sering menjadi penyebab utama meningkatnya angka kematian,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, DPD PPNI Kota Surabaya berharap dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan sekaligus mendukung terwujudnya konsep safe community. 

Dalam konsep ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton saat terjadi insiden, tetapi mampu berperan aktif sebagai penolong pertama yang sigap, terampil, dan tepat dalam memberikan bantuan.

Materi Pelatihan Komprehensif

Senada dengan itu, Ketua HIPGABI Jawa Timur, Dr. Sriyono, S.Kep., Ns., M.Kep., Ns.Sp.Kep.MB, menekankan bahwa pertolongan yang cepat dan tepat pada menit pertama dapat meningkatkan peluang keselamatan korban secara signifikan.

“Penanganan awal yang benar dapat meningkatkan keberhasilan penyelamatan hingga 98 persen. Karena itu, pelatihan BHD bagi masyarakat awam sangat penting dalam membangun sistem penanganan darurat berbasis komunitas yang kuat,” jelasnya.

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Dede Nasrullah, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan komitmen institusinya dalam mendukung kegiatan kolaboratif yang berdampak langsung bagi masyarakat. 

Ia menilai sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi menjadi kunci dalam peningkatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.

“Kami siap menjadi mitra kolaboratif dalam kegiatan pengabdian masyarakat. Ini bagian dari peran kampus untuk hadir dan memberi solusi nyata di tengah masyarakat,” katanya.

Pelatihan BHD ini dirancang secara komprehensif dengan pendekatan teori dan praktik. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh instruktur profesional dari PPNI dan HIPGABI. 

Materi yang diberikan meliputi teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan tersedak dengan metode Heimlich maneuver, penanganan luka bakar, penanganan fraktur (patah tulang), hingga prosedur komunikasi darurat melalui layanan 112.

Untuk memastikan efektivitas pembelajaran, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil saat sesi praktik. Mereka mendapatkan kesempatan melakukan simulasi langsung dengan pendampingan instruktur, sehingga dapat memahami langkah-langkah pertolongan secara lebih aplikatif.

Salah satu peserta, Siti (45), kader PKK Kota Surabaya, mengaku pelatihan ini memberikan pengalaman baru yang sangat bermanfaat. Ia merasa lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitarnya.

“Dulu saya takut kalau melihat orang pingsan atau kecelakaan karena tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang saya jadi lebih berani karena sudah memahami langkah-langkah pertolongan pertama,” ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.