Imbas Iran Tutup Selat Hormuz, AS Bersumpah Akan Buru Kapal Musuh di Manapun Berada di Seluruh Dunia
Candra Isriadhi April 19, 2026 12:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Militer Amerika Serikat (AS) tengah bersiap mengambil langkah tegas terhadap kapal-kapal tanker minyak yang diduga memiliki keterkaitan dengan Iran.

Rencana ini disebut-sebut akan dilakukan dalam waktu dekat.

Bahkan, AS dilaporkan siap melakukan aksi langsung di lapangan, mulai dari menaiki hingga menyita kapal-kapal komersial tersebut yang beroperasi di perairan internasional.

5 TUJUAN PERANG - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengunggah pidato terbarunya di media sosial Truth Social yang berisi pernyataan tegas terkait serangan militer terhadap Iran.
5 TUJUAN PERANG - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengunggah pidato terbarunya di media sosial Truth Social yang berisi pernyataan tegas terkait serangan militer terhadap Iran. (Dok./Truth Social)

Langkah ini bukan tanpa alasan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat, terutama setelah Iran memperketat pengawasan dan kontrol di salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz.

Situasi ini membuat AS merasa perlu mengambil tindakan sebagai respons atas dinamika yang berkembang.

Apalagi, Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.

Baca juga: 3 Oknum Polisi yang Biarkan Teman Perkosa Calon Polwan Hanya Disanksi Permintaan Maaf, Publik Geram

AS berencana menaiki hingga menyita kapal-kapal komersial tersebut di perairan internasional dalam beberapa hari ke depan.

Rencana tersebut memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.

Sejumlah pihak menilai, tindakan ini bisa memperkeruh hubungan antara kedua negara yang memang sudah lama tegang.

Sementara itu, langkah Iran yang "kian memperketat kendali di Selat Hormuz" juga dinilai sebagai sinyal kuat bahwa negara tersebut tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan dari pihak luar.

PERANG IRAN - AS - Ilustrasi Selat Hormuz.
PERANG IRAN - AS - Ilustrasi Selat Hormuz. (Dok./Wikimedia Commons/Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center)

Dengan kondisi yang semakin memanas, dunia internasional kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan situasi ini.

Tidak sedikit yang berharap agar kedua pihak dapat menahan diri demi menghindari konflik yang lebih besar.

Pada Sabtu (18/4/2026), Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal komersial setelah mengeklaim jalur air strategis tersebut berada di bawah pengawasan ketat mereka.

Baca juga: Siap Lawan! China Balas Ancaman Donald Trump, Siapkan Langkah Keras Hadapi Tekanan Tarif Impor AS

Kebijakan pemerintahan AS untuk meningkatkan tekanan ekonomi ini bertujuan memaksa Teheran segera membuka kembali Selat Hormuz serta memberikan konsesi terkait program nuklirnya.

Menurut Komando Pusat AS (Centcom), pasukannya telah memulangkan 23 kapal yang berupaya meninggalkan pelabuhan Iran sebagai bagian dari blokade.

Incar kapal Iran di seluruh dunia

DIIZINKAN LEWAT - Foto ilustrasi kapal tanker. Iran baru-baru ini memberikan izin kepada kapal tanker Malaysia melintasi Selat Hormuz. Beda nasib dengan kapal Indonesia.
DIIZINKAN LEWAT - Foto ilustrasi kapal tanker. Iran baru-baru ini memberikan izin kepada kapal tanker Malaysia melintasi Selat Hormuz. Beda nasib dengan kapal Indonesia. ((Ist)/Wall Street Journal via Tribunnews)

Perluasan kampanye ini akan memungkinkan AS untuk mengendalikan kapal-kapal yang terkait dengan Iran di seluruh dunia.

Ini termasuk armada yang membawa minyak Iran yang sudah berlayar di luar Teluk Persia dan kapal-kapal yang membawa senjata yang dapat mendukung rezim Iran. 

"AS akan secara aktif mengejar setiap kapal berbendera Iran atau kapal apa pun yang berupaya memberikan dukungan material kepada Iran,” kata Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, dikutip The Wall Street Journal, Sabtu (18/4/2026).

“Ini termasuk kapal armada gelap yang membawa minyak Iran. Seperti yang sebagian besar dari Anda ketahui, kapal armada gelap adalah kapal-kapal ilegal atau terlarang yang menghindari peraturan internasional, sanksi, atau persyaratan asuransi,” sambungnya. 

Langkah tersebut akan menjadi babak baru dari kampanye tekanan AS terhadap Teheran.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly mengatakan, Presiden AS Donald Trump optimistis, langkah ini akan membantu memfasilitasi kesepakatan perdamaian.

Gencatan senjata AS-Iran akan berakhir

Upaya untuk meningkatkan tekanan ekonomi dilakukan menjelang berakhirnya gencatan senjata sementara antara kedua pihak minggu depan. 

Perundingan yang diadakan akhir pekan lalu di Pakistan berakhir tanpa terobosan dan putaran negosiasi selanjutnya belum ditetapkan.

Kedua belah pihak telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi kemungkinan pertempuran kembali terjadi, meskipun tampaknya tidak ada pihak yang ingin memulai kembali perang. 

Iran telah menyimpan ribuan rudal jarak menengah dan pendek dan sedang mengambil peluncur rudal dari area penyimpanan bawah tanah. 

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menuturkan, pasukan AS bersiap secara maksimal untuk melanjutkan operasi militer jika perundingan gagal. 

Namun, para pejabat pemerintahan Trump tampaknya tidak ingin menggunakan pasukan darat, sebuah opsi yang dapat menimbulkan korban jiwa di pihak AS dan tidak populer di kalangan sebagian besar masyarakat Amerika.

Hegesth menekankan bahwa menyerang pembangkit listrik Iran masih merupakan pilihan.

Namun, langkah tersebut juga akan menimbulkan risiko besar, karena dapat menyebabkan Teheran membalas terhadap infrastruktur energi di Teluk. 

Hal itu telah meningkatkan tekanan ekonomi karena Gedung Putih berupaya mencari penyelesaian dan jalan keluar dari konflik tersebut.

(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.