TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul berupaya mendukung ketersediaan air bersih untuk membantu penurunan angka kemiskinan dan mendukung peningkatan kesehatan.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, berujar, daerah kantong miskin di Bantul terbukti beririsan dengan wilayah yang memiliki keterbatasan ketersediaan air setelah dilakukan overlay.
"Kalau di situ menjadi kantong kemiskinan. Kok ndilalah itu daerah krisis air. Di mana, ada krisis air, di situ angka kemiskinannya tinggi," ucap dia, Minggu (19/4/2026).
Beberapa di antaranya terjadi di Kalurahan Selopamioro dan Wukirsari, Kapanewon Imogiri serta Kalurahan Muntuk, Kapanewon Dlingo.
"Itu data dari Badan Pusat Statistik. Lah kok persis, di mana daerah krisis air di situ, krisis air tinggi," jelasnya.
Kondisi itu menjadi perhatian Pemkab Bantul.
Dengan demikian, pihaknya berencana mengusulkan pembangunan sistem pengelolaan air minum (SPAM) di Kamijoro (Kapanewon Pajangan), Kapanewon Dlingo, hingga Kapanewon Pleret.
"SPAM ini akan menyediakan air sebagai faktor produksi ekonomi rakyat. Ada industri pengolahan rakyat, butuh air. Ada warung-warung butuh air," tutur Halim.
Baca juga: Penyebab Lonjakan Harga Minyak Goreng Premium di Bantul
Menurutnya, apabila tidak ada air, berpotensi tidak terjadi aktivitas ekonomi.
Rencananya, pembangunan itu akan dibiayai oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
"Di tengah efisiensi ini, kita berebut. Maka, harus sering diyakinkan kementerian itu mengenai kebutuhan warga Bantul. Karena itu berbiaya tinggi. APBD jelas tidak mungkin mencukupi," jelasnya.
Saat ini, pelaksanaan proyek itu masih dalam tahap perbaikan readiness criteria atau kriteria kesiapan dan syarat teknis lain yang harus segera dipenuhi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman Bantul, Jimmy Alran Manumpak Simbolon, menyebut saat ini pihaknya sedang fokus melakukan perbaikan Detail Engineering Design (DED).
"Saat ini, kami masih fokus perbaikan DED dulu karena kami mendapat koreksi/masukan dari Kementerian PU," ucap dia.
Pihaknya pun menyampaikan, tiga lokasi itu dilakukan pengerjaan SPAM dikarenakan ada potensi proyeksi pengembangan wilayah Kapanewon Pajangan untuk beberapa tahun mendatang. Sebab di lokasi itu mulai tumbuh perumahan, kampus, hingga rumah sakit.
"Kemudian, di Dlingo itu sebagai bagian upaya pengentasan kemiskinan. Lalu, proyek SPAM di Pleret dilakukan sebagai salah satu syarat untuk pengelolaan sampah Danantara. Tapi, sejauh ini, terkait anggaran kami masih nunggu perbaikan DED selesai," tandasnya.(*)