Sudah Rahasia Umum Siomay Pakai Daging Ikan Sapu-sapu, Sudin KPKP Jaksel Ambil Langkah Pencegahan
Dwi Rizki April 19, 2026 01:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Selatan berencana melakukan Inspeksi mendadak (sidak) terhadap rumah produksi siomay.

Hal tersebut dilakukan guna memastikan tidak adanya penggunaan daging ikan sapu-sapu sebagai bahan baku pembuatan siomay.

Diketahui, sudah menjadi rahasia umum jika pedagang siomay di Jakarta menggunakan daging ikan sapu-sapu sebagai bahan baku pembuatan siomay.

Kepala Sudin KPKP Jakarta Selatan, Ridho Sosro mengatakan, pengawasan akan dilakukan secara berkala melalui program pengawasan pangan terpadu setiap bulan. 

"Kami setiap bulan itu sebenarnya ada pengawasan pangan terpadu. Mungkin nanti akan kami arahkan ke sana juga. Dan kami mungkin akan telusuri lagi sampai ke rumah-rumah pengolahan siomay tersebut," kata Ridho saat ditemui di lokasi, usai operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (17/4/2026).

Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran penggunaan ikan sapu-sapu yang berpotensi membahayakan kesehatan. 

Ikan tersebut diketahui mengonsumsi berbagai jenis material di perairan, sehingga berisiko mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal yang dapat memicu penyakit dalam jangka panjang, termasuk kanker.

“Kalau logam berat atau merkuri dan sejenisnya itu timbal, tidak begitu kita makan langsung berdampak, tapi di beberapa tahun kemudian baru terasa. Biasanya itu kan dapat mengakibatkan penyakit kanker dan sebagainya,” tuturnya.

Pada hari yang sama, Pemerintah Kota Jakarta Selatan juga menangkap 5,3 ton ikan sapu-sapu di saluran penghubung Setu Babakan. 

Operasi serupa rencananya akan diperluas ke sejumlah wilayah lain, seperti Pesanggrahan, Cilandak, dan Setiabudi yang teridentifikasi sebagai habitat ikan tersebut. 

Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu Jadi Indikator Buruknya Kualitas Air

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggencarkan pembasmian ikan sapu-sapu di berbagai sungai dan saluran air ibu kota.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan yang dinilai mulai terganggu akibat dominasi spesies invasif tersebut.

Perekayasa Ahli Madya, Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (BRIN), Nur Hidayat menjelaskan ikan sapu-sapu yang awalnya dikenal sebagai ikan pembersih akuarium, kini justru menjadi salah satu spesies yang paling banyak ditemukan di perairan terbuka Jakarta.

Dalam jumlah besar, ikan ini kerap mendominasi habitat sungai dan menggeser keberadaan ikan lokal.

Ia menilai ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak bisa hanya dipahami sebagai persoalan spesies invasif semata.

Kondisi ini justru mencerminkan adanya tekanan berat terhadap kualitas lingkungan perairan.

"Dalam banyak kasus, meningkatnya populasi ikan sapu-sapu itu bukan sekadar soal invasif. Itu adalah indikator kuat bahwa kualitas air sudah menurun cukup jauh,” ujar Nur Hidayat kepada TribunTangerang.com, Jumat (17/4/2026).

Baca juga: Pandangan Warga Soal Masifnya Pembasmian Ikan Sapu-sapu di Jakarta

Aktivitas penangkapan ikan sapu-sapu di Jalan Janur Elok VI Blok QD9, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026) pagi.(Foto: Yolanda Putri Dewanti)
Aktivitas penangkapan ikan sapu-sapu di Jalan Janur Elok VI Blok QD9, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026) pagi.(Foto: Yolanda Putri Dewanti) (Istimewa)

Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi air yang tercemar.

Hal ini membuatnya mampu bertahan bahkan di lingkungan yang tidak lagi ideal bagi banyak spesies ikan lokal.

“Kita harus melihatnya sebagai sinyal ekologi. Ketika sapu-sapu mendominasi, itu artinya ikan-ikan lokal yang lebih sensitif sudah kalah bersaing karena kualitas air yang buruk,” lanjutnya.

Menurutnya, sumber pencemaran yang terjadi di sungai-sungai perkotaan umumnya berasal dari limbah domestik maupun industri yang belum terkelola dengan baik.

Hal tersebut menciptakan ekosistem yang lebih menguntungkan bagi spesies yang tahan terhadap polusi.

“Masalah utamanya bukan hanya ikannya, tapi apa yang masuk ke sungai. Limbah rumah tangga dan industri membuat ekosistem bergeser dan hanya spesies tertentu yang bisa bertahan,” jelas Nur.

Ia menambahkan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu memang diperlukan, namun tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perbaikan kualitas air secara menyeluruh.

"Kalau hanya ditangkap saja tanpa memperbaiki sumber masalahnya, maka siklusnya akan terus berulang. Sungai tetap tercemar, dan sapu-sapu akan kembali mendominasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pendekatan jangka panjang seperti pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), penegakan aturan pembuangan limbah, serta restorasi ekosistem sungai.

“Solusi jangka panjangnya harus menyentuh akar masalah. Air harus dibersihkan dulu, baru kita bisa berharap ikan lokal kembali berkembang,” katanya.

Ia juga menilai, keberhasilan pengendalian spesies invasif sangat bergantung pada pemulihan keseimbangan ekosistem secara keseluruhan, bukan hanya tindakan sporadis di lapangan.

"Kalau ekosistemnya sehat, secara alami populasi akan seimbang. Tapi kalau sumber masalahnya tidak diselesaikan, intervensi apa pun hanya bersifat sementara,” tutupnya.

Sementara itu, Muhammad Aminullah, Juru Kapanye Walhi Jakarta mengatakan pengendalian ikan sapu-sapu memang dapat dilakukan, bahkan dalam kondisi tertentu menjadi bagian dari strategi pemulihan ekosistem.

“Untuk pemulihan ekosistem itu ikan sapu-sapu memang diperbolehkan untuk dikendalikan dalam kondisi tertentu. Karena ini spesies invasif yang bisa mengganggu keseimbangan sungai,” ujar Muhammad.

Ia menjelaskan, dalam praktik konservasi, pengendalian satu spesies invasif juga pernah dilakukan di berbagai negara untuk melindungi biota lain yang lebih rentan.

"Di beberapa negara, pengendalian spesies invasif seperti ikan tertentu atau organisme lain memang dilakukan untuk menyelamatkan biota sungai lain. Ini bagian dari upaya konservasi ekosistem,” katanya.

Menurutnya, dalam kondisi tertentu, pengurangan populasi spesies invasif justru dapat memberi ruang bagi pemulihan biota lokal yang sebelumnya tertekan oleh dominasi satu jenis ikan.

“Kalau populasinya terlalu dominan, dia bisa menghambat ikan lain untuk berkembang. Jadi ketika ditekan, itu bisa memberi stimulus bagi ikan-ikan lokal untuk kembali tumbuh,” lanjutnya.

Namun demikian, ia menekankan penangkapan atau pemusnahan ikan sapu-sapu tidak bisa menjadi satu-satunya solusi dalam jangka panjang.

“Pemusnahan ikan sapu-sapu saja tidak cukup. Karena akar masalahnya bukan hanya di ikannya, tapi di kondisi lingkungan,” ujarnya.

Ia menyebutkan salah satu faktor utama ledakan populasi ikan sapu-sapu adalah kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas daerah aliran sungai.

“Ketika ekosistem rusak, predator alami mereka ikut hilang. Contohnya di beberapa sungai, predator seperti berang-berang sudah jarang terlihat karena habitatnya juga terganggu,” jelasnya.

Selain itu, tingkat pencemaran air yang tinggi di Jakarta juga menjadi faktor penting yang membuat ikan sapu-sapu semakin dominan dibanding spesies lain yang lebih sensitif terhadap kualitas air.

“Sekitar sebagian besar sungai di Jakarta dalam kondisi tercemar. Dalam situasi seperti ini, hanya spesies yang tahan terhadap polusi yang bisa bertahan, termasuk sapu-sapu,” katanya.

Ia menambahkan, tanpa perbaikan menyeluruh terhadap kualitas air dan ekosistem sungai, program penangkapan ikan sapu-sapu hanya akan bersifat sementara dan berulang.

“Kalau tidak ada perbaikan ekosistem secara menyeluruh, ini hanya akan jadi kegiatan rutin. Ditangkap, lalu muncul lagi, ditangkap lagi, begitu terus siklusnya,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.