Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berbohong tujuh kali hanya dalam waktu satu jam.
Hal ini terjadi setelah Iran membuka Selat Hormuz untuk seluruh kapal komersial menyusul gencatan senjata Israel-Lebanon.
Pada Jumat (17/4/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata.
Pengumuman tersebut menyebabkan harga minyak turun sekitar 10 persen.
Namun, pada Sabtu (18/4/2026), Teheran membatalkan keputusan tersebut karena AS melanjutkan blokade terhadap pelabuhan miliknya.
Artinya, Selat Hormuz kembali ke keadaan semula yakni berada di bawah pengawasan ketat militer Iran.
Trump sempat menuliskan tanggapan di media sosial sesaat setelah Iran membuka perairan tersebut.
Ia mengucapkan terima kasih, namun menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran tetap berlanjut.
Trump mengklaim bahwa Iran setuju untuk tidak menutup Selat Hormuz lagi.
Kemudian, pembukaan jalur penting tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Lebanon.
Sederet pernyataan itulah yang kemudian dianggap Qalibaf sebagai kebohongan.
"Presiden AS membuat tujuh klaim dalam satu jam, dan ketujuh klaim tersebut salah," tulis Qalibaf di X, dikutip dari RT pada Minggu (19/4/2026).
Ia menegaskan, kendali atas Selat Hormuz akan ditentukan di lapangan, bukan di media sosial.
Qalibaf mengakui bahwa perang media serta rekayasa opini publik merupakan bagian penting dalam perang.
Namun, Iran tidak akan pernah terpengaruh oleh trik tersebut.
Menurutnya, kebohongan tidak akan membantu AS mencapai tujuannya dalam negosiasi.
"Amerika tidak memenangkan perang dengan kebohongan-kebohongan ini, dan mereka tentu tidak akan mendapatkan apa pun dalam negosiasi," sambungnya.