Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, BEKASI- Wisata Taman Limo di Jatiwangi, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi kini bangkrut dan terbengkalai.
Padahal lokasi wisata yang berdiri sejak tahun 2016 itu menjadi lokasi favorit warga Cikarang dan sekitarnya sebagai wisata murah meriah.
Area wisata ini kini terkesan seram dan tidak terawat, sejumlah rumput liar dan semak-semak tumbuh tinggi. Ranting-ranting pohon hingga potongan pohon nampak berserakan di area tersebut.
Banyak bambu-bambu bekas bongkaran rumah-rumah makan dibiarkan begitu saja. Benda-benda yang menunjukkan dahulu lokasi itu tempat wisata masih ada ditinggal pemiliknya, seperti perahu bebek-bebekan, permainan kolam renang mandi bola, hingga permainan kereta api maupun komedi putar pesawat terbang.
Saung-saung yang dahulu tempat pengunjung berteduhpun nampak masih berdiri meski kondisinya sudah reyot hampir roboh.
Sudah tidak ada lagi suara riuh anak-anak kecil bermain dan percakapan keluarga yang tengah berwisata.
Kondisinya sunyi, dan hanya nampak ada sejumlah warga yang datang untuk memancing di area danau buatan tersebut.
Di sisi lain, para warga yang dahulu mengelola daerah itu kini beralih memanfaatkan lahan yang ada untuk program ketahanan pangan dari pemerintah, yakni dengan membuat ternak ikan lele.
Santung (37) eks Pengelola Wisata Taman Limo di Jatiwangi, Cikarang Barat menceritakan, lokasi wisata ini berdiri sejak pertengahan 2016.
Awalnya, warga setempat memanfaatkan lahan milik kawasan industri. Warga bersama pemerintah desa merapikan area itu dibuat seperti taman bermain.
Tujuannya agar warga ibu-ibu tidak ada kegiatan bisa berjualan di area tersebut, begitupula para anak muda yang belum mendapatkan pekerjaan bisa sedikit ada perputaran ekonomi.
Seperti berjualan es, kopi, wahana bermain anak maupun makanan.
"Lama-lama maju itu, mulai banyak yang lirik dari swasta. Dapat bantuan CSR penamaman pohon, maupun bantuan sarana dan prasarana infrastruktur di lokasi wisata," kata Santung ketika ditemui di lokasi pada Minggu (19/4/2026).
Untuk danau resapan air sudah ada sejak dulu, akan tetapi areanya dulu gersang tidak ada pepohonan.
Sehingga tim pengelola membuat aksi penanaman pohon hingga dibangun gazebo maupun saung-saung untuk berteduh pengunjung.
Perlahan tempat wisata itu sudah banyak diketahui warga Cikarang dan sekitar. Bahkan banyak pula dari warga diluar Cikarang yang datang.
Akan tetapi ketika sudah mulai berjalan baik dengan jumlah pengunjung alami peningkatan, badai Covid-19 menerpa hingga lokasi wisata itu harus tutup awal 2020.
Sekira Oktober 2020, lokasi wisata mulai bisa dibuka dengan protokol kesehatan.
Setelah pandemi mereda, Taman Limo kembali bangkit dan mencapai puncak kejayaan pada 2021-2022.
Jumlah pengunjung mencapai 500 hingga 1.000 di hari biasa dan 1.000 hingga 3.000 saat akhir pekan.
"2021-2022 bisa dibilang puncak kejayaan lah, itu ramai banget. Sampai tempat parkir enggak cukup," kata dia.
Sampai akhir 2022, bencana banjir besar melanda Bekasi dan berdampak pada lokasi wisata.
Akses jalan terputus dan sejumlah fasilitas mengalami kerusakan.
Kondisi tersebut membuat minat pengunjung menurun drastis pada 2023.
Santung mengungkapkan, saat kondisi mulai sepi para pedagang makanan dan wahana permainan memilih hengkang.
Padahal, daya tarik utama wisata itu terletak pada banyaknya pilihan kuliner dan permainan anak.
"Dari pas Covid-19 memang sudah banyak pedagang tutup, tambah ada bencana banjir, akses terputus kondisinya sepi. Itu jadi semakin banyak pedagang pergi tutup," kata dia.
Akhirnya pada akhir 2023, pengelola memutuskan menutup Taman Limo.
Usai ditutup, lokasi kini dimanfaatkan warga untuk program ketahanan pangan sejak awal 2024.
Warga menanam jagung, cabai, kangkung serta beternak ikan lele.
Hasilnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari hingga dijual ke pengepul.
"Untuk saat ini saya fokus dulu program ketahanan pangan yang sedang berjalan," tutur Santung. (MAZ)