Pasca Kebakaran Hebat di Udiworowatu, Nagekeo, Camat Servas Himbau Warga Selalu Waspada 
Hilarius Ninu April 19, 2026 09:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, MBAY - Kebakaran hebat yang terjadi di Kolinggi, RT 005, Dusun III, Desa Udiworowatu, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/4/2026) sekitar pukul 20.30 WITA yang menewaskan seorang pensiunan guru berusia 80 tahun merupakan kejadian pertama selama periode Januari - April di wilayah Kecamatan Keo Tengah.

Camat Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Servasius Ndapa kepada TribunFlores.com, Minggu (19/4/2026) mengatakan, saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Udiworowatu untuk membuat laporan tertulis ke Pemerintah Kabupaten Nagekeo dalam hal ini ke Dinas Sosial dan BPBD.

"Tapi laporan lisan sudah kita sampaikan dan hari ini sudah ada laporan tertulis ke Bapak Bupati dari Pemerintah Desa Udiworowatu. Kejadian ini kejadian pertama di tahun ini," ujar Servas melalui telepon selulernya. 

Ia membenarkan, korban meninggal dunia merupakan pensiunan guru yang sudah lanjut usia dan hanya tinggal bersama istrinya yang juga sudah lanjut usia.

 

Baca juga: Pensiunan Guru Tewas Terbakar di Keo Tengah Nagekeo, Rumah dan Harta Benda Ludes

 

 

"Beliau sudah lanjut usia jarang keluar, tinggal berdua sendiri dengan isterinya dan dua-duanya sudah lansia," katanya.

Ia belum memastikan penyebab  kebakaran tersebut.

Namun berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kebakaran tersebut diduga dipicu oleh sisa lilin doa yang lupa dimatikan.

Meski demikian, ia tetap menghimbau masyarakat Kecamatan Keo Tengah agar selalu memperhatikan instalasi listrik di rumah masing-masing dan melarang melalukan modifikasi atau sambungan sendiri tanpa sepengetahuan pihak PLN.

Kronologis Kejadian

Istri korban, Helena Bedha (76),  mengungkapan kronologi kejadian nahas yang terjadi di rumah mereka pada malam hari tersebut.

Menurut penuturan Helena, saat kejadian ia dan suaminya sedang berada di rumah mereka yang terbuat dari dinding bambu (naja). 

Malam itu, suasana rumah dalam keadaan sunyi karena mereka hanya tinggal berdua. 

"Semua pintu depan dan samping telah dikunci dari dalam, sementara pintu belakang hanya ditutup tanpa dikunci," ujar Helena.

Keduanya sempat makan malam bersama di dapur yang terletak di bagian belakang rumah utama. 

Setelah selesai makan, sang suami masuk ke kamar di rumah utama untuk beristirahat, sementara istrinya masih berada di dapur untuk membereskan peralatan makan.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, sang istri sempat menuju kamar mandi. 

Namun, ketika keluar dari kamar mandi dan menoleh ke arah rumah utama, ia terkejut melihat kobaran api sudah muncul dari dalam rumah.

“Saya langsung berlari masuk ke rumah utama dan menuju kamar untuk membangunkan suami,” ungkapnya.

Saat itu, korban sempat terbangun dan berlari menuju ruang tengah. 

Namun, di tengah situasi panik, korban kembali ke kamar dengan maksud menyelamatkan barang-barang berharga.

Melihat kobaran api yang semakin membesar, sang istri memilih menyelamatkan diri dengan berlari keluar rumah menuju dapur sambil berteriak meminta pertolongan.

Teriakan tersebut mengundang perhatian warga sekitar. 

Dua tetangga, Yustinus Rangga dan Basilius Da Silva, segera datang dan mengevakuasi sang istri menjauh dari kobaran api yang terus membesar.

Warga lainnya pun berdatangan untuk membantu memadamkan api. 

Namun, karena api sudah terlanjur membesar dan cepat melahap bangunan yang berbahan bambu, upaya pemadaman tidak membuahkan hasil.

Akibatnya, korban yang masih berada di dalam rumah tidak sempat diselamatkan dan meninggal dunia dalam peristiwa tragis tersebut. (Bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.