Analisis China di Tengah Kondlik Iran vs Amerika, 'Tak Suka' Pasokan Energi Diganggu
asto s April 19, 2026 10:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat seiring memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Kini, Selat Hormuz menjadi episentrum kekhawatiran global. Apakah China yang merupakan negara besar di dunia juga mengalami hal serupa?

Jalur laut strategis tersebut memegang peran krusial karena dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia, terutama minyak dan gas.

Isu potensi penutupan atau gangguan lalu lintas di Selat Hormuz memicu respons internasional. 

Sejumlah negara mendesak agar jalur tersebut tetap terbuka demi menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan energi global. 

Dinamika terbaru, China dilaporkan ikut mendesak Iran agar memastikan kelancaran pelayaran di kawasan tersebut.

Berikut analisis pengamat Timur Tengah terkait fenomena tersebut:

Aspek Diplomatis dan Militer

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti Sulaeman, menilai narasi bahwa Iran sepenuhnya menutup Selat Hormuz tidak sepenuhnya akurat. 

Menurutnya, Iran sejak awal lebih menekankan aspek keamanan nasional di tengah tekanan militer dan politik dari Washington.

"Dengan realitas yang ada, Amerika Serikat juga berkontribusi pada eskalasi karena melakukan agresi terhadap Iran. Dalam posisi ini, Iran merasa memiliki alasan untuk menjaga keamanannya,” ujar Dina dalam program Sapa Indonesia Pagi di kompastv, Jumat (17/4/2026).

Sikap China yang terkesan aktif secara diplomatik namun minim keterlibatan langsung, kata Dina, menunjukkan strategi kehati-hatian. 

Beijing, menurutnya, lebih memilih mengamati dinamika global sembari menghitung dampak ekonomi, terutama di tengah tekanan kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump terhadap China.

"Kebijakan Trump yang menekan China tidak serta-merta membuat Beijing bereaksi keras. China tetap fokus pada kepentingannya sendiri,” kata Dina.

Pandangan serupa disampaikan Dosen Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Sebelas Maret, Septyanto Galan Prakoso. 

Dia menilai langkah China menghubungi otoritas Iran merupakan refleksi kepentingan nasional yang rasional, bukan keberpihakan geopolitik.

"China menghubungi Menteri Luar Negeri Iran untuk memastikan kapal-kapalnya bisa melintas di Hormuz. Ini langkah diplomatik yang realistis dan memberi contoh bahwa dialog lebih efektif dibandingkan berpihak secara terbuka pada salah satu kubu,' ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur energi, tetapi juga simbol tarik-menarik kepentingan global. 

Ketegangan Iran-AS, sikap hati-hati China, serta kekhawatiran negara-negara konsumen energi menunjukkan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah tetap menjadi variabel kunci bagi ekonomi dunia.

Selat Hormuz Medan Baru Rivalitas Amerika Serikat-China, 

Pernyataan Menteri Pertahanan China Dong Jun pada April 2026 menandai perubahan penting dalam diplomasi Beijing. 

Jika sebelumnya China cenderung menahan diri, kini pesan yang disampaikan lebih tegas dan bernuansa deterensi, terutama terkait situasi di Selat Hormuz.

Associate Professor Universitas Beni Suef, Nadia Helmy, menilai pernyataan tersebut bukan sekadar sikap politik, melainkan bentuk deterensi nyata terhadap pihak-pihak yang menghambat kebebasan navigasi. 

Sikap itu muncul di tengah kebijakan blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat.

China, menurut Helmy, secara eksplisit menegaskan bahwa kapal-kapalnya akan tetap melintas di Selat Hormuz dan menolak segala bentuk “pengawasan eksternal” terhadap hubungan maritimnya. 

Sikap itu juga dibaca sebagai pengakuan implisit Beijing atas kedaulatan Iran di kawasan tersebut.

“Ini merupakan tantangan langsung terhadap tekanan Amerika Serikat yang bertujuan mengontrol atau menutup Selat Hormuz,” kata Helmy, dikutip dari Modern Diplomacy, Minggu (19/4/2026).

Blokade AS dan Respons China

Helmy menggambarkan relasi antara jaminan China kepada Iran dan strategi blokade laut AS sebagai dinamika yang kian kompleks dan berisiko meningkat. 

Menurutnya, langkah Beijing tidak serta-merta memaksa Washington mundur, bahkan berpotensi memicu eskalasi baru.

Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mempertimbangkan pengetatan blokade laut terhadap Iran dan Selat Hormuz, sembari memperingatkan China agar tidak memberi dukungan militer kepada Teheran.

“Washington melihat tekanan terhadap Iran sebagai bagian dari konfrontasi yang lebih luas dengan Beijing,” ujar Helmy.

Ia mengingatkan, setiap bentuk aksi balasan berupa blokade antara AS dan China berpotensi menjadi pemicu konflik terbuka antar-kekuatan besar.

Ketergantungan Energi China

Sikap keras China, menurut Helmy, tidak terlepas dari ketergantungannya yang tinggi terhadap energi Iran. 

Beijing disebut menyerap lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran, sekitar 1,38 juta barel per hari.

“China adalah negara yang paling bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan energinya,” tulis Helmy.

Sekitar 40 persen impor minyak China dan 30 persen kebutuhan LNG-nya juga melintasi jalur tersebut. 

Kondisi tersebut membuat Beijing menolak keras segala skenario penutupan Selat Hormuz.

China juga tercatat menggunakan hak veto terhadap resolusi internasional yang dinilai hanya menyalahkan Iran tanpa menyentuh akar konflik.

Menuju Konfrontasi yang Lebih Luas

Helmy menilai langkah China di Selat Hormuz sebagai awal konfrontasi tidak langsung dengan AS, yang melampaui isu ekonomi dan energi.

“Ini adalah tantangan terbuka China terhadap blokade Amerika terhadap Teheran,” ujarnya.

Di saat yang sama, Beijing memanfaatkan fokus Washington di kawasan Teluk untuk memperluas pengaruhnya di wilayah lain, termasuk Laut China Selatan dan Taiwan. 

Meski demikian, China tetap memainkan peran diplomatik, termasuk sebagai mediator dalam upaya meredakan ketegangan antara Teheran dan Washington.

Sinyal Kesiapan Beijing

Dalam analisisnya, Helmy menyebut krisis Selat Hormuz kini memasuki fase “internasionalisasi paksa”.

“China tidak akan puas hanya dengan tekanan ekonomi jika pasokan energinya terancam,” tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi, Beijing meningkatkan cadangan minyak strategis hingga sekitar 1,2 miliar barel, cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional selama lebih dari 100 hari. 

China juga menegaskan kehadiran militernya di kawasan sebagai langkah rutin pengamanan rantai pasok energi.

Helmy menyimpulkan, jaminan China kepada Iran justru memperumit situasi dan mendorong AS meningkatkan tekanan, termasuk melalui blokade laut.

“Kondisi ini meningkatkan risiko konfrontasi langsung antar-kekuatan besar di Selat Hormuz,” pungkasnya.

Sumber: Tribunnews dan KompasTV

Baca juga: Menggila Iran Selat Hormuz Ditutup Lagi, Kapal Nekat Melintas Siap-siap Dihancurkan

Baca juga: Sosok Eks Kepala Kas Bank BNI Aek Nabara Diduga Gelapkan Dana Jemaat hingga Rp28 M

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.