Margono Djojohadikusumo, Awalnya Pembantu Juru Tulis, Kemudian Jadi Pemimpin Bank BNI
Moh. Habib Asyhad April 19, 2026 10:34 PM

Margono Djojohadikusumo menjadi salah satu orang penting dalam sejarah perbankan Indonesia. Dia adalah pemimpin pertama Bank Negara Indonesia (BNI). Kariernya dimulai dari seorang pembantu juru tulis.

Artikel ini pernah tayang di Majalah INTISARI edisi Oktober 1978 dalam rubrik Cukilan Buku dengan judul "Dari Pembantu Jurutulis sampai Menjadi Pemimpin Bank"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -R.M. Margono Djojohadikusumo adalah orang penting dalam sejarah perbankan Indonesia. Dia adalah pemimpin pertama Bank Negara Indonesia (BNI). Kini cucunya, Prabowo Subianto, jadi Presiden Republik Indonesia.

Pengalamannya masih tetap dapat kita baca dalam bukunya yang berjudul "Herinneringen uit 3 tijdperken" (Kenang-kenangan tiga zaman) yang kami sarikan sebagai berikut.

===

Saya merupakan salah seorang dari 14 anak yang dilahirkan oleh seorang ibu. Dihitung dari atas saya nomor enam, tapi saya anak sulung dari semua yang masih hidup. Kakak-kakak saya meninggal muda. Keluarga saya termasuk ningrat melarat.

Kalau saya sebut kata "ningrat" ini bukan karena snobisme atau ingin saya banggakan. Justru sebaliknya. Saya tidak begitu suka pada ningrat lama maupun baru dalam masyarakat kita yang memandang rendah kelompok rakyat jelata.

Menjelang akhir abad yang lalu sebagai anak berusia 5 tahun, bersama ibu dan adik perempuan saya "pergi jauh" dari desa Bodas Karangjati, Kabupaten Purbalingga, ke ibukota karesidenan Banyumas. Ayah saya yang sebelumnya asisten wedana dipindahkan ke ibukota untuk menjadi ajun jaksa kepala di sana. Dia sudah berangkat lebih dulu dengan kakak-kakak saya. Ibu, saya, dan adik menyusul kemudian.

Saya masih teringat sayup-sayup, bahkan hari itu mendung dan desa-desa kebanjiran. Satu-satunya cara pengangkutan ialah dengan tandu. Begitulah kami memasuki kota.

Tidak lama setelah pindah ke kota, saya mulai dipersiapkan untuk masuk sekolah. Waktu itu ada dua macam sekolah dasar: sekolah pribumi lima tahun dan sekolah dasar Belanda, atau Europese Lagere School (ELS) yang tujuh tahun.

Sekolah pribumi memakai bahasa pengantar Jawa dan merupakan pendidikan final, sedangkan dari ELS ada kesempatan untuk masuk ke pelbagai sekolah menengah. ELS ini hanya ada di daerah yang dihuni oleh cukup banyak orang Eropa.

Mengingat kemungkinan meneruskan sekolah, tidak heran bahwa orangtua Indonesia berusaha untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah itu walaupun tidak mudah. Soalnya sekolah ini terutama diperuntukkan bagi anak Eropa dan anak-anak yang orangtuanya "dipersamakan dengan orang Eropah".

Sebagian kecil saja tempat tersedia untuk anak-anak Indonesia dari tingkat tertentu. Saya termasuk dalam kelompok "terpilih" ini (memalukan sebetulnya). Namun sebelum itu bahasa Belanda saya harus digembleng dulu. Ini syarat mutlak.

Karena itu saya mengikuti kursus bahasa Belanda sore hari selama enam bulan. Tuan C. Huge yang memberi bimbingan kepada saya sangatlah baik. Alangkah bedanya dengan kepala sekolah A.V.W kemudian. Orangnya "sadis" terhadap anak Jawa.

Pada hari pertama, anak-anak Jawa yang jumlahnya sekitar 10 orang itu sudah di-"pelonco". Kami dijajarkan dan diberi pidato entah apa. Dia segera menyentil "sarong dan kaki telanjang" kami. Waktu itu murid-murid Jawa hanya mengenakan kain batik, jas tutup dan bertelanjang kaki, walau orangtuanya kaya sekalipun.

Setelah pidato, kami tidak boleh masuk ke kelas sebelum telinga dan tangan dicuci. Untuk tujuan itu tukang kebun sekolah membawakan air. Murid-murid Jawa yang sudah lama pun harus melakukan upacara ini, yang harus diulangi setiap hari selama kepala sekolah itu masih berkuasa. Ini hanya salah sebuah contoh sikap antipati guru kepala itu terhadap anak-anak Jawa.

Beberapa waktu kemudian kakak-kakak saya tidak tahan lagi. Dengan bantuan rekan-rekan ayah, mereka bisa dipindahkan ke ELS di Banjarnegara, 30 km dari Banyumas. Mereka dikostkan pada seorang paman. Saya sendiri waktu itu belum terlalu terganggu oleh A.V.W. Lagipula saya masih terlalu muda (8 tahun) untuk dititipkan pada keluarga.

Baju hitam punya cerita

Pelajaran di sekolah berjalan lancar. Ayah saya seorang Jawa yang kolot. Dia tidak bisa berbahasa Belanda sepatah pun. Ibu pun tidak. Ketika ia dimasukkan ke sekolah Belanda ia lari dari rumah dan masuk pesantren. Semua adik-adiknya bersekolah di ELS dan kemudian bekerja sebagai pegawai BB (Binnenlands Bestuur).

Bagaimana caranya ayah bisa menjadi amtenar pemerintah Hindia Belanda, saya tidak tahu dengan jelas. Untuk mencari nafkah ia mulai bekerja sebagai mandor irigasi di waktu mudanya. Tetapi yang saya masih ingat ialah bahwa saya anak seorang asisten wedana yang sering diajak turne ke desa-desa untuk mengontrol irigasi, sawah, perawatan jalan, dan gudang kopi pemerintah.

Bahkan saya boleh ikut ke pertemuan desa, walaupun saya lebih tertarik pada penganan yang disediakan ibu lurah untuk saya. Jadi sejak kecil memang saya sudah terbiasa dengan kehidupan desa: keindahan, kesederhanaan, kebutuhan, kesulitan dan tentu saja keramahtamahan, sifat siap membantu sampai berlebih-lebihan, dan juga kepuasan yang khas desa.

Anda bisa membayangkan betapa kecewanya saya waktu sebagai anak desa umur 7 tahun diberi julukan "vieze Javaan" alias orang Jawa Kotor atau "vuile Inlander" atau pribumi kotor.

Namun yang lebih menekan saya adalah bahwa saya sebagai anak orang tidak berada hanya mempunyai pakaian terbatas. Saya cukup pandai di sekolah, bahkan salah seorang yang terpandai. Kalau mengenai pelajaran dengan segala senang hati saya pergi ke sekolah.

Namun di antara anak-anak lain saya merasa kurang pasti. Saya merasa bahwa setiap orang memperhatikan saya. Kadang-kadang baju saya terlalu sempit atau terlalu besar karena bekas kakak. Saya merasa tidak enak kalau ada orang yang kasihan.

Tetapi sekali saya tidak tahan lagi. Saya menangis. Waktu itu hujan. Dalam perjalanan ke sekolah saya kehujanan sehingga basah kuyup tiba di sekolah.

Guru saya, tuan Huge, meminta tukang kebun sekolah pergi ke rumah saya, mengambil pakaian kering. Ia kembali dengan kain bersih, tetapi dengan jas hitam yang hanya dipakai pada Hari Raya. Rupanya pakaian saya sehari-hari sedang dicuci atau belum kering. Melihat saya memakai jas hitam, murid-murid lain tertawa terbahak-bahak.

Sampai di rumah, saya ceritakan kepada ibu. Ternyata ia sangat sedih, sehingga saya menyesal menceritakannya.

Sungguh tidak adil kalau saya memberi kesan bahwa orangtua saya kurang memperhatikan anak-anaknya. Saya tidak tahu berapa gaji seorang ajun jaksa kepala pada waktu itu. Tetapi seharusnya cukup untuk keluarga normal setaraf kami.

Namun rumah tangga orangtua saya "unik". Walaupun waktu itu normal bahwa keluarga Jawa bisa bertambah anggotanya dengan kehadiran sanak keluarga yang tidak punya, tapi tambahan pada keluarga kami agak di luar proporsi.

Ketika ayah masih menjadi asisten wedana di kota kecil, tambahan ini belum jelas. Namun pada bulan-bulan pertama di Banyumas, sanak keluarga tua muda mengalir untuk tinggal di rumah orangtua saya.

Karena arti "keluarga" dalam masyarakat Jawa elastis, saya juga terbiasa menyapa mereka dengan paman, bibi atau menganggap mereka sebagai sepupu. Yang saya maksudkan bukanlah anak-anak yatim piatu atau anak-anak paman saya yang sudah meninggal dan dirawat seperti anak sendiri oleh ayah saya.

Tahun 1907 ketika saya ke Magelang untuk masuk sekolah menengah, lingkungan itu sudah bukan keluarga lagi, tetapi suatu clan sedangkan ayah satu-satunya pencari nafkah. Saya masih ingat bahwa waktu itu keluarga kami terdiri dari 40 orang, tua dan muda.

Saya tahu dengan tepat karena saya sering pergi ke dapur bersama pembantu setia kami untuk menghitung piring nasi yang dipakai makan, paling sedikit dua kali sehari.

Untuk pengertian rasional ekonomis sekarang ini hal ini pasti dianggap perasaan amal yang keterlaluan. Namun menurut pendapat ayah, apa yang kami terima dari Yang Maha Pengasih, wajib kita bagi dengan orang lain yang kekurangan dalam keadaan apa pun juga. Dan dengan demikian anak sudah kehabisan argumen.

Kalau tanggal muda

Orang yang sangat saya kasihi ialah ibu saya. Tidak pernah ia mengeluh. Orangnya pendiam dan tenang. Saya mengerti betapa sulitnya bagi ibu untuk jangan tekor dan tetap menyediakan nasi untuk memberi makan kepada demikian banyak orang.

Saya ingin sekali waktu mengeluarkannya dari kesulitan keuangan dan membelikan kebaya sutra indah. Namun mimpi kanak-kanak itu tidak pernah terwujud.

Ketika saya meninggalkan sekolah menengah Magelang pada usia 17 tahun, saya menjadi pegawai negeri sebagai pembantu juru tulis. Gaji saya f10 sebulan. Ibu meninggal tahun 1912 tak lama setelah saya bekerja dan ayah menyusul beberapa bulan kemudian.

Dalam keluarga kami sering terjadi adegan lucu yang menyedihkan. Lama kelamaan utang ayah menumpuk untuk memenuhi kebutuhan. Dia sendiri hidupnya sederhana. Dia hanya sarapan secangkir teh pagi hari.

Seperti biasa "utang konsumsi" tidak pernah berkurang tetapi bertambah besar. Teori ini saya pelajari kemudian sebagai pegawai dinas perkreditan desa (Volkscredietwezen), tetapi saya sudah mengenal praktiknya waktu kecil.

Pada permulaan setiap bulan (hari gajian) ayah saya sudah ditunggu orang-orang yang akan menagih utang, kebanyakan orang Cina. Adakalanya saya sudah diberi instruksi untuk memberitahu bahwa ayah tidak pulang hari itu atau alasan lain.

Pada suatu hari ayah sakit sehingga tidak ke kantor. Datang seorang penagih utang yang harus saya beritahu bahwa ayah tidak ada. Pada saat ia akan pergi, ayah batuk.

Orang itu mendekati saya. Katanya: "Nak, tolong beritahu ayahmu, bahwa saya tidak datang untuk menagih tetapi karena saya mendengar ayahmu sakit". Ia diperbolehkan masuk.

Kemudian saya dengar bahwa orang yang meminjamkan uang itu kapten golongan Cina dari kota Purbalingga. Beberapa tahun kemudian ketika saya sudah bekerja pada dinas perkreditan desa di Kebumen, saya mencicil utang ayah saya f2.50 atau f5 sebulan.

Sebetulnya tidak ada perjanjian tertulis, tetapi menurut filsafat Jawa yang terutama hidup di desa, hutang harus dibayar, bahkan juga jika orangtua sudah tiada. Kapten dari Purbalingga itu memang seorang peminjam duit, tetapi berperikemanusiaan.

Ke Osvia

Setelah saya lulus ELS di Banyumas, saya masuk Osvia di Magelang. Namun sebelum ke Magelang saya harus ikut "Klein ambtenaars examen". Ini semacam ujian pemerintah yang ijazahnya penting untuk bekerja di kantor gubernur atau dinas umum.

Semula dimaksudkan untuk orang dewasa golongan Indo yang bekerja sebagai juru tulis di kantor pemerintah. Dengan ijazah itu mereka bisa naik pangkat menjadi komis, redaktur, referendaris atau lebih tinggi lagi.

Ini disebut sebagai "klein ambtenaars examen" untuk membedakan dari "groot ambtenaars examen" Yang terakhir ini ialah untuk lulusan HBS (semacam sekolah menengah atas) untuk menjadi pegawai negeri Eropah. Pendidikan ini pelopor dari pendidikan indologi di Leiden kemudian.

Ujian "amtenar kecil" itu terdiri dari dua mata pelajaran: bahasa Belanda dan berhitung. Tarafnya sama dengan kelas tertinggi ELS. Karena makin banyak orang Indonesia yang masuk ELS, mereka juga boleh ikut ujian "amtenar kecil" sebab ELS tidak memberi ijazah dan ijazah amtenar kecil bisa dianggap setaraf.

Tak heran kalau orang dewasa yang pandai bahasa Belanda tetapi bukan lulusan SD Belanda, ikut duduk sekelas dengan anak belasan tahun.

Ijazah sederhana itu pada waktu itu penting bagi orang Indonesia yang ingin bekerja sebagai "penata praja pribumi". Dalam kelompok ini mereka bisa mulai sebagai juru tulis dan naik sampai tingkat teratas dalam golongan ini, bukan dalam dinas-dinas lain seperti pekerjaan umum, jawatan kereta api, kas negara, jawatan keuangan dan sebagainya.

Pegawai rendah dan menengah dari dinas-dinas itu de facto sudah disediakan bagi kelompok Indo. Namun kemudian berubah dengan banyaknya orang Indonesia.

Namun sebelum ke Osvia saya harus mendapat ijazah "amtenar kecil" dulu, kalau-kalau saya kelak tidak lulus di Osvia. Saya masuk juga ke Osvia dengan hati berat.

Alasannya sebagai berikut: Kakak yang tepat di atas saya, karena pindah sekolah ke Banjarnegara, ketinggalan di sekolah walaupun ia cukup pandai. Dia diterima di Osvia bersama saya. Ujian amtenar kecil sudah ditempuhnya dengan hasil baik.

Bagi orangtua saya, ini pilihan sulit, karena tidak ada uang untuk dua anak sekaligus. Umur saya dua tahun lebih muda, jadi sebetulnya saya bisa tinggal di sekolah dasar setahun lagi. Ketika kami membicarakan hal itu dengan orangtua, saya sangat terharu karena kebesaran bati kakak saya.

Katanya: Sekarang umur saya 15 tahun dan bisa langsung bekerja untuk mengurangi beban orangtua kita. Kalau paman-paman kita (adik ayah) bisa mencapai tingkat tinggi dalam dinas pemerintah dengan pendidikan itu-itu juga, mengapa saya tidak. Dan ia mulai sebagai juru tulis pada salah sebuah kantor. Ia mencapai tingkat redaktur (tingkat antara komis dan refendaris).

Betapa kecil pun gajinya, sumbangannya meringankan beban ibu. Ia meninggal pada usia 36 tahun dan meninggalkan janda dengan tiga orang anak.Dua orang anaknya masih bisa saya tampung kemudian dan saya besarkan di rumah seperti anak sendiri.

Kembali pada cerita mengenai Osvia yang kemudian diubah menjadi Mosviba (Middelbare Opleidingsschool Voor Inlandse Bestuurs-ambtenaren – Sekolah pendidikan menengah untuk pegawai negeri pribumi) dengan waktu belajar lima tahun. Dengan beberapa murid lain saya boleh meloncat ke kelas dua sehingga saya hanya belajar 4 tahun.

Semua murid harus masuk asrama. Setiap murid mendapat kamar yang lumayan besarnya lengkap dengan ranjang lemari pakaian dan meja kerja.

Bagi saya yang di rumah hidup sederhana ini merupakan suatu kemajuan besar. Pada zaman Osvia ini saya mendapat latihan untuk mengurus uang orang lain.

Soalnya di sana ada perkumpulan sekolah untuk olahraga dan rekreasi. Setiap anak harus membayar iuran 50 cent untuk misalnya membayar pemain gamelan, guru tari dan sebagainya.

Pengurus terdiri dari murid kelas lebih tinggi, tetapi saya ditunjuk menjadi bendahara. Saya mendapat tugas tidak enak, sebagai penagih iuran dan setiap minggu pagi saya harus membayar pemain gamelan, mengurus administrasi uang dan sebagainya.

Saya melakukan tugas itu sampai saya lulus. Setiap tahun setelah liburan puasa ada pemilihan pengurus baru dan saya terpilih kembali.

Saya tidak tahu mengapa mereka memilih saya, karena saya anak miskin, kalau tidak paling miskin di seluruh sekolah. Semua murid tahu.

Rupanya pada pemilihan pertama saya murid termuda sehingga mendapat tugas paling tidak enak. Pokoknya hal ini merupakan pendidikan paksaan yang baik untuk pekerjaan yang akan saya lakukan kemudian, walaupun waktu itu saya belum tahu.

Musibah berturut-turut

Pada tahun-tahun terakhir di Osvia banyak terjadi kesulitan keluarga. Setahun sebelum saya ke Magelang (1906) kakak sulung saya yang bersekolah di Stovia, Jakarta, lulus menjadi arts dan ditempatkan di Kediri.

Dia bukan hanya mengurangi beban orangtua saya, tetapi juga menjadi tumpuan besar keluarga. Misalnya saja ia mengambil alih biaya pendidikan saya.

Selama dua tahun berpraktik, dia menonjol sebagai pemberantas wabah tipus yang melanda Jawa Timur. Ia terpilih menjadi opsir kesehatan dalam tentara Hindia Belanda dan ditugaskan di Cimahi. Tugas ini sebelumnya selalu diperuntukkan bagi dokter yang lulus di Nederland.

Namun ia tidak pernah mencapai tempat tugasnya. Dalam perjalanan ke sana dia dan istrinya yang sedang hamil jatuh sakit di Banyumas. Ternyata mereka menderita tipus.

Mereka meninggal berturut-turut setelah istrinya melahirkan anak perempuan. Waktu itu pengetahuan medis belum begitu maju dan belum ada vaksinasi anti penyakit menular. Jadi sangat berbahaya terutama bagi para dokter.

Ketika kakak sulung saya dan istrinya meninggal saya masih di Magelang (1907) karena peristiwa ini pelajaran saya di Osvia hampir terbengkalai. Saya sudah menulis surat kepada orangtua saya tentang kemungkinan keluar sekolah dan mencari pekerjaan, tetapi ternyata ada seorang paman yang bersedia membantu.

Waktu itu bulan September 1911 ketika saya pulang dengan harapan bisa membantu keuangan orangtua. Saya ditempatkan sebagai BB tingkat terendah dengan gaji f10 sebulan. Dengan gaji sebanyak itu saya tidak bisa apa-apa, apalagi membantu orangtua.

Selama itu kesehatan ibu menurun. Saya masih bisa mendampinginya selama dua bulan. Sampai saat terakhir pikirannya masih terang. Bahkan ketika saya memperlihatkan pengangkatan saya dengan gaji f10 dia berkata: Jalannya ada. Itu sudah tersurat dalam namamu (margo=jalan; ono=ada). Ketika ia meninggal semua anak hadir. Ia mencapai usia 50 tahun.

Kepergian ibu meninggalkan kekosongan di rumah. Seminggu sebelum selamatan hari ke-100, pembantu rumah tangga kami yang sudah bekerja puluhan tahun, ingin mempersiapkan selamatan.

Namun ayah yang masih sehat walafiat berkata supaya menunggu dulu. Rupanya ia sudah mempunyai firasat. Dua hari kemudian ia sakit keras. Ia mendapat perawatan medis sebaik-baiknya, tetapi meninggal tepat pada hari ke 100 kematian ibu.

Hari itu tanggal 10 Februari 1912. Saya belum genap 18 tahun dan dalam waktu yang singkat sudah menyaksikan dua orang pergi di kamar yang sama.

Bagaimana dengan kami? Kedua kakak laki-laki dan perempuan serta saya yang semuanya belum menikah, mendapat tugas untuk mengurus adik-adik. Yang paling kecil umurnya baru 3 tahun. Bahwa ini masa sulit tidak diragukan.

Kesulitan keuangan merupakan alasan utama mengapa saya berusaha mencari pekerjaan lain.

Beberapa bulan setelah saya menjadi pembantu juru tulis di Banyumas bulan September 1911 saya sudah dinaikkan menjadi juru tulis pada asisten wedana sebuah kota pegunungan kecil di daerah Dieng. Saya tinggal empat bulan di sana.

Pada akhir 1912 saya dipindahkan ke Cilacap. Di sana saya mendapat gaji 30 gulden, sehingga ada kesempatan untuk, bernapas sedikit.

Saya tinggal pada seorang paman miskin dan saya memberi sedikit uang kos bagi saya dan adik saya yang 12 tahun lebih muda dan masih belajar di SD. Dari gaji itu saya bisa menyisihkan f 1.50 untuk membeli majalah De Expres dokter Tjipto.

Majalah itu dianggap merah oleh rezim kolonial. Waktu itu umur saya tepat 18 tahun dan haus bacaan. Saya suka membaca artikel Tjipto dan Douwes Dekker. Namun nyaris kehilangan kesempatan bekerja di perkreditan desa gara-gara menjadi langganan majalah De Expres.

Ketika saya menjadi juru tulis di desa Pejawaran, pegunungan Dieng itu, tinggal seorang kontrolir Belanda beberapa kilometer dari situ. Saya berkenalan dengan dia ketika ia berkunjung ke desa kami.

Entah mengapa ia tertarik pada saya dan kadang-kadang membawa majalah Belanda untuk saya. Supaya tetap mahir bahasa Belanda katanya.

Kontrolir yang saya lupa namanya inilah yang memberi tahu mengenai kemungkinan untuk masuk dinas perkreditan desa. Apa persis tugasnya, saya tidak tahu, tetapi ini memberi kesempatan untuk mendapatkan gaji f75 pada masa pendidikan.

Padahal waktu itu sebagai juru tulis gaji hanya f 15. Saya langsung mendaftarkan diri. Dengan bantuan kontrolir itu permintaan disalurkan melalui hierarki panjang, dari asisten wedana, ke wedana, bupati, asisten residen lalu residen dan baru ke Departemen BB di Batavia.

Selama itu saya pindah ke Cilacap. Berbulan-bulan telah berlalu, tanpa ada kabar berita. Saya pikir saya akan tetap menjadi pegawai BB.

Namun delapan bulan kemudian saya mendapat panggilan untuk menghadap Koesoemo Joedo, inspektur dinas perkreditan desa di sebuah hotel di Cilacap. Dia baru datang dari Batavia. Test berhubung dengan lamaran itu berjalan lancar.

Namun ketika dia mendengar bahwa saya langganan De Expres dia agak kaget. Dia hanya berkata: Pribadi saya tidak keberatan, tetapi saya tidak tahu bagaimana pendapat "bapak-bapak dari Batavia".

Tiga bulan berlalu, tanpa berita. Tanpa diharapkan lagi (setelah pindah ke Cilacap red.), saya mendapat panggilan ke Purworejo untuk ikut pendidikan menjadi pegawai Dinas Perkreditan Desa. Ini terjadi tanggal 20 Mei 1913. Habislah riwayat singkat saya bekerja pada BB.

Mas kawin yang luar biasa

Tuan Besseling ialah bekas kepala dinas perkreditan desa. Dia mempunyai perhatian besar terhadap adat Jawa, terutama karena ia juga pernah tinggal di Sumatera. Pada suatu hari ia bertanya mengenai upacara perkawinan.

Waktu itu saya baru menikah dua tahun dan mendapat bayi pertama (Sumitro) yang waktu itu baru berumur beberapa bulan. Ia bertanya apa yang saya beri sebagai mas kawin.

Jawaban saya sebetulnya dimaksudkan untuk bergurau, tetapi Besseling menjadi terdiam ketika mendengarnya.Saya menjawab bahwa istri saya dan saya saling memberi hadiah perkawinan yang luar biasa.

Istri saya putri sulung seorang dokter Jawa yang tahun 1910 meninggal waktu memberantas penyakit kolera di Jakarta. Ia meninggalkan janda dengan enam anak di bawah umur.

Karena ayahnya meninggal dalam dinas, ibunya mendapat pensiun kecil. Waktu menikah istri saya juga tahu bahwa saya tidak seorang diri. Orangtua saya meninggal muda dan saya masih harus mengurus adik-adik yang masih kecil.

Inilah apa yang kami sebut gono-gini, kebiasaan perkawinan menurut adat Jawa Tengah. Dalam hukum perkawinan Eropa bisa dibandingkan dengan "perkawinan harta campuran". Namun gono-gini kami bukan persatuan barang, tetapi persatuan mengurus adik-adik.

Kira-kira sebulan setelah kunjungan itu secara tidak terduga saya mendapat panggilan telegram untuk menghadap di kantor besar di Batavia. Istri saya dan saya sendiri bertanya-tanya apa maksudnya. Apakah mungkin kami harus pindah dari Kebumen?

Bagaimanapun juga, saya mempersiapkan perjalanan kereta api dari Kebumen ke Jakarta. Namun sebelumnya gelang emas istri harus digadaikan dulu untuk membeli karcis kereta api. Semua biaya memang diganti, tetapi saya harus membayar dulu, termasuk ongkos tinggal di Jakarta.

Ternyata saya mendapat pemberitahuan bahwa saya akan dipindahkan ke Madiun dan di-"reklasir" dalam kelompok "Gewestelijke ambtenaren" bersama dengan rekan lain dari Madura (bernama Ismail).

Selama ini fungsi resmi saya adalah “Inlandse ambtenaar untuk dinas perkreditan desa" dengan gaji permulaan f100 dengan enam kenaikan gaji setiap dua tahun antara f25 sampai f250.

Saya baru mendapat kenaikan pertama sehingga gaji saya f 125. Dalam fungsi baru di Madiun saya langsung akan mulai dengan gaji maksimum mencapai f850 setelah menjalani beberapa ujian.

Dalam perjalanan kereta api pulang ke Kebumen saya melamun. Jadi ini "mas kawin" terlambat yang saya bawa pulang, kenaikan gaji 100 persen. Secara tidak sadar saya teringat kembali kata-kata mendiang ibu ketika padanya saya perlihatkan surat pengangkatan sebagai pembantu juru tulis dengan gaji f10. Waktu ia berkata "Margane ono" (jalannya ada).

Ibu bijaksana

Hari-hari setelah pulang disibukkan dengan persiapan pindah ke Madiun. Perlengkapan rumah sederhana kami harus dilelang. Ini memang kebiasaan umum di kota-kota kecil di Indonesia pada saat itu ongkos angkut akan lebih besar dari nilai barang.

Pada lelangan seperti itu sudah menjadi kebiasaan tak tertulis bahwa pemilik tidak boleh hadir. Juru lelang di hadapan notaris atau wakilnya akan mengurus segala sesuatu.

Ini memberi kesempatan kepada handai-tolan untuk menawar barang-barang yang tidak berharga, yang kadang-kadang dihargai berlebihan. Hasil pelelangan itu bagi kami sangat membantu.

Untuk pemindahan ke Madiun yang dibayar hanya biaya keluarga resmi, yang terdiri dari dua orang dan seorang bayi yang boleh menumpang gratis. Namun dalam keluarga ilegal termasuk nenek, adik-adik dan dua pembantu tua.

Jumlahnya lima atau enam kali keluarga resmi. Berkat lelangan itu pemindahan tidak membawa kesulitan. Bahkan anjing kami Fidel, bisa ikut.

Setelah sampai di tempat tugas baru terjadi sedikit selisih paham mengenai pemanfaatan "mas kawin". Di tempat baru saya ingin segera membeli mebel baru dengan sewa beli. Bukankah kami harus hidup menurut taraf Eropa seperti lazimnya? Namun istri saya tidak mau tahu.

Pokoknya dia tidak mau membuat utang baru. Kenaikan gaji merupakan rezeki anak, sehingga menurut istri saya, lebih baik dipakai membeli polis untuk studinya kelak. Kemauan dialah yang diturut.

Pengalaman pribadi antara tahun 1930 dan 1942

Pemindahan saya sebagai amtenar dari dinas Perkreditan Desa Malang ke Jakarta tahun 1930 juga merupakan permulaan masa pekerjaan baru. Saya ditempatkan di kantor pusat bank kredit rakyat umum dan mendapat tugas untuk mengorganisasi "jawatan koperasi" yang baru terbentuk.

Jawatan koperasi yang baru dibentuk itu terdiri dari beberapa amtenar dan merupakan bagian kecil dari departemen BB serta menjadi korban peraturan penghematan pemerintah tahun 1935/36. Dalam mata pimpinan departemen, bagian tersebut hanya embel-embel yang dengan mudah bisa dikeluarkan.

Supaya jangan dibubarkan sama sekali jawatan koperasi itu dimasukkan ke dalam departemen urusan ekonomi (Economische Zaken, EZ) dan digabung dengan dinas penerangan perdagangan dalam negeri.

Kepala jawatan koperasi adalah Prof. Dr. F.H. van der Kolff. Saya dapat bekerja sama dengannya. Ternyata tidak mau menerima penyatuan dengan dinas penerangan perdagangan dan dia tetap di Rechts Hogeschool, tempat ia menjadi guru besar luar biasa dalam ilmu ekonomi.

Bagi saya tidak ada jalan lain pada prinsipnya saya tidak setuju penerangan perdagangan dan koperasi disatukan. Dengan hati berat saya pindah ke departemen urusan ekonomi. Kembali ke jawatan perkreditan desa, tidak mungkin.

Bukan hanya karena pekerjaan penerangan koperasi yang saya rintis lima, tahun sebelumnya tidak bisa saya tinggalkan begitu saja, tetapi juga karena sikap kaku tokoh-tokoh nasional tentang kerjasama dengan pemerintah dalam bidang ekonomi sedikit demi sedikit berubah atau ada ada lebih banyak saling pengertian dan penghargaan.

Dengan demikian saya kembali dalam kekakuan amtenar dari departemen EZ urusan ekonomi. Saya tidak bekerja setulus hati, Saya kehilangan kebebasan bertindak padahal selama ini saya terbiasa bebas dengan tuan Fruin dan van der Kolff.

Namun waktu itu terjadi selingan yang menyenangkan. Tahun 1934/35 saya diperbantukan kepada J.W. Meier Ranneft untuk melakukan pembicaraan perdagangan dengan Jepang. Mr. Bart yang waktu itu direktur dari "EZ" juga ikut dalam delegasi Belanda. Waktu turun dari kedudukan direktur dari "EZ" tahun 1936 ia menyarankan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk "meminjamkan" saya kepada kementerian jajahan di Den Haag.

Karena itu tahun 1936 saya dipindahkan ke kementerian itu di bagian urusan kesejahteraan dengan tugas khusus menyelidiki laporan tentang "golongan menengah pribumi" dari pemerintah Hindia Belanda. Kemudian harus membuat kompilasi untuk menteri (waktu itu Ch. Welter).

Setelah tugas itu dilakukan, menurut menteri "peminjam" satu tahun dianggap terlalu singkat dan ia menyarankan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk memperpanjang kehadiran saya di Belanda dengan dua tahun lagi. Langsung datang tilgram dari departemen E.Z. di Indonesia bahwa saya harus kembali secepat mungkin karena saya "diperlukan".

Bagi saya ini merupakan kekecewaan besar karena tidak bisa tinggal lebih lama di Nederland, terutama karena studi kedua anak perempuan saya Soekartini dan Miniarti. Dalam perjalanan pulang saya mendapat tugas untuk mewakili Indonesia (Hindia Belanda) di Kongres Koperasi Internasional di Glasgow, Skotlandia bulan Juli 1938.

Sebulan kemudian keluarga kami lengkap bertemu di Paris dalam tahap terakhir perjalanan pulang. Ini juga pertemuan terakhir antara Soemitro dan Soekartini yang tinggal di Eropa, dengan kedua adiknya Soebianto (14) dan Soejono (9).

Ketika kembali ke departemen E.Z. saya melakukan tugas untuk koperasi lebih rutin daripada yang diharapkan. Semua antusiasme yang ada sejak jawatan koperasi dimulai sampai keberangkatan saya ke Nederland tahun 1937 telah lenyap. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya saya anggap pada dasarnya salah untuk menyatukan penerangan perdagangan dalam negeri dengan koperasi.

Zaman Jepang

Saya hanya sebentar bekerja di kantor Hatta, karena departemen E.Z. dibuka lagi dan pegawai Indonesia diminta untuk melapor pada tentara pendudukan.

Kantor pemerintah ditaruh di bawah pengawasan pegawai sipil Jepang yang mengenakan seragam militer tanpa tanda pangkat, yaitu yang disebut orang Jepang Sakura.

Dari kelompok pegawai Indonesia ditunjuk empat orang untuk menjadi pimpinan departemen, menurut masa kerja urutannya adalah sebagai berikut: Ir Surachman Surasno, Ir. Teko, dan saya sendiri. Pekerjaan tidak banyak. Pimpinan tugasnya setiap pagi membuat laporan dari kantor-kantor yang termasuk departemen itu, dalam bahasa Inggris, yang juga tidak dibaca oleh orang Jepang karena tidak paham bahasa asing.

Bagi saya sendiri tidak ada tugas lain daripada mengambil gaji f500 (uang Jepang). Ini gaji maksimum untuk bekas pegawai negeri.

Jawatan koperasi yang bukan "dinas pemerintah" dalam arti kata biasa, diistirahatkan sama sekali. Untung bahwa dasar dari pikiran koperasi selama 10 tahun sebelum pendudukan sudah cukup kokoh sehingga perkumpulan koperasi bisa berkembang terus selama masa itu tanpa bantuan pemerintah.

"Algemene Volkscredietbank" yang diubah namanya menjadi Syomin Ginko oleh orang Jepang (dan Bank Rakyat Indonesia oleh orang Indonesia) dibuka lagi. Ketika saya diminta untuk memperkuat tim Indonesia dalam Bank Rakyat Indonesia, saya menerima dengan senang hati.

Ini tidak berlangsung lama karena Pangeran Mangkunegara, Adipati Mangkunegoro VII, kemudian meminta kepada pejabat-pejabat militer di Jakarta untuk diperbolehkan "meminjam" saya untuk daerahnya, untuk membantu mengorganisasi departemen ekonominya.

Semula saya keberatan meninggalkan BRI karena sudah betah, tetapi akhirnya saya terima juga atas desakan Pangeran Mangkunegara pribadi. Saya mengenalnya sejak zaman Budi Utomo dan zaman Jawatan Kredit Rakyat di Madiun yang juga melingkupi Surakarta dan Mangkunegaran.

Selama itu di Jakarta telah didirikan semacam perwakilan rakyat yang diberi nama Tjuo Sangi In. Badan ini mempunyai beberapa ratus anggota yang semua ditunjuk oleh Jepang, rupanya setelah dibicarakan dengan Sukarno-Hatta. Saya ditunjuk sebagai wakil Mangkunegaran. Pada saat-saat tertentu saya ke Jakarta untuk menghadiri sidang-sidangnya.

Ini berlangsung kira-kira setahun. Bulan Juli 1945 saya atas saran Hatta dipanggil kembali ke Jakarta untuk dipekerjakan di kantor pusat "Pengawasan Makanan Rakyat". Bagi saya pekerjaan ini suatu lanjutan dari tugas saya di Solo, karena di sana pun saya bertugas mengurus distribusi makanan dalam wilayah Mangkunegaran sedangkan di Jakarta untuk seluruh Jawa.

Kembali ke Jakarta

Namun pekerjaan baru ini tidak mempunyai arti riil. Di kantor tidak ada pekerjaan. Hanya orang Jepang kelihatan sibuk. Mereka terutama membakar kertas-kertas. Orang merasa bahwa akhir pendudukan sudah dekat biarpun koran-koran Indonesia masih penuh dengan berita kemenangan pada pihak Jepang.

Berita mengenai kapitulasi Jepang dirahasiakan kepada rakyat sampai saat terakhir. Hanya orang-orang tertentu yang sudah mengetahuinya sekitar seminggu sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Akhir pendudukan memang pasti sudah dekat tetapi bagi saya tetap merupakan sesuatu yang tak terduga ketika Subianto tanggal 15 Agustus berkata: "Pak, bapak sudah mendengar? Jepang telah menyerahkan diri tanpa syarat".

Saya bertanya dari mana ia mendapat berita itu. Jawabannya khas untuk jiwa dan wataknya: "Dari seseorang yang saya tidak bisa dan mau sebutkan karena hidupnya lebih berharga dari saya sendiri".

Ternyata "seseorang" itu tak lain dari Sjahrir yang belum pernah saya lihat dan kenal sebelumnya. Antara Sukarno dan Hatta dengan Sjahrir ada perjanjian bahwa setelah Sjahrir kembali dari pembuangan di Banda Neira, selama masa pendudukan Jepang, dia akan bersembunyi dan memimpin aksi di bawah tanah.

Salah satu dari pembantu Sjahrir ialah Subianto, tanpa saya ketahui walaupun saya ayahnya. Sejak saya kembali dari Solo ke Jakarta, tindak tanduknya sangat misterius.

Dia hampir tidak pernah tidur di rumah dan hanya pulang pada saat-saat tertentu untuk makan dan menghilang lagi. Dengan ibunya dia telah bersepakat untuk membiarkan tirai kamar depan terbuka sebagai pertanda di rumah aman.

Dari ipar saya Mr. Santoso yang bekerja di departemen pendidikan, kami mendengar bahwa ada desas desus Subianto dicari oleh Ken Pei Tai karena meneruskan berita burung tentang kapitulasi Jepang. Itulah Subianto adik Sumitro yang 7 tahun lebih muda. Subianto termasuk dalam kelompok pemuda yang ikut menculik Soekarno dan Hatta untuk proklamasi 17 Agustus 1945.

Lahirnya BNI

Setelah Indonesia bebas dari pendudukan Jepang, maksud saya yang pertama ialah bekerja untuk pembangunan ekonomi negara. Untuk itu perlu suatu bank nasional yang melayani lalu lintas perdagangan internasional.

Bank Belanda dan bank asing sudah ada seperti De Javasche Bank yang selain mempunyai hak octrooi sebagai bank sirkulasi juga mempunyai bagian komersial, Ned. Handel Maatschappij of Factorij, de Ned. Handelsbank, Escompto, Yokohama Shanghai Bank, Chartered Bank dan Overseas Chinese Banking Corporation. Mungkin lebih banyak lagi.

Saya menghubungi Hatta untuk menyampaikan rencana saya. Sebagai ekonom dan nasionalis ia setuju dengan ide bank sentral. Pada sidang kabinet 19 September 1945 diberinya surat kuasa kepada saya untuk mempersiapkan pembentukan Bank Negara Indonesia, yang ditandatangani Sukarno-Hatta.

Berita duka

Waktu itu hari Sabtu tanggal 26 Januari 1946 di Yogyakarta. Tanggal 1 Desember 1945 saya bersama pemerintah republik ikut ke Yogya. Keluarga saya tinggal di Jakarta. Saya mendapat kamar di Hotel Merdeka yang sekarang menjadi Hotel Garuda dan sebelumnya Grand Hotel, salah satu hotel besar pada zaman kolonial.

Sabtu itu hari berat bagi saya karena harus memimpin rapat tentang distribusi makanan di daerah republik. Kecuali sebagai pimpinan Bank Negara Indonesia yang baru didirikan, sementara saya masih harus pula meneruskan tugas yang berhubungan dengan pengadaan pangan.

Waktu masih pukul 9 malam, ketika saya ingin tidur. Sebelum saya melepaskan pakaian ada telepon untuk saya dari sekretaris negara Mr. A.G. Pringgodigdo. Saya pergi ke lobby hotel, di mana telepon berada. Lobby masih penuh tamu hotel.

Lalu datang berita menggemparkan dari Jakarta, dari Mr. Pringgodigdo yang memberitahu bahwa kedua putera saya Subianto dan Sujono, sehari sebelumnya (25 Januari 1946), telah tewas di Tangerang. Berita itu disampaikan dari Cirebon oleh Dr. Sudarsono waktu itu residen di sana. Waktu itu belum ada hubungan langsung antara Jakarta dan Yogya.

Beberapa menit saya tidak bisa berbicara dan tidak dapat menguasai diri. Kedua anak itu masuk semacam dinas militer pada TNI tetapi saya sama sekali tidak mengira kemungkinan "tewas dalam perjuangan". Bukankah tidak ada perang lagi setelah Jepang menyerahkan diri?

Perjalanan kereta api memakan waktu sekitar 12 jam. Kami tiba di Jakarta pukul 11 keesokan harinya. Ketika saya tiba di Taman Matraman, keluarga saya sudah siap untuk berangkat ke Tangerang.

Ternyata pengangkutan jenazah (jumlahnya 31) dari Serpong yaitu tempat pemuda-pemuda itu gugur, ke Tangerang dilakukan dalam dua tahap. Dalam kelompok pertama termasuk Sujono, dia sudah dimakamkan sehari sebelumnya sehingga saya tidak melihat jenazahnya lagi.

Gelombang kedua akan terdiri dari 20 jenazah. Saya mencari Subianto, dan saya segera mengenalinya dari pakaiannya.

Makam Sujono kebetulan yang paling bawah dan terakhir sehingga di sebelahnya masih ada tempat terbuka. Saya minta kepada Mayor Singgih apakah tempat kosong itu boleh untuk Subianto. Permintaan itu dikabulkan.

Adik-adik mereka yang mereka lihat terakhir kali delapan tahun sebelumnya pada tahun 1938 di stasiun Gare du Nord Paris, tidak bisa mereka temui lagi. Waktu itu adik-adik mereka itu masih anak-anak berumur 14 dan. 9 tahun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.