TRIBUNNEWS.COM - Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran terancam batal.
Iran secara tegas menyatakan belum berencana mengirim delegasi resmi untuk duduk kembali di meja perundingan dalam waktu dekat.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan.
Iran merasa dipojokkan oleh retorika keras Presiden AS, Donald Trump.
Sumber internal yang dekat dengan tim diplomatik Iran membocorkan bahwa Teheran memberikan syarat mati: tidak akan ada negosiasi selama ancaman "blokade laut" oleh Trump masih menghantui mereka.
"Selama pernyataan soal blokade laut terhadap Iran itu belum ditarik, jangan harap ada pergerakan diplomatik formal," ungkap sumber tersebut sebagaimana dikutip dari WANA News Agency.
Di sisi lain, pihak Gedung Putih tampak lebih optimistis — atau setidaknya mencoba terlihat demikian.
Trump sempat sesumbar kepada New York Post bahwa sosok kunci seperti Jared Kushner dan Steve Witkoff bakal terbang ke Islamabad, Pakistan, pada Senin (20/4/2026) untuk menemui pihak Iran.
Namun, klaim sepihak ini justru dimentahkan oleh otoritas di Teheran yang mengaku sama sekali belum mengonfirmasi kehadiran delegasi mereka.
Sikap dingin Iran ini merupakan kelanjutan dari maraton perundingan di Islamabad pekan lalu.
Meski sudah menghabiskan waktu hingga 21 jam dalam diskusi yang dimediasi Pakistan, kedua negara gagal mencapai kesepakatan final.
Baca juga: Jelang Negosiasi, Iran Tegaskan Takkan Tunduk pada Tekanan AS: Kami Bertahan Sampai Akhir
Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan pihak AS yang diwakili J.D. Vance memang sempat mencapai beberapa titik temu kecil.
Namun, "benteng" perbedaan masih terlalu tinggi.
Pihak Iran menuding AS sengaja menghambat kesepakatan dengan mengajukan tuntutan yang dianggap tidak masuk akal dan berlebihan.
Sebelumnya, Trump menuduh Iran telah melanggar gencatan senjata dengan menembaki kapal-kapal di dekat Selat Hormuz.
Trump menegaskan tidak akan segan-segan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan tidak tercapai.
"Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal. Saya harap mereka menerimanya."
"Jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran. Tidak ada lagi kata baik!" tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya, Minggu (19/4/2026), mengutip Reuters.
Ketegangan ini dipicu oleh keputusan mendadak Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz pada hari Sabtu kemarin.
Langkah Iran tersebut membatalkan harapan dunia internasional setelah jalur energi vital itu sempat dibuka singkat pada hari Jumat.
Akibat penutupan ini, sekitar 20.000 pelaut terdampar di kapal-kapal yang menganggur, sementara harga minyak dunia kembali bergejolak.
Baca juga: Tiga Hari yang Krusial, Perang Lanjutan Iran dan AS-Israel di Depan Mata
Setelah Trump memberikan ancaman, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian angkat bicara.
Pezeshkian menyentil campur tangan AS, terutama terkait program nuklir Iran.
Ia mempertanyakan kapasitas AS yang seolah-olah merasa memiliki hak untuk mengatur urusan dalam negeri negara lain.
"Siapa sebenarnya Amerika Serikat hingga merasa berhak memutuskan masa depan dunia?" cetusnya sebagaimana dikutip dari WANA News Agency.
Pezeshkian menekankan bahwa tindakan militer yang diambil Iran selama ini murni merupakan bentuk pertahanan diri yang sah.
Ia juga melontarkan kritik pedas terhadap negara-negara Barat yang dianggapnya berupaya meruntuhkan peradaban Iran.
"Pihak Barat ingin menghancurkan peradaban kita dan membawa kita kembali ke 'Zaman Batu'. Namun, mereka harus tahu bahwa Iran tidak pernah memulai konflik."
"Kami tidak menyerang negara manapun, kami hanya membela hak nasional kami," ungkap Pezeshkian.
Dalam kesempatan itu, Pezeshkian juga memuji kesiapan Angkatan Bersenjata Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij.
Menurutnya, kemampuan militer Iran saat ini telah melampaui prediksi para analis internasional dan menjadi garda terdepan dalam merespons ancaman luar.
Dirinya juga mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk para atlet dan tokoh publik, untuk merapatkan barisan.
Pezeshkian menekankan pentingnya persatuan nasional dan identitas bangsa sebagai senjata utama melawan tekanan asing.
(Tribunnews.com/Whiesa)