TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat memperluas operasi militernya di perairan internasional.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya pengetatan blokade terhadap jalur suplai maritim Iran yang semakin agresif dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah laporan menyebutkan kapal-kapal yang terafiliasi dengan Iran kini menjadi target pengawasan dan pengejaran di berbagai rute pelayaran global.
Operasi ini tidak hanya terfokus di Teluk Persia, tetapi juga meluas hingga Samudra Hindia dan jalur perdagangan strategis dunia.
Washington menegaskan kebijakan tersebut sebagai langkah untuk menekan aktivitas maritim yang dianggap mengancam keamanan internasional.
Sementara itu, Iran mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk provokasi dan pelanggaran hukum laut internasional.
Situasi di lapangan semakin memanas setelah beberapa insiden saling kejar antara kapal perang kedua negara dilaporkan terjadi.
Dampaknya mulai terasa pada stabilitas pasar energi global yang ikut bergejolak akibat ketidakpastian jalur distribusi minyak.
Para analis menilai eskalasi ini berpotensi membuka babak baru konflik laut yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Baca juga: Ancaman Besar! Houthi Tegaskan Siap Blokade Selat Bab el-Mandeb Jika AS Halangi Perdamaian
Seperti diketahui, Militer Amerika Serikat (AS) tengah bersiap untuk melakukan tindakan tegas terhadap kapal-kapal tanker minyak yang berafiliasi dengan Iran.
AS berencana menaiki hingga menyita kapal-kapal komersial tersebut di perairan internasional dalam beberapa hari ke depan.
Langkah ini diambil menyusul tindakan militer Iran yang kian memperketat kendali di Selat Hormuz.
Pada Sabtu (18/4/2026), Iran dilaporkan menyerang beberapa kapal komersial setelah mengeklaim jalur air strategis tersebut berada di bawah pengawasan ketat mereka.
Kebijakan pemerintahan AS untuk meningkatkan tekanan ekonomi ini bertujuan memaksa Teheran segera membuka kembali Selat Hormuz serta memberikan konsesi terkait program nuklirnya.
Menurut Komando Pusat AS (Centcom), pasukannya telah memulangkan 23 kapal yang berupaya meninggalkan pelabuhan Iran sebagai bagian dari blokade.
Perluasan kampanye ini akan memungkinkan AS untuk mengendalikan kapal-kapal yang terkait dengan Iran di seluruh dunia.
Ini termasuk armada yang membawa minyak Iran yang sudah berlayar di luar Teluk Persia dan kapal-kapal yang membawa senjata yang dapat mendukung rezim Iran.
"AS akan secara aktif mengejar setiap kapal berbendera Iran atau kapal apa pun yang berupaya memberikan dukungan material kepada Iran,” kata Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, dikutip The Wall Street Journal, Sabtu (18/4/2026).
“Ini termasuk kapal armada gelap yang membawa minyak Iran. Seperti yang sebagian besar dari Anda ketahui, kapal armada gelap adalah kapal-kapal ilegal atau terlarang yang menghindari peraturan internasional, sanksi, atau persyaratan asuransi,” sambungnya.
Langkah tersebut akan menjadi babak baru dari kampanye tekanan AS terhadap Teheran.
Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly mengatakan, Presiden AS Donald Trump optimistis, langkah ini akan membantu memfasilitasi kesepakatan perdamaian.
Upaya untuk meningkatkan tekanan ekonomi dilakukan menjelang berakhirnya gencatan senjata sementara antara kedua pihak minggu depan.
Perundingan yang diadakan akhir pekan lalu di Pakistan berakhir tanpa terobosan dan putaran negosiasi selanjutnya belum ditetapkan.
Kedua belah pihak telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi kemungkinan pertempuran kembali terjadi, meskipun tampaknya tidak ada pihak yang ingin memulai kembali perang.
Iran telah menyimpan ribuan rudal jarak menengah dan pendek dan sedang mengambil peluncur rudal dari area penyimpanan bawah tanah.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menuturkan, pasukan AS bersiap secara maksimal untuk melanjutkan operasi militer jika perundingan gagal.
Namun, para pejabat pemerintahan Trump tampaknya tidak ingin menggunakan pasukan darat, sebuah opsi yang dapat menimbulkan korban jiwa di pihak AS dan tidak populer di kalangan sebagian besar masyarakat Amerika.
Hegesth menekankan bahwa menyerang pembangkit listrik Iran masih merupakan pilihan.
Namun, langkah tersebut juga akan menimbulkan risiko besar, karena dapat menyebabkan Teheran membalas terhadap infrastruktur energi di Teluk.
Hal itu telah meningkatkan tekanan ekonomi karena Gedung Putih berupaya mencari penyelesaian dan jalan keluar dari konflik tersebut.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)