TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang diumumkan PT Pertamina (Persero) per 18 April 2026 mulai memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku usaha, termasuk di Provinsi Gorontalo.
Wakil Ketua DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Gorontalo, Abdulrahim Umar, menegaskan bahwa dampak kenaikan ini terasa secara langsung, terutama pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap mobilitas dan logistik.
“Kenaikan BBM non-subsidi (Dexlite/Pertamina Dex) langsung menaikkan biaya logistik dan distribusi usaha,” ujar Abdulrahim, Senin (20/4/2026).
Baca juga: Harga BBM Gorontalo Terbaru 20 April 2026, Pertamax hingga Dex Tembus Segini
Menurutnya, lonjakan biaya tersebut tidak bisa dihindari karena BBM merupakan komponen utama dalam rantai distribusi barang dan jasa.
Ketika biaya Distribusi meningkat, maka secara otomatis akan memengaruhi harga akhir yg diterima konsumen.
Lebih lanjut, Abdulrahim mengungkapkan bahwa beberapa sektor usaha berada dalam posisi paling rentan terhadap dampak kenaikan ini.
Sektor logistik dan transportasi menjadi yang paling terdampak, diikuti oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki keterbatasan dalam menyerap kenaikan biaya produksi.
“Sektor logistik, transportasi, dan UMKM paling terpukul. Potensi penurunan produktivitas cukup tinggi dengan kenaikan biaya produksi berkisar 10–40 persen,” jelasnya.
Kenaikan biaya produksi tersebut, kata dia, tidak hanya berpotensi menekan margin keuntungan, tetapi juga dapat menurunkan kapasitas produksi dan layanan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada menurunnya daya saing usaha di tingkat daerah.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku usaha dihadapkan pada dilema yang tidak mudah.
Di satu sisi, mereka berupaya menjaga stabilitas harga agar tetap kompetitif di pasar. Namun di sisi lain, beban biaya yang terus meningkat membuat ruang untuk bertahan semakin sempit.
“Pelaku usaha hanya mampu menahan beban biaya dalam jangka waktu sangat pendek. Sebagian besar akan terpaksa membebankan kenaikan (menaikkan harga) ke konsumen agar bisnis tetap jalan,” tegas Abdulrahim.
Ia menambahkan, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi kebijakan yang tepat, maka bukan tidak mungkin akan muncul langkah-langkah efisiensi ekstrem dari pelaku usaha, seperti pengurangan jam operasional hingga rasionalisasi/PHK tenaga kerja.
Dampak lanjutan lainnya adalah penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah.
Apindo Gorontalo pun mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk meredam dampak kenaikan BBM nonsubsidi.
Kepastian kebijakan harga, kelancaran distribusi energi, serta pengendalian inflasi dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Sebagai informasi penyesuaian harga yang cukup signifikan pada sejumlah jenis BBM, seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dinilai akan berdampak langsung pada struktur biaya operasional berbagai sektor usaha.
Berdasarkan data dari laman resmi mypertamina.id, harga Pertamax Turbo kini naik menjadi Rp 19.400 per liter dari sebelumnya Rp 13.100.
Sementara Dexlite melonjak menjadi Rp 23.600 per liter dari Rp 14.200, dan Pertamina Dex naik menjadi Rp 23.900 per liter dari sebelumnya Rp 14.500.
Di sisi lain, Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak mengalami perubahan harga.
Kondisi ini terjadi setelah sebelumnya Pertamina menahan harga BBM pada awal April 2026 meski tekanan harga energi global meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
Namun, penyesuaian yang akhirnya dilakukan justru memunculkan efek kejut, terutama bagi pelaku usaha yang sangat bergantung pada BBM nonsubsidi untuk aktivitas distribusi dan produksi. (*)