TRIBUNGORONTALO.COM -- Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG nonsubsidi yang terjadi dalam waktu berdekatan memicu keresahan di kalangan masyarakat kelas menengah.
Kelompok ini berada pada posisi sulit tidak berhak menerima subsidi, namun juga terdampak langsung oleh kenaikan harga energi yang terus merangkak naik.
Situasi semakin menekan karena penyesuaian harga dilakukan hampir bersamaan tanpa sosialisasi yang memadai.
Baca juga: Harga BBM Gorontalo Terbaru 20 April 2026, Pertamax hingga Dex Tembus Segini
Terutama pada LPG nonsubsidi, kenaikan harga membuat pengeluaran rumah tangga meningkat signifikan.
Beban ini terasa makin berat karena di saat yang sama, harga kebutuhan pokok juga ikut melonjak.
Lydia (34), warga Jabodetabek, mengaku kaget saat mengetahui harga gas 12 kg kembali naik.
Baca juga: Update Harga Emas 20 April 2026: Antam, UBS, Galeri 24 Kompak Tak Bergerak
Ia menilai, meskipun LPG jenis ini ditujukan untuk masyarakat mampu, pada praktiknya banyak digunakan oleh kalangan menengah.
“Yang pakai 12 kg sih mampu, tapi bukan crazy rich. Banyak golongan tengah, dibilang miskin sih tidak, dibilang kaya apalagi, jadi ya kita juga kaget pas naik,” ujarnya di Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026).
Menurut Lydia, beban semakin terasa karena lingkungan tempat tinggalnya sudah beralih ke Bright Gas yang harganya lebih tinggi dibandingkan LPG subsidi 3 kg.
Ia bahkan menyebut harga terakhir yang dibelinya mencapai Rp200.000 per tabung dan khawatir akan terus naik.
Ia sempat berpikir untuk kembali menggunakan LPG subsidi 3 kg, namun distribusinya di wilayah Cikarang dinilai terbatas.
Kondisi ini membuatnya dilema di satu sisi ingin berhemat, namun di sisi lain akses terhadap gas subsidi tidak mudah.
“Mau banget sih balik ke 3 kg. Tapi di tempat tinggal saya di Cikarang susah dapetinnya. Di satu sisi paham lah lagi krisis, tapi jangan nyusahin rakyat juga,” katanya.
Tekanan ekonomi ini, lanjut Lydia, membuat masyarakat harus memutar otak dalam mengatur pengeluaran.
Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik di SPBU Gorontalo, Pengendara Terkejut
Bahkan, kebutuhan sehari-hari lain ikut terdampak.
“Mau berhenti beli gas, jadinya beli makan aja. Eh tapi plastiknya mahal, kanan kiri kena deh,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan Ismail Alburji (40). Ia merasa kenaikan harga LPG 12 kg cukup memberatkan anggaran rumah tangganya.
“Kalau naik sedikit mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau terus-terusan naik ya berat juga. Pengeluaran bulanan jadi semakin besar,” ujarnya.
Ismail menilai posisi kelas menengah kerap terabaikan.
Tidak mendapat subsidi, namun terus dibebani kenaikan harga.
“Kita ini di tengah-tengah. Tidak pakai subsidi, tapi jangan naikin harga terus-terusan,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi atau kebijakan pengendalian harga agar tekanan terhadap masyarakat tidak semakin besar.
Baca juga: Resmi! Terjadi Kenaikan Harga BBM di Gorontalo, Begini Pantauannya di SPBU
Hal senada diungkapkan Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat.
Ia mengaku baru mengetahui kenaikan harga gas dan langsung merasakan dampaknya.
“Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp40.000 kan, berasa juga kenaikannya,” ujarnya.
Michael menilai kenaikan harga energi biasanya akan diikuti kenaikan harga barang lain di pasaran.
Ia bahkan sudah memperkirakan tren ini, melihat dinamika global seperti konflik geopolitik yang berdampak pada energi.
“Sebenarnya sudah expected sih, karena lumayan ngikutin harga tiket pesawat yang bergantung sama avtur. Terus harga baru Pertamax Dex dan Pertamax Turbo yang naiknya jauh banget, jadi pasti gas nyusul,” jelasnya.
Sementara itu, Pudji (50), yang telah lama menggunakan LPG nonsubsidi, juga merasakan tekanan yang semakin berat. Ia menilai kenaikan harga saat ini terjadi di waktu yang kurang tepat, ketika kondisi ekonomi masyarakat sedang tidak stabil.
“Kalau begini kan berat ya, pengeluaran jadi membengkak, menyulitkan lah gitu,” katanya.
Pudji berharap pemerintah dapat mengendalikan harga kebutuhan pokok agar tidak terus meningkat di tengah ketidakpastian global.
“Ya semoga bisa terkendali lagi lah, enggak naik-naik terus biar enggak semakin menyusahkan,” ujarnya.
Terdesak kondisi, sebagian warga mulai mempertimbangkan kembali penggunaan LPG subsidi 3 kg.
Michael, misalnya, mengaku akan beralih sementara karena masih memiliki tabung subsidi, meski sadar distribusinya sering tidak stabil.
Di sisi lain, Pudji mulai melirik LPG ukuran 5,5 kg sebagai alternatif agar pengeluaran tidak terus membengkak. Ia juga berupaya menghemat pemakaian gas dalam keseharian.
Berdasarkan data dari Pertamina Patra Niaga per 19 April 2026, harga Bright Gas 12 kg di wilayah Jawa seperti Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai sekitar Rp228.000 per tabung, naik dari sebelumnya sekitar Rp192.000.
Di wilayah Sumatera seperti Aceh hingga Jambi, harga bahkan menyentuh Rp230.000 per tabung.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa LPG 12 kg merupakan produk nonsubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat mampu.
“Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Orang mampu kan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap hadir membantu masyarakat, namun prioritas subsidi diberikan kepada kelompok kurang mampu.
Sementara itu, harga LPG nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar.
Bahlil juga memastikan bahwa harga LPG subsidi 3 kg tidak mengalami kenaikan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, ia mengingatkan agar masyarakat mampu tidak menggunakan LPG subsidi, sehingga penyaluran bantuan tetap tepat sasaran. (*)