Jakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 20 Rukun Tetangga (RT) di Jakarta Timur pada Senin pagi hingga pukul 09.00 WIB terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 180 sentimeter (cm) di titik tertinggi.

"Data genangan dan banjir di Kota Jakarta Timur hari ini kondisi sampai dengan pukul 09.00 WIB, jumlah kecamatan terdampak ada dua, dengan kelurahan terdampak tiga, sebanyak 11 RW, 20 RT," kata Kepala Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Kota Administrasi Jakarta Timur Rangga Bima Setiawan saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurut dia, banjir mulai terjadi sejak dini hari dan mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa jam.

"Banjir mulai terjadi sekitar pukul 03.00 WIB dengan ketinggian awal berkisar 20 hingga 50 cm. Namun, air terus meningkat hingga pagi hari di sejumlah titik," ujar Rangga.

Wilayah terdampak banjir itu tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Jatinegara dan Kecamatan Kramat Jati, yang mencakup tiga kelurahan utama, yaitu Kampung Melayu, Cawang, dan Cililitan, serta sebagian wilayah Bidara Cina

Di Kelurahan Kampung Melayu, tepatnya di Jalan Kebon Pala II, RW 04 dan RW 05, ketinggian air meningkat dari 50 cm pada pukul 03.00 WIB menjadi 150 cm lebih pada pukul 09.00 WIB. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah titik lain dengan kenaikan air yang cukup cepat.

Sementara itu, titik banjir terparah terjadi di Jalan Tanjung Lengkong, Gang Macan, RW 07, Kelurahan Bidara Cina.

"Ketinggian air sempat mencapai 180 sentimeter pada pukul 07.00 WIB sebelum berangsur turun menjadi 140 sentimeter pada pukul 09.00 WIB," ucap Rangga.

Di wilayah Kecamatan Kramat Jati, seperti di Kelurahan Cawang dan Cililitan, banjir juga mengalami peningkatan sejak dini hari.

Di Jalan Taman Harapan dan Jalan Raya Kalibata, Gang Haji Maliki, ketinggian air mencapai 150 cm pada pagi hari, sedangkan di beberapa titik di Cililitan, genangan berkisar antara 30 hingga 70 cm.

Secara keseluruhan, banjir tersebut berdampak pada 11 RW dan 20 RT, dengan jumlah warga terdampak mencapai 705 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.259 jiwa.

"Untuk sementara, belum ada warga yang mengungsi. Warga masih bertahan di rumah masing-masing sambil memantau kondisi air," jelas Rangga.

Dia menyebutkan pihaknya terus melakukan pemantauan di lokasi terdampak serta menyiagakan personel untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan air.

"Kami mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi," tutur Rangga.

Sebelumnya, BPBD DKI mengeluarkan peringatan dini potensi banjir rob yang diperkirakan terjadi pada 17 hingga 23 April 2026 di sejumlah kawasan pesisir utara Jakarta.

Potensi rob itu dipicu oleh fenomena fase bulan baru pada 17 April 2026 dan perigee pada 19 April 2026 yang berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD DKI menyiagakan layanan darurat 112 yang dapat dihubungi masyarakat apabila terjadi kondisi kedaruratan. Masyarakat juga dapat memantau perkembangan peringatan dini gelombang pasang melalui kanal resmi BPBD dan situs pemantauan banjir milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.