TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Dexalite dikeluhkan para sopir Hilux lintas Manokwari–Teluk Bintuni karena dinilai sangat memberatkan biaya operasional harian.
Salah satu sopir Hilux lintas Manokwari–Bintuni, Bakri, mengatakan harga Dexalite di Manokwari Papua Barat yang kini mencapai Rp24.150 per liter.
Kenaikan harga yang signifikan ini membuat pengeluaran bahan bakar meningkat drastis, terutama saat mereka tidak mendapatkan biosolar.
“Kalau tidak dapat biosolar, terpaksa isi Dexalite. Sekarang harganya sekitar Rp24.150, sebelumnya hanya Rp16.500. Dampaknya sangat berpengaruh sekali,” ujarnya kepada Tribunpapuabarat.com, Senin (20/4/2026).
Dengan kapasitas tangki sekitar 60 liter, biaya pengisian penuh yang sebelumnya berkisar Rp800 ribu kini melonjak menjadi lebih dari Rp1 juta.
“Kalau dulu isi full tank sekitar Rp800 ribu, sekarang bisa lebih dari Rp1 juta. Sementara sekali jalan paling dapat sekitar Rp2 juta,” jelasnya.
Baca juga: Aksi Mogok, Komunitas Sopir Hilux Manokwari–Bintuni Tolak Kehadiran Travel Transnusa
Menurut Bakri, sebagian besar pendapatan habis untuk biaya bahan bakar sehingga sisa penghasilan yang dibawa pulang sangat minim.
“Kalau dapat Rp2 juta, habis isi Dexalite tinggal sekitar Rp400 ribu. Jadi sangat terasa sekali dampaknya,” katanya.
Ia menambahkan, para sopir bahkan rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan biosolar yang lebih murah guna menekan biaya operasional.
Namun, kenaikan harga BBM tersebut belum diikuti dengan penyesuaian tarif penumpang.
“Untuk sementara belum ada kenaikan tarif penumpang. Kita masih pakai harga lama,” ujarnya.
Bakri juga mengungkapkan jumlah penumpang lintas Manokwari–Teluk Bintuni cenderung menurun. Sopir kini lebih banyak mengandalkan angkutan barang.
“Sekarang lagi sepi. Kalau penumpang kadang hanya satu dua orang saja,” ungkapnya.
Baca juga: Update Harga BBM di Papua Barat Terbaru, Pertamax hingga Pertalite
Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh semakin baiknya infrastruktur jalan, sehingga masyarakat lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi dan motor.
“Sekarang jalan sudah bagus, jadi mobil kecil dan motor juga sudah banyak yang melintas,” tambahnya.
Bakri berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali harga Dexalite agar lebih terjangkau bagi sopir angkutan.
“Kalau bisa harga Dexalite diturunkan. Kalau di kisaran Rp15 ribu masih bisa, tapi kalau di atas Rp20 ribu itu sangat berat bagi kami,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa adanya kebijakan yang meringankan, para sopir akan semakin kesulitan bertahan di tengah tingginya biaya operasional dan menurunnya jumlah penumpang.